"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Lebih dari Takjil: SDN 58 Tanete Bulukumba Ajarkan Arti Berbagi dalam Tradisi Tahunan

Tradisi Ramadhan yang Menyentuh Hati di SDN 58 Tanete

Di depan SDN 58 Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ratusan anak berdiri berbaris tertib di tepi jalan. Meski diguyur hujan seharian dan sisa rintik hujan masih sesekali membasahi, mereka tetap siap membagikan takjil kepada pengendara yang lewat. Di tangan mereka, kotak-kotak takjil tampak siap dibagikan.

Anak-anak itu tidak mengenakan seragam sekolah seperti biasanya. Anak laki-laki memakai baju koko dengan warna beragam—putih, krem, hingga hijau muda—sebagian dilengkapi peci hitam yang sedikit kebesaran di kepala mereka. Anak perempuan mengenakan busana muslimah dengan warna lembut. Jam menunjukkan pukul 16.00 WITA pada Jumat sore, 6 Maret 2026. Beberapa sepeda motor dan mobil mulai melambat ketika melihat anak-anak berdiri di pinggir jalan.

“Silakan, om, untuk berbuka puasa,” kata seorang siswa sambil menyodorkan sebungkus takjil. Seorang pengendara menerima takjil itu dengan senyum lebar sebelum melanjutkan perjalanan. Di sisi lain jalan, beberapa guru mengawasi dengan wajah tenang, memastikan kegiatan berjalan tertib.

Suasana sederhana itu terlihat seperti kegiatan sosial biasa. Namun bagi SDN 58 Tanete, momen tersebut adalah tradisi yang selalu kembali setiap Ramadhan. Tradisi Ramadhan yang terjaga dari tahun ke tahun.

Kepala Sekolah: Tradisi Tahunan yang Berharga

Kepala SDN 58 Tanete, Nasrul, S.Pd., M.Pd., berdiri di dekat gerbang sekolah sambil memperhatikan murid-muridnya membagikan takjil. Sesekali ia menyapa warga yang lewat atau membantu mengatur barisan anak-anak agar tetap rapi.

Menurut Nasrul, kegiatan berbagi takjil ini bukan program baru. “Ini tradisi tahunan setiap Ramadhan di sekolah kami,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Sekolah sengaja melibatkan siswa secara langsung agar mereka merasakan sendiri pengalaman berbagi dengan masyarakat.

“Kami ingin anak-anak belajar bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang berbagi dengan orang lain,” kata Nasrul. Di banyak tempat di Bulukumba, tradisi berbagi takjil memang menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan. Kegiatan berbagi makanan berbuka sering dilakukan oleh komunitas, organisasi sosial, hingga lembaga pendidikan sebagai bentuk solidaritas sosial selama bulan puasa.

Keterlibatan Langsung Anak-Anak

Di SDN 58 Tanete, kegiatan itu terasa lebih personal. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta pasif. Mereka terlibat langsung—memegang kotak takjil, menyapa orang yang lewat, hingga menyerahkan makanan itu dengan tangan mereka sendiri. Di sela kegiatan, beberapa siswa tampak saling bercanda. Tetapi setiap kali ada kendaraan melambat, mereka kembali fokus.

Bagi sebagian dari mereka, ini mungkin pengalaman pertama berbagi makanan kepada orang yang tidak mereka kenal. Menjelang pukul 17.30 WITA, persediaan takjil mulai menipis. Lalu lintas di depan sekolah juga semakin ramai menjelang waktu berbuka.

Dari Jalan Raya ke Ruang Kebersamaan

Anak-anak perlahan kembali ke halaman sekolah. Kotak-kotak kosong dikumpulkan, sementara guru-guru mengarahkan siswa untuk masuk ke area aula sederhana di dalam sekolah. Di sana, suasana berubah. Jika di luar mereka sibuk berdiri di pinggir jalan, kini anak-anak duduk berkelompok bersama teman-teman mereka.

Makanan berbuka sudah disiapkan. Kurma, kue tradisional, dan minuman manis tersusun rapi. Beberapa menit sebelum adzan Maghrib, suasana menjadi lebih tenang. Anak-anak yang tadi berlarian kini duduk menunggu dengan sabar.

Bagi banyak sekolah, kegiatan buka puasa bersama mungkin hanya agenda tahunan. Tetapi di SDN 58 Tanete, rangkaian acara ini disusun sebagai satu pengalaman utuh: berbagi terlebih dahulu dengan masyarakat, lalu merasakan kebersamaan di lingkungan sekolah.

Pendidikan yang Tidak Selalu Ada di Buku Pelajaran

Begitu suara adzan Maghrib berkumandang dari masjid terdekat, suasana berubah hangat. Anak-anak mulai berbuka, dengan makanan dan minuman yang mereka bawa masing-masing dari rumah. Setelah itu, mereka beranjak untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.

Bagi anak-anak itu, mungkin ini hanya bagian dari kegiatan Ramadhan di sekolah. Tetapi bagi para guru, momen tersebut menyimpan makna yang lebih dalam. Nasrul percaya bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Beberapa nilai, katanya, justru lebih mudah dipahami anak-anak melalui pengalaman langsung.

“Ketika mereka memberikan takjil kepada orang lain, mereka belajar tentang kepedulian,” kata Nasrul. Ia menambahkan bahwa kegiatan seperti ini juga memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat sekitar. Warga yang melintas di depan sekolah sering kali menyapa atau sekadar melambaikan tangan kepada para siswa. Sebagian bahkan berhenti sebentar untuk mengucapkan terima kasih.

Pengalaman Sosial yang Berdampak Besar

Dalam konteks pendidikan dasar, pengalaman sosial seperti ini memiliki dampak yang cukup besar. Banyak penelitian pendidikan menekankan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman—atau experiential learning—dapat membantu anak memahami nilai moral secara lebih nyata. Dengan kata lain, berbagi takjil di tepi jalan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi anak-anak, itu bisa menjadi pelajaran tentang empati yang tidak mudah dilupakan.

Ketika langit mulai gelap dan kegiatan di sekolah perlahan berakhir, halaman SDN 58 Tanete kembali tenang. Namun tradisi itu belum selesai. Besok, atau mungkin tahun depan, kegiatan serupa akan kembali dilakukan. Ramadhan akan selalu datang membawa suasana yang sama: senja, jalan kecil di depan sekolah, dan anak-anak yang berdiri dengan kotak takjil di tangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *