Kebaya Bordir Encim Tasikmalaya Jadi Tren Busana Lebaran 2026
Kebaya bordir Encim Tasikmalaya kini menjadi tren busana Lebaran 2026 dengan desain modern yang menarik minat masyarakat, bahkan hingga pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Produk ini diproduksi oleh Pratiwi Collection, sebuah usaha milik Eva Pratiwi dan suaminya, Angga.
Harga kebaya tersebut terbilang terjangkau, berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp150 ribu, sehingga cocok untuk berbagai kalangan, mulai dari kelas ekonomis hingga menengah. Meskipun produksi baru berjalan selama enam bulan, permintaan terhadap produk ini sangat tinggi. Bahkan, penjualan online mencapai sekitar 100 pesanan per hari.
Keberhasilan Kebaya Bordir Encim
Kebaya bordir Encim tidak hanya menjadi tren musiman, tetapi juga simbol pertemuan antara tradisi, kreativitas, teknologi, budaya, dan ekonomi. Modelnya yang bervariasi membuat kebaya ini menjadi pilihan utama bagi masyarakat saat Lebaran. Selain itu, kebaya ini juga menjadi simbol keharmonisan keluarga dalam merayakan hari raya.
Produksi kebaya ini meningkat drastis, tidak hanya di wilayah Priangan Timur, tetapi juga di berbagai kota di Indonesia serta pasar luar negeri. Angga, salah satu pemilik Pratiwi Collection, menjelaskan bahwa kebaya ini hadir sebagai alternatif busana lebaran yang elegan dengan harga terjangkau.
Awal Mula Produksi Kebaya Encim
Sebelum memproduksi kebaya Encim, usaha ini awalnya fokus pada mukena dan baju koko. Namun, melihat peluang pasar yang menginginkan busana tradisional dengan tampilan modern, mereka melakukan eksperimen desain kebaya Encim. Hasilnya sangat mengejutkan, karena desain tersebut mendapat respons luar biasa menjelang Lebaran 2026.
“Kebaya bordir Encim mempertahankan model klasik, tapi dengan inovasi warna dan desain sehingga terlihat lebih segar dan menawan. Detail bordir memberikan kesan berkelas,” ujar Angga.
Proses Produksi dan Penjualan
Proses produksi kebaya Encim dilakukan di rumah produksi kecil yang dikelola oleh sembilan orang pekerja. Mereka menangani proses dari pemotongan kain, bordir, jahit, hingga packing. Produksi mencapai ribuan potong per minggu.
Penjualan dilakukan melalui marketplace, dan lonjakannya sangat drastis. Dalam sehari saja, rata-rata ada 100 pesanan. Padahal, usaha ini baru berjalan enam bulan di marketplace, tetapi grafik penjualan cukup membantu.
Pengaruh Konflik Timur Tengah
Angga mengaku sampai sekarang belum terdampak oleh konflik Timur Tengah, karena pembelian bahan masih aman. “Saat ini aman, karena kebutuhan kita sudah penuh dan punya stok, masih aman. Tapi kalau berkepanjangan konflik ini pasti ada dampaknya,” jelasnya.
Ia juga harus membeli bahan baku seperti aksesoris dari China yang lebih murah dan banyak model. “Hanya kurs rupiah akan berpengaruh, kita belum beli bahan banyak, paling sesudah lebaran, biasanya distributor akan menaikan harga bahan baku,” tambahnya.
Harapan untuk Kondisi yang Lebih Baik
Angga berharap konflik Timur Tengah dapat segera selesai, karena dampaknya meluas hingga sektor usaha di Tasik dan daerah lain. “Tentunya kita berharap konflik Timur Tengah dapat segera usai,” tuturnya.











