"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Mengenal Hoer Findamar, Tradisi Perahu Lailatul Qadar dari Pulau Kur

Pulau Kur: Bumi Makarah di Laut Banda

Di ujung barat Kota Tual, tersembunyi di antara luasnya Laut Banda, terdapat sebuah pulau kecil yang menyimpan kekayaan budaya dan sejarah Islam yang luar biasa. Itulah Pulau Kur, sebuah pulau yang oleh masyarakatnya sendiri disebut sebagai Bumi Makarah, merepresentasikan tempat suci Mekah di tanah Arab. Bahkan nama ‘Kur’ konon berasal dari nama kitab suci umat Islam, Al-Quran, yang kemudian dipersingkat oleh masyarakat setempat.

Penamaan ini mencerminkan betapa kentalnya pengaruh Islam yang dibawa oleh para penyiar agama dari tanah Arab sejak berabad-abad silam. Pulau ini secara geografis termasuk dalam Kecamatan Pulau-Pulau Kur, Kota Tual, Provinsi Maluku, dan merupakan wilayah terluar dengan akses yang terbatas. Untuk menjangkaunya dari Ambon, perjalanan dapat dilakukan dengan transportasi udara menuju Bandara Karel Sasisubun di Langgur, dilanjutkan dengan kapal cepat sekitar tiga jam.

Apa Itu Hoer Findamar?

Hoer Findamar yang berarti Perahu Ramadan adalah sebuah ritual adat yang bernafaskan Islam dan memiliki nilai kesakralan mendalam dalam kehidupan masyarakat Pulau Kur. Dalam bahasa lokal, ‘hoer’ berarti perahu dan ‘findamar’ merujuk pada Ramadan, bulan suci umat Islam.

Ritual ini bukan sekadar tradisi biasa. Ia merupakan napak tilas perjalanan Imam Sina, penyiar Islam pertama yang diyakini tiba di Pulau Kur tepat pada tanggal 26 Ramadan, malam 27 Ramadan—malam yang diyakini sebagai Lailatul Qadar, malam seribu bulan, di mana Allah SWT menurunkan rahmat-Nya ke bumi.

Proses dan Tahapan Tradisi

Persiapan Hoer Findamar dimulai sejak awal Ramadan. Masyarakat bersama-sama memasuki hutan untuk menebang kayu pule atau yang dikenal dengan nama lokal Ka Yangar (kayu susu). Sebelum kayu ditebang, dibacakan doa dengan menyebutkan Surat Al-Qadar, sebuah surat dalam Al-Quran yang bercerita tentang malam Lailatul Qadar.

Kayu yang telah ditebang kemudian dipotong dengan panjang sekitar 1-2 meter dan lebar 20-45 cm. Seorang bas atau tukang ahli perahu kemudian mengerjakan bahan tersebut menjadi perahu miniatur selama kurang lebih satu minggu. Bentuk perahu dibuat menyerupai perahu yang digunakan leluhur mereka yang datang dari tanah Arab.

Sambil kaum laki-laki membuat perahu, kaum perempuan mempersiapkan makanan tradisional bernama ket, terbuat dari tepung kasbi (singkong) atau sagu yang dicampur berbagai bahan lain, dibentuk menyerupai ikan dan berbagai bentuk unik, lalu digoreng. Makanan ini nantinya akan menjadi bekal di dalam perahu.

Pengalaman Tokoh Adat

Bagi Bapak Ladjania Madamar, seorang maestro dan tokoh adat Desa Finualen di Pulau Kur yang telah menyaksikan tradisi ini puluhan tahun lamanya, Hoer Findamar bukan sekadar ritual tahunan. “Tradisi ini adalah cara kami mengingat dari mana kami berasal. Leluhur kami datang dengan perahu, membawa Islam, membawa nilai-nilai. Kalau kami tidak jaga ini, anak cucu tidak akan tahu siapa mereka sebenarnya,” ujarnya dengan nada tenang namun penuh keyakinan.

Beliau menambahkan bahwa membacakan Surat Al-Qadar sebelum menebang kayu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk penghormatan kepada alam, kepada Yang Maha Kuasa, dan kepada para pendahulu. “Ramadan bagi kami bukan hanya soal puasa dan shalat. Ramadan adalah waktu kami kembali kepada akar,” tambah Pak Ladjania.

Malam 27 Ramadan: Saat Doa Mengapung di Lautan

Puncak tradisi ini berlangsung pada malam 27 Ramadan. Perahu-perahu yang telah dihias dengan layar dan warna-warni diisi makanan tradisional sebagai simbol bekal perjalanan, sebuah pelita sebagai simbol penerangan, dan sebuah ayam jantan yang dianyam dari janur kelapa di ujung tiang sebagai simbol kompas penunjuk arah diatur berjejeran di tepi Pantai Wear Jo.

Para imam kemudian memimpin ritual keagamaan: membakar kemenyan, membaca hodorat nabi, memanjatkan doa untuk para leluhur, keselamatan, dan keberkahan negeri. Para muazim mengumandangkan azan sebanyak tiga kali, dilanjutkan pembakaran pelita di setiap perahu sambil membaca Surat Al-Qadar. Setelah salawat dikumandangkan tiga kali, perahu-perahu itu pun dilepas ke laut, menghadap arah matahari terbenam, yakni arah kiblat.

Perahu yang telah dilepas tidak boleh diambil kembali. Ia telah ditujukan kepada anak-anak dan saudara yang telah lebih dahulu meninggal saat masih bayi atau kecil.

Nilai-Nilai yang Terkandung

Tradisi Hoer Findamar bukan sekadar ritual. Ia mengandung tiga nilai utama yang begitu kuat:

  • Nilai religius – cerminan ketaatan masyarakat Kur kepada Allah SWT dengan terus mempedomani nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
  • Nilai sosial – tradisi ini memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong. Dalam falsafah hidup orang Kur yang selalu menghendaki kebersamaan: ha del ha, lara beib, ruma patar, semuanya tercermin dalam tradisi ini.
  • Nilai sejarah – Hoer Findamar menjadi ingatan kolektif tentang asal-usul masuknya Islam ke Kepulauan Kur, sebuah warisan yang tak ternilai dari para leluhur.

Revitalisasi untuk Generasi Muda

Pemerintah Kecamatan Pulau-Pulau Kur kini telah merevitalisasi tradisi ini dengan mengadakan perlombaan antar desa dalam bingkai ratskap kilmas, melibatkan empat desa: Lukwirin, Finualen, Tubyal, dan Sarmaf. Lomba ini bertujuan mendorong generasi muda agar lebih peduli dan bangga terhadap warisan budaya mereka.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku pun telah mendokumentasikan tradisi ini pada tahun 2019 dan telah mendapat pengakuan secara Nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBi) Tahun 2022, sebuah pengakuan resmi atas keunikan dan kedalaman makna yang dikandung Hoer Findamar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *