"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Festival Cap Go Meh di SCBD, simbol harmoni Indonesia

Festival Cap Go Meh 2026: Kekayaan Budaya yang Menjadi Simbol Harmoni

Festival Cap Go Meh 2026 dengan tema “Ride to Luck” bukan hanya sekadar perayaan budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol harmoni dalam keberagaman Indonesia. Perayaan ini digelar di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) dan menggabungkan unsur budaya Tionghoa, Betawi, serta Islam dalam satu acara yang mencerminkan persatuan dan toleransi.

Ananta Pribadi, Direktur PT Creative Event Entertainment (CEE), menjelaskan bahwa festival ini bertujuan untuk menegaskan bahwa keberuntungan tidak hanya terkait dengan simbol atau tradisi, tetapi juga tentang kebersamaan, harmoni, dan optimisme dalam menghadapi masa depan. Acara ini diselenggarakan di SCBD Park dan SCBD Weekland pada hari Ahad, 1 Maret 2026.

Cap Go Meh biasanya dirayakan pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, yang tahun ini seharusnya jatuh pada 3 Maret 2026. Namun, perayaan kali ini dimajukan menjadi 1 Maret 2026 karena adanya festival khusus bertajuk “Cap Go Meh Ride to Luck” yang telah berlangsung sejak 16–17 Februari lalu.

Tema “Ride to Luck” dipilih karena tahun ini merupakan Tahun Kuda Api. Melalui tema tersebut, penyelenggara ingin mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengejar keberuntungan dan bergerak menuju hal yang lebih baik.

Perayaan tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan bulan Ramadan, yang memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi. Dengan partisipasi masyarakat yang tinggi serta kolaborasi budaya yang kaya, festival ini menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan budaya dapat menjadi sumber kekuatan dan keberuntungan bersama.

Integrasi Budaya Tionghoa, Betawi, dan Islam

Festival ini mengusung paradigma budaya yang melibatkan tiga unsur utama, yaitu budaya Tionghoa, budaya Betawi, dan budaya Islami. Melalui integrasi ketiga unsur budaya tersebut, penyelenggara ingin menegaskan bahwa keberuntungan sejati lahir dari kedamaian, persatuan, dan keberagaman.



Penampilan ondel-ondel saat mengikuti parade seni pada puncak perayaan Lunar New Year 2026 bertajuk Ride To Luck – Cap Go Meh Festival di kawasan SCBD, Jakarta, Ahad (1/3/2026). Mengusung tema Ride To Luck, perayaan tahun ini menjadi momen langka sekaligus wujud nyata toleransi, ketika semangat Imlek dan Cap Go Meh berjalan beriringan dengan keberkahan Ramadan. Perayaan ini menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya yang sarat nilai keberagaman dan akulturasi budaya Nusantara, sekaligus menjadi momentum untuk mempererat harmoni dalam keberagaman.

Festival Cap Go Meh ini sejalan dengan visi SCBD sebagai kawasan inklusif yang terbuka bagi semua kalangan tanpa batasan. Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah pengunjung yang melebihi target awal sebesar 10 ribu orang selama kegiatan berlangsung.

Kolaborasi Budaya yang Menarik Perhatian

Menurut Ananta, festival ini dirancang sebagai festival kebudayaan yang menonjolkan kolaborasi dan inklusivitas. Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati dan memahami kekayaan budaya yang ada di Indonesia, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.

Salah satu daya tarik utama festival ini adalah parade dan pertunjukan budaya yang menampilkan kolaborasi berbagai unsur seni tradisional. Parade dibuka dengan pasukan berkuda yang memberikan nuansa seremonial dan simbolik.

Selain itu, ditampilkan pula berbagai tarian dan seni pertunjukan dari budaya Tionghoa, seperti tari, bela diri, hingga barongsai yang berpadu dengan ondel-ondel sebagai simbol khas budaya Jakarta. Kolaborasi lintas budaya juga terlihat dalam perpaduan alat musik genderang Tionghoa dengan rebana, yang menciptakan harmoni unik antara tradisi Tionghoa dan tradisi Islam.

Penonton juga dapat menyaksikan pertunjukan barongsai dan liong yang bergerak dinamis, berpadu dengan gerakan ondel-ondel, menciptakan simbol persatuan budaya Tionghoa dan budaya nasional Indonesia. Acara ini menunjukkan betapa pentingnya kerja sama dan penghargaan terhadap keberagaman dalam membangun harmoni sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *