Puasa Syawal dan Amalan yang Dianjurkan
Puasa Syawal merupakan salah satu bentuk ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Puasa ini memiliki keistimewaan tersendiri dalam hal pahala, sehingga banyak umat Muslim yang menjalankannya setelah Idulfitri. Berikut penjelasan lengkap mengenai puasa Syawal serta amalan yang disarankan saat berpuasa.
Apa Itu Puasa Syawal?
Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dilakukan di bulan Syawal, yaitu bulan kedua dalam kalender hijriyah. Hukumnya adalah sunnah muakkad, artinya dianjurkan tetapi tidak wajib. Puasa ini bisa dilakukan mulai dari tanggal 2 Syawal atau sehari setelah Hari Raya Idulfitri.
Jumlah hari puasa yang dianjurkan adalah enam hari. Umat Muslim dapat melakukannya secara terpisah maupun berurutan. Namun, jika ada utang puasa Ramadan, maka sebaiknya terlebih dahulu menyelesaikan puasa Ramadan karena hukumnya wajib.
Keistimewaan Puasa Syawal
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan, maka pahala satu bulan Ramadan itu (dilipatkan sama) dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari sesudah Idulfitri (dilipatkan sepuluh menjadi enam puluh), maka semuanya (Ramadan dan enam hari bulan Syawal) adalah genap satu tahun.”
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Syawal memiliki pahala yang besar, bahkan setara dengan puasa selama satu tahun.
Tata Cara Puasa Syawal
Tata cara pelaksanaan puasa Syawal sama seperti puasa pada umumnya, yaitu dimulai setelah azan Subuh hingga azan Maghrib. Hal ini berlaku bagi semua puasa sunnah, termasuk puasa Syawal.
Bacaan Doa Buka Puasa Syawal
Berikut bacaan doa buka puasa Syawal yang dianjurkan:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Artinya: “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.”
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Artinya: “Ya Allah Dzat yang Maha Pemurah dari segalanya, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki dan kasih sayang-Mu aku berbuka.”
Sunah Saat Berbuka Puasa
BAZNAS menyebutkan beberapa amalan sunah yang bisa dilakukan saat berbuka puasa, antara lain:
- Menyegerakan berbuka puasa setelah waktu Maghrib tiba.
- Membaca basmalah sebelum makan atau minum.
- Membaca doa berbuka puasa terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan.
- Disarankan memulai berbuka dengan kurma; jika tidak tersedia, dapat diganti dengan air putih.
- Setelah berbuka, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa.
- Saat berbuka, sebaiknya tidak makan dan minum secara berlebihan.
Sunah Saat Sahur
Sahur juga merupakan bagian penting dalam puasa. BAZNAS menyarankan:
- Mengakhirkan waktu sahur, yakni makan sahur mendekati waktu azan Subuh.
- Kurma dianjurkan menjadi salah satu makanan yang dikonsumsi saat sahur.
- Umat Islam disarankan membaca doa dan memohon keberkahan bagi orang yang menjalankan sahur.
- Setelah selesai sahur, dianjurkan memperbanyak membaca istighfar.
Hal yang Membatalkan Puasa
Kementerian Agama menjelaskan beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, antara lain:
- Makan dan minum dengan sengaja di siang hari Ramadan dapat membatalkan puasa. Namun, jika dilakukan karena lupa, puasanya tetap sah.
- Muntah dengan sengaja juga membatalkan puasa, sedangkan muntah yang terjadi tanpa disengaja tidak berpengaruh.
- Berhubungan suami istri di siang hari termasuk pembatal puasa yang berat, karena selain wajib mengganti puasa, juga dikenai kafarat.
- Keluarnya mani dengan sengaja, baik karena rangsangan atau tindakan tertentu, dapat membatalkan puasa.
- Datangnya haid atau nifas pada perempuan, meski hanya sesaat sebelum berbuka, tetap membatalkan puasa dan harus diganti di hari lain.
- Murtad (keluar dari Islam) membatalkan seluruh amal ibadah, termasuk puasa.











