"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Edukasi Literasi Digital untuk 2.400 RW Surabaya, Tantang Judi Online dan Bullying Siberan Anak

TP PKK Surabaya Gencarkan Literasi Digital di Tingkat RW

Kota Surabaya terus berupaya mengantisipasi berbagai ancaman digital yang dapat memengaruhi anak-anak. Ancaman tersebut mulai dari judi online hingga cyberbullying. Upaya pencegahan ini dilakukan melalui gerakan edukasi literasi digital yang digelar oleh Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya di tingkat RW.

“Literasi digital itu penting. Literasi digital merupakan bentuk kepedulian seorang ibu kepada anak dan keluarganya. Ibu perlu memahami bagaimana anak menggunakan gadget sesuai kemampuan dan usianya,” ujar Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, saat dikonfirmasi.

Peran Ibu sebagai Benteng Pertama

Rini menegaskan pentingnya literasi digital bagi para ibu. Menurutnya, ibu merupakan benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai ancaman di dunia digital. Ancaman tersebut antara lain judi online (judol), pinjaman online (pinjol), hingga perundungan di dunia maya atau cyberbullying.

Ia menjelaskan, pesatnya perkembangan teknologi membuat anak semakin dekat dengan gawai. Karena itu, peran ibu tidak lagi sebatas pengasuhan konvensional di rumah. Ibu juga perlu memahami perkembangan dunia digital agar dapat mendampingi anak dengan baik.

Jalin Koordinasi dengan Perangkat Daerah

Untuk memperkuat edukasi tersebut, TP PKK Surabaya menjalin kolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah (PD). Salah satunya dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB).

Melalui program parenting Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), edukasi diberikan hingga tingkat kelurahan dan RW. “Kita mengadakan parenting Puspaga di masing-masing RW,” ujar Bunda Rini.

Materi Tentang Ancaman Ruang Digital

Dalam program tersebut, para ibu mendapatkan berbagai materi tentang ancaman di ruang digital. Materinya antara lain judi online, pinjaman online, dan cyberbullying. Selain itu, TP PKK Surabaya juga menjalankan program Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual (KILAS). Program ini berfokus pada upaya pendampingan anak agar terhindar dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang terjadi melalui media digital.

Sekolah Orang Tua Hebat

TP PKK Surabaya juga memiliki program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH). Program ini memberikan pembekalan kepada orang tua mengenai pola asuh anak. “Salah satu materinya tentang penggunaan gadget yang baik untuk anak usia 0 sampai 6 tahun,” jelasnya.

Jangkau Ribuan Warga Surabaya

Bunda Rini menyampaikan bahwa program literasi digital tersebut telah menjangkau ribuan warga Surabaya. “Ada sekitar 2.400 RW yang sudah kita datangi. Para orang tua di sana telah mendapatkan edukasi,” katanya. Menurutnya, edukasi tidak hanya penting bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. “Karena sekarang yang perlu diedukasi bukan hanya anaknya, tetapi orang tuanya juga,” ujarnya.

Kelas Remaja-Orangtua Tangguh

TP PKK Surabaya juga mengembangkan program Kelas Remaja-Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri (KEMANGI). Program ini menyasar keluarga yang memiliki anak remaja. Melalui program tersebut, orang tua dibekali cara membangun komunikasi dengan anak serta mendampingi mereka menghadapi tantangan dunia digital. “Dalam program ini juga ada materi tentang penggunaan gadget secara aman dan bijak, serta bagaimana orang tua mendampingi anak remaja menggunakan teknologi dengan baik,” kata Bunda Rini.

Cyberbullying di Media Sosial

Istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ini mengakui ancaman terhadap anak kini tidak lagi hanya terjadi secara langsung di lingkungan sekitar. Ancaman juga berkembang di ruang digital, salah satunya melalui cyberbullying di media sosial. Karena itu, TP PKK Surabaya juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk memperkuat edukasi kepada para orang tua.

Selain itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah.

Ancaman Digital Sering Luput dari Perhatian

Menurut Bunda Rini, edukasi kepada orang tua sangat penting karena ancaman digital sering luput dari perhatian. Misalnya, dalam aplikasi atau gim yang dimainkan anak terkadang muncul iklan atau konten yang tidak layak. “Salah satunya kita memberikan materi kepada orang tua tentang aplikasi-aplikasi yang perlu diawasi,” jelasnya. Ia mencontohkan, konten kekerasan sering muncul melalui iklan di dalam gim anak. Karena itu, orang tua perlu lebih waspada dan memahami potensi risiko tersebut. “Kadang ibu-ibu tidak memperhatikan. Saat anak bermain gim, bisa saja muncul iklan atau sponsor yang menampilkan konten kekerasan. Hal-hal seperti itu yang kita edukasikan kepada para orang tua,” ujarnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *