"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Cerita Pendek: Sepatu Favoritku

Kenangan yang Tak Pernah Hilang

“Aku sangat menyayangi sepasang sepatu ini,” kataku sambil mendekap erat di dada, seolah membiarkannya merasakan jantung yang berdetak pelan. Sepasang sepatu itu memiliki makna istimewa bagiku. Meski tampak kumal dan tidak menarik dipandang oleh orang lain, ia adalah teman lama yang begitu setia.

Alex tertawa tipis saat melihatnya. “Sepatu kumal begini masih dibilang sayang?” Tanyanya dengan nada skeptis. Ia mengangkat sepasang sepatu itu dari tiang jemuran. Warna hitam pekatnya telah pudar termakan usia, kulitnya terkelupas, membuat tampilannya tampak usang. Namun, aku tetap menyayanginya. Ia punya sejarah yang tak bisa diukur hanya dari penampilannya.

“Bukan soal kumal kes,” jawabku lirih. “Sepasang sepatu ini punya sejarah.”

Alex menggeleng, tak percaya. Baginya, sepasang sepatu itu tak layak dipakai oleh anak muda seumur kami. “Buang saja. Kalau tidak, beri saja kepada para pemulung di TPA Nangarasong,” katanya dengan nada sinis.

“Tak apa. Kalau pun dibilang kumal, aku tetap memakainya.” Jawabku dengan tenang. Alex tidak memahami keistimewaan sepasang sepatu itu. Ia hanya melihat dari penampilan luarnya saja. Tidak pernah bertanya berapa usianya, siapa yang memberikannya, atau berapa harganya. Yang ia tahu hanya bahwa itu adalah sepasang sepatu kumal dan tak layak dipakai.

Aku meletakkan sepasang sepatu itu di kursi kayu depan kamar dengan penuh kasih. Meski sangat berharga, aku tak pernah membawanya masuk ke dalam kamar. Selepas pakai, sepatu itu biasanya hanya sampai di bibir pintu. Aku tak menyediakan tempat khusus untuk menyimpannya. Bukan karena kamar sempit, melainkan kebiasaan ini diajarkan ibu sejak kecil. Aku masih ingat sampai sekarang.

“Nak… sepatu yang kita pakai, sekalipun itu sangat berharga tak boleh dibawa masuk ke dalam kamar,” kata ibu kala itu. Aku tak tahu alasannya. Suatu kali, aku pernah protes; “Bagaimana kalau dicuri atau digigit anjing?”

“Orang tak akan curi kalau ia tahu itu bukan miliknya. Anjing pun sama. Tak akan gigit kalau tak bau,” katanya tegas penuh kepastian.

Aku sedikit ragu dengan jawaban ibu. Aku berpikir; bukankah pencuri akan mengambil apa saja yang diinginkannya, meski ia tahu itu bukan miliknya? Anjing pun demikian; ia akan menggigit apa saja yang ia suka, toh ia makhluk tak berakal. Tapi, kenapa manusia yang berakal tetap mencuri? Apakah pencuri disebut anjing, bukan manusia?

Sepasang sepatu kesayangan itu selalu melekat di benak, bahkan terbawa saat tidur. Saking sayangnya, ia seperti bagian dari hidupku. Aku selalu merawatnya penuh kasih, berbicara dengannya meski ia tak bisa menjawab. Tapi, aku selalu berusaha memahaminya.

Suatu malam, listrik padam. Lorong-lorong rumah gelap gulita. Di luar hujan berdentum kencang di atas tanah kosong. Beberapa kali kilatan petir merayap di ruang gelap dan gemuruh guntur bergema menggetarkan dada. Aku khawatir sepasang sepatu di luar. Ia kedinginan, mungkin juga kesepian. Kali ini, aku putuskan membawanya ke dalam kamar. Saat membuka pintu, di atas kursi kayu itu hanya tinggal bagian kirinya saja, yang kanannya hilang.

Aku buru-buru menyalakan senter HP dan mencari di sekitar kamar, tapi tak berhasil kutemui. Kehilangan itu seperti luka lama yang kambuh, perih dan dalam. Aku terus mencari, melongok di selokan dan sudut rumah. Barangkali ada yang menyembunyikannya. Tetap tak kudapat. Curiga mulai muncul; jangan sampai Alex.

“Alex, kau lihat sepatuku?” Tanyaku. “Tidak.” Jawabnya ketus, lalu buru-buru ke toilet. Curigaku terhadap Alex semakin kuat ketika melihat ekspresinya. Kalau bukan dia, siapa lagi? Tak mungkin digigit anjing. Sepatuku itu tak bau. Lagian kursi kayu di depan kamar cukup tinggi untuk dilompati anjing.

“Alex! Tolong beritahu. Kau yang sembunyikan sepatu di atas kursi ini?” Tanyaku lagi, sedikit lebih serius. Sembari menunjuk kursi kayu itu. “Te ada le! Kenapa kes tak percaya!” Suaranya semakin keras. “Soryy le!”

“Kau kira, aku tertarik dengan sepatu bututmu itu?” Suasana menjadi tegang. Alex terus berceloteh. Namun, aku tak membalas sedikit pun. Aku memilih untuk menghindar darinya dan lanjut mencari di sekeliling rumah. Namun, hatiku tetap tak sepenuhnya percaya pada jawaban Alex.

Aku menghindar bukan karena takut padanya, melainkan aku tak punya bukti yang kuat. Aku pernah bertanya pada tetangga di belakang rumah. Tapi sama saja, mereka tak mengenal sepatu itu. Pikiranku semakin tak tenang. Sepasang sepatu kesayanganku tak lagi berguna kalau salah satu di antaranya telah hilang.

Malam itu aku tak tenang, tak bisa tidur. Ingatan tentang sepatu yang hilang itu terus menghantui. Ke mana lagi aku harus mencarinya dan kepada siapa lagi aku bertanya keberadaannya kalau semua orang tak melihat? Aku khawatir dengannya bukan berarti aku tak bisa membelikan sepatu yang lebih baru. Aku terlanjur jatuh cinta padanya. Bukan soal keadaan fisiknya, melainkan rasa nyaman yang kubutuhkan.

Hujan malam itu semakin deras. Dentumannya terus menggema, menembusi tanah-tanah yang polos. Suara teriakan orang-orang kian ramai di jalanan depan rumah. “Ayo lari!!!” Teriak seseorang. “Wah ada apa le…” Tanya Alex dari depan pintu kamar. “Te tau le,” jawabku. Hujan tak kunjung reda. Aku dan Alex keluar dari rumah menghampiri orang-orang itu.

“Woeh…! Ayo lari!” Bentak seorang bapak tua sambil berlari pontang-panting dan menggendong putri kecilnya. Aku semakin bingung. Apa gerangan terjadi dengan orang-orang yang berlari pontang-panting itu. Saat aku hendak berpaling ke dalam rumah, aku melihat gerombolan pasukan bersenjata datang dari arah barat. Mereka mengejar dan mengusir orang-orang di kampung ini. Beberapa orang berhasil ditangkap dan disiksa oleh pasukan bersenjata itu.

Beberapa gadis dan ibu muda ditelanjangi sambil dicambuk. Sedangkan beberapa laki-laki berjalan jongkok sambil diawasi todongan senjata. Berani berdiri sedikit, peluru siap melecut di kepala. Aku semakin takut, meski tak tahu apa penyebabnya. Aku langsung menghampiri Alex sambil menarik tangannya untuk segera kabur dari tempat itu.

Kami berdua pun masuk ke dalam rumah mengambil beberapa barang yang cukup penting untuk segera melarikan diri. Dengan sigap, aku langsung membuka pintu kamar, mengambil ijazah dan beberapa dokumen penting dari lemari. Kami berlari mencari tempat perlindungan yang aman ke arah bukit. Sekitar belasan kilometer kami berlari, ternyata sepatu kesayanganku tidak sempat kubawa. Aku sangat menyesal, meski hanya tinggal sebelahnya saja.

Aku putuskan untuk kembali mengambil sepatu itu, tetapi Alex menahan. Dari kejauhan, aku melihat, pasukan bersenjata itu telah mengepung rumah kami. “Mereka pasti mengambil sepatuku.” “Untuk apa mereka ambil sepatu butut itu. Tak ada gunanya!” Kata Alex dengan suara penuh tekanan. “Itu masih layak dipakai le,” jawabku penuh kehilangan. “Kes jangan lagi pikir sepatu. Pikir saja ke mana kita akan pergi.”

Seketika aku terdiam. Mengingat kenangan sekaligus memikirkan jalan keluar untuk kabur dari kejaran pasukan bersenjata. Antara pulang menyelamatkan sepatu kesayangan dan pergi menyelamatkan diri kian berkecamuk. Langkah pun tertatih-tatih ketika berhadapan dengan dilema seberat ini. Terlalu ew…!

“Kita harus menjauh dari tempat ini!” Seru Alex. “Tunggu. Aku masih ingat sepatu kesayanganku di rumah.” “Apa kau sudah gila? Lebih pentingkan sepatu butut ketimbang nyawa!” “Aku tak peduli! Kehilangan sepasang sepatu itu sama halnya separuh hidupku telah mati!” Jawabku tegas. Mataku melotot memandang Alex.

Seketika Alex terdiam. Ia tampak terkejut dengan jawabanku. Ia mulai mendekat dan menenangkanku. Ia seakan-akan mulai sadar betapa berharganya sepasang sepatu itu bagi hidupku. Ia membelai pundakku dengan lembut dan matanya berkaca-kaca, seolah tampak bersalah. Namun, aku tak peduli dengan ekspresi sedihnya. “Kes…, aku minta maaf,” katanya lembut. “Te usah minta maaf le. Engko ju te salah,” jawabku. “Tidak kes. Aku sungguh bersalah padamu.”

Mata Alex berlinang air mata. Butiran air matanya jatuh di atas semak-semak. Aku heran dengannya. Sebenarnya, ia tak perlu menangis, toh ia hanya tak tahu tentang kedekatanku dengan sepasang sepatu itu. “Ini bukan salahmu.” “Tidak! Ini semua salahku. Sebenarnya…..,” seketika ia menangis dengan suara keras sambil berlutut di hadapanku. “Sebenarnya apa? jelaskan padaku.” “Kes, aku minta maaf. Aku yang menyembunyikan sepatumu. Aku pikir, sepatu itu tak layak lagi untuk dipakai.”

Aku terkejut dengan pengakuan Alex. Aku terdiam dengan penuh amarah, bahwa benar apa yang telah kuduga sebelumnya. Aku menangis mengingat sepatu itu. Kalau Alex tak menyembunyikan sepatu itu, aku bisa menyelamatkannya. Mataku menatap rumah dari kejauhan, tempat sepasang sepatu itu berdiam. Namun, api sudah berkobar melahap rumah. Barangkali sepatu itu juga terbakar.

“Ahhh… sialan kau.” Hidupku tak ada gunanya tanpa sepasang sepatu itu. Satu-satunya pemberian ibu sebelum ia pulang ke pangkuan ilahi. Ibu membelinya sewaktu ulang tahunku yang ke tujuh belas, dengan uang hasil jualan kopi tiap malam minggu. Ia bertarung melawan dinginnya malam dan berusaha tabah menghadapi para preman yang enggan membayar kopinya. Ibu melakukan itu demi hadiah ulang tahunku.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *