"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Mempertahankan Persatuan Beragama di Indonesia

Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Tertinggi dalam 11 Tahun

Indeks kerukunan umat beragama di Indonesia mencapai tingkat tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa toleransi dan kebersamaan antarumat beragama semakin kuat, bahkan menjelang Lebaran 2026 yang menjadi momen penting untuk merawat nilai-nilai tersebut.

Tren Positif dalam Kerukunan Umat Beragama

Pada Desember 2025, pemerintah meluncurkan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang menunjukkan peningkatan signifikan. Skor yang diraih sebesar 77,89, berada dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami pentingnya hidup rukun meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda.

Survei ini mengukur tiga indikator utama, yaitu toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan. Dari data tersebut, kerukunan tidak hanya menjadi angka, tetapi juga tumbuh dari praktik sehari-hari yang sering kali luput dari perhatian. Lebaran 2026 menjadi momen yang tepat untuk kembali memperkuat nilai-nilai tersebut, mulai dari hal-hal sederhana seperti cara kita hadir, berbagi, dan memandang sesama dengan penuh kasih.

Praktik Toleransi di Kolong Rel Jatinegara

Di bawah kolong rel kereta Jatinegara, Jakarta Timur, praktik toleransi lintas agama tumbuh dalam keseharian yang sederhana. Di ruang sempit yang jauh dari gemerlap kota, anak-anak belajar, bermain, dan menjalani Ramadan bersama. Meski hidup dalam kondisi yang terbatas, suasana di sana terasa hangat dan penuh kebersamaan.

Daniel, seorang guru agama Kristen berusia 33 tahun, rutin mengunjungi tempat ini setiap akhir pekan. Ia mengajar di sebuah sekolah terpadu pada hari kerja, tetapi di akhir pekan ia kembali ke kolong rel untuk mendampingi 96 anak yang seluruhnya beragama Islam. Kehadirannya bukanlah sesuatu yang instan, melainkan bagian dari perjalanan panjang Komunitas Gumul Juang yang didirikan oleh sejumlah calon pendeta dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta pada 2009.

Meski banyak dari para pendiri komunitas ini kini telah memilih jalannya masing-masing, Daniel tetap berjuang sendirian untuk menjalani seluruh kegiatan Komunitas Gumul Juang. Selama bertahun-tahun, ia hidup berdampingan dengan warga kolong rel Jatinegara, bahkan tinggal bersama mereka selama lebih dari lima tahun.

Dari situ, hubungan yang terbangun melampaui sekadar relawan dan penerima bantuan. Daniel menyebut orang tua di sana sebagai “mamah” dan “ayah”, panggilan yang mencerminkan kedekatan yang tumbuh perlahan. Di ruang itu, perbedaan agama tidak menjadi batas, melainkan bagian dari keseharian yang diterima apa adanya.

Menurut Daniel, tembok perbedaan yang sering terasa besar di kota seperti Jakarta bisa mencair ketika orang memilih hadir dan saling mengenal. Ia tak menampik kesulitan yang ia hadapi karena perbedaan tersebut, termasuk penolakan. Namun, pelan-pelan tembok pembatas itu hancur dengan komunikasi yang konsisten.

“Kita selalu dibenturkan dengan perbedaan, tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan bersama. Padahal, kita punya satu nilai yang sama, yaitu memanusiakan manusia,” ujarnya.

Harmoni Nyepi dan Ramadan di Bali

Di Desa Adat Tuban, Bali, keheningan Nyepi berjalan berdampingan dengan ibadah Ramadan. Di tengah suasana sunyi, tanpa pengeras suara, dan dengan pencahayaan minimal, tarawih tetap berlangsung. Malam itu, Haji Sidik terlihat mengenakan pakaian pecalang, yakni petugas keamanan di desa adat di Bali. Ia bukan hanya menjaga ketertiban desa, tetapi juga memimpin aktivitas di Masjid Asasutaqwa sebagai ketua takmir.

Peran gandanya menjadi penting ketika dua momen keagamaan hadir bersamaan. Ia membantu memastikan kesepakatan antarwarga tetap berjalan, agar setiap umat bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang. Warga di sini sudah terbiasa dengan suasana ini. Tidak masalah, karena sudah saling memahami.

Di desa yang dihuni warga dengan berbagai latar belakang agama, keterbukaan menjadi kunci. Warga sudah terbiasa menyesuaikan diri, menjaga keseimbangan antara aturan adat dan kebutuhan ibadah. Saat Nyepi, umat muslim menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan sederhana. Sementara pecalang, termasuk Haji Sidik, berpatroli menjaga ketertiban desa.

Sekretaris Desa Adat Tuban, I Gede Agus Suyasa, mengatakan keberagaman di wilayahnya justru memperkuat rasa kebersamaan. “Tuban ini desa yang majemuk. Kami sepakat untuk saling menghormati kegiatan masing-masing,” katanya.

Kesepakatan itu menjadi fondasi, bahwa perbedaan tidak harus dipertentangkan. Sebaliknya, bisa dijalankan berdampingan, dengan saling menghormati ruang masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *