"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Impor Minyak Terbesar RI Datang dari Singapura dan Malaysia



JAKARTA – Pemerintah sedang mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dari wilayah Timur Tengah, setelah terjadinya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang didukung oleh Israel. Konflik ini telah menyebabkan ketidakstabilan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah, yang berdampak langsung pada rantai pasok energi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui bahwa situasi ini akan memengaruhi pasokan minyak mentah yang biasanya berasal dari negara-negara Timur Tengah. Ia menekankan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi tersebut.

“Kita lihat seberapa jauh pertempuran ini akan terus berlanjut,” ujar Airlangga dalam pernyataannya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Untuk mengurangi risiko gangguan pasokan, pemerintah telah menjajaki kerja sama dengan beberapa negara di luar kawasan Timur Tengah. Salah satu contohnya adalah PT Pertamina (Persero), yang telah menjalin kesepakatan dengan perusahaan energi asal AS seperti Chevron dan ExxonMobil.

Airlangga juga menyatakan bahwa pemerintah bersikap terbuka terhadap kemungkinan impor minyak dari Rusia. Namun, ia menekankan bahwa kebijakan ini akan tetap didasarkan pada ketersediaan pasokan di pasar global.

“Kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” tambahnya.

Impor Minyak Indonesia

Berdasarkan data yang dirangkum, Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan Timur Tengah. Dua negara utama yang menjadi sumber BBM adalah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Selama periode 2021 hingga 2025, total impor BBM dengan kode HS 27 dari Arab Saudi mencapai 26,87 juta ton atau senilai US$16,9 miliar. Mayoritas impor ini dialirkan ke Cilacap, dengan volume sebesar 18,75 juta ton atau senilai US$11,3 miliar. Sementara itu, impor BBM ke Tanjung Leneng, Banten mencapai 5,17 juta ton atau senilai US$3,69 miliar.

Dari UEA, impor BBM selama lima tahun terakhir mencapai 11,06 juta ton atau senilai US$7,04 miliar. Aliran BBM impor dari UEA terutama menuju ke Merak, Balikpapan, Belawan, dan Kalbut di Situbondo, Jawa Timur.

Selain Arab Saudi dan UEA, negara-negara lain di kawasan Teluk Persia seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman juga memberikan kontribusi dalam impor BBM Indonesia. Data menunjukkan bahwa dari Qatar, impornya mencapai 4,91 juta ton atau senilai US$3,2 miliar. Sementara itu, dari Bahrain, jumlahnya sebesar 1,06 juta ton (US$666 juta), Kuwait sebanyak 1,84 juta ton (US$1,02 miliar), dan Oman sebesar 1,64 juta ton atau senilai US$1,2 miliar.

Meskipun Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada negara-negara Teluk, impor BBM terbesar justru berasal dari Singapura dan Malaysia. Total impor BBM dari Singapura selama lima tahun terakhir mencapai 65,24 juta ton atau senilai US$49,22 miliar. Sedangkan dari Malaysia, jumlahnya mencapai 34,1 juta ton atau sekitar US$25,42 miliar.

Dampak Harga Minyak Global

Peningkatan harga minyak mentah dunia akibat konflik antara AS-Israel dan Iran telah memicu kenaikan harga secara signifikan. Harga minyak Brent melonjak hingga 13% ke level sekitar US$82 per barel. Menurut Bloomberg, harga minyak Brent untuk kontrak Mei melompat 12% ke level US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi waktu Singapura. Hal ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia, terlebih jika harga minyak terus meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *