Proyek Pembangunan Fasilitas Penyimpanan Minyak Mentah di Sumatera
Pemerintah Indonesia sedang mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) dengan kapasitas hingga 90 hari di wilayah Sumatera. Proyek ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, terutama dalam menghadapi dinamika geopolitik dan gangguan pasokan global.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, investor untuk proyek tersebut sudah tersedia. Sumber pendanaan akan berasal dari gabungan antara investor dalam negeri dan luar negeri, tetapi tidak melibatkan partisipasi dari Amerika Serikat. Ia juga menyatakan bahwa pihak swasta bisa terlibat dalam pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut.
Fasilitas penyimpanan yang akan dibangun difokuskan untuk menyimpan minyak mentah. Dengan ketersediaan cadangan yang cukup, proses produksi bahan bakar minyak (BBM) dapat berjalan melalui kilang yang ada. Kementerian ESDM menargetkan pembangunan fasilitas baru ini dimulai pada tahun ini. Saat ini, studi kelayakan atau feasibility study (FS) masih berlangsung.
Saat ini, standar minimum nasional untuk cadangan BBM ditetapkan selama 21 hari. Meskipun rata-rata stok BBM, minyak mentah, dan LPG nasional saat ini sudah berada di atas batas minimum tersebut, kapasitas infrastruktur penyimpanan energi Indonesia masih jauh di bawah standar internasional yang biasanya mencapai 90 hari cadangan energi strategis.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai merealisasikan rencana diversifikasi impor minyak mentah dengan mendatangkan pasokan dari Amerika Serikat secara bertahap. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika geopolitik sekaligus untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Bahlil menyatakan bahwa impor minyak mentah dari AS saat ini sudah mulai berjalan, meski belum dilakukan dalam volume besar. Namun, keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan minyak mentah menjadi kendala utama untuk meningkatkan volume impor dalam waktu cepat. Oleh karena itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan fasilitas storage baru.
“Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage. Makanya kami mau buat sekarang storage,” ujar Bahlil.
Ia juga menyampaikan bahwa rencana pembangunan storage tersebut telah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan agar segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional. “Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kita butuh survival. Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau tidak kita tergantung terus,” jelasnya.
Dukungan dari Pertamina dan Ahli Energi
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa Pertamina mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk rencana peningkatan kapasitas cadangan BBM nasional. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan praktik global untuk memastikan stabilitas pasokan energi di tengah dinamika geopolitik dan gangguan rantai pasok.
Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menilai bahwa peningkatan kapasitas cadangan energi nasional memang perlu dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi negara. Ia menegaskan bahwa persediaan cadangan BBM nasional sebaiknya tidak hanya mengandalkan cadangan operasional Pertamina seperti yang berjalan selama ini. Dalam Undang-Undang Energi juga telah diamanatkan pembentukan Cadangan Penyangga Energi Nasional.
“Nah itu wujudnya salah satunya adalah fasilitas penyimpanan atau storage BBM,” ujar Pri Agung.
Ia menilai semakin besar volume cadangan energi yang dimiliki suatu negara, maka ketahanan energinya juga akan semakin kuat. Namun hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan fiskal dan kebijakan energi masing-masing negara. Sebagai contoh, negara besar seperti Amerika Serikat dan China memiliki strategic petroleum reserve yang mampu menyimpan minyak mentah setara konsumsi selama tiga hingga enam bulan.
Perhitungan Biaya dan Solusi Alternatif
Praktisi migas Hadi Ismoyo menjelaskan bahwa cadangan BBM sekitar 20 hari berarti jika konsumsi terus berjalan tanpa tambahan pasokan baru, maka persediaan tersebut akan habis dalam waktu tersebut. Ia menilai cadangan sekitar 20 hari memang belum ideal, namun masih memadai karena Indonesia tidak sedang berada dalam kondisi konflik dengan negara lain.
Untuk meningkatkan cadangan energi hingga 90 hari, diperlukan tambahan cadangan sekitar 70 hari. Dengan konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, maka tambahan volume yang dibutuhkan mencapai sekitar 112 juta barel. Tambahan kapasitas tersebut setara dengan sekitar 56 unit floating storage offloading (FSO) dengan kapasitas masing-masing sekitar 2 juta barel.
Biaya sewa FSO sekitar US$ 200.000 per hari, sehingga total biaya sewa dapat mencapai sekitar US$ 11,2 juta per hari atau sekitar US$ 4,08 miliar per tahun. Jika fasilitas tersebut dibangun baru, harga satu unit FSO dapat mencapai sekitar US$ 400 juta, sehingga total kebutuhan investasi bisa mencapai sekitar US$ 22,4 miliar dengan waktu pembangunan sekitar 36 bulan.
Alternatif lain adalah membangun tank farm yang relatif lebih murah, namun membutuhkan lahan yang luas dan proses pengadaan lahan yang sering kali memakan waktu. Menurut Hadi, peningkatan cadangan energi secara bertahap mungkin lebih realistis, misalnya dari 20 hari menjadi sekitar 30 hari, mengingat ruang fiskal APBN yang terbatas.
Ia juga menyebut salah satu solusi pembangunan storage adalah melalui kerja sama dengan pihak swasta agar tidak sepenuhnya membebani anggaran negara dari sisi pembangunan infrastruktur.











