Pergerakan IHSG dan Faktor yang Mempengaruhi Pasar Saham
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada akhir perdagangan Jumat (27/3), dengan penurunan sebesar 67,034 poin atau 0,94 persen, berakhir di level 7.097,05. Dalam seminggu terakhir, IHSG juga mengalami pelemahan sebesar 0,56 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham sedang menghadapi tekanan dari beberapa faktor eksternal maupun internal.
Oktavianus Audi, Analis sekaligus VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, memprediksi bahwa IHSG pada awal pekan ini, yaitu Senin (30/3), akan cenderung melemah dengan pergerakan mixed. Ia memperkirakan bahwa indeks akan berada dalam rentang support 6.938 hingga resistance 7.260. Indikator MACD menunjukkan tren yang melemah, sementara RSI mendekati area oversold. Hal ini menunjukkan bahwa investor mungkin lebih waspada terhadap potensi penurunan lebih lanjut.
Menurut Oktavianus, beberapa sentimen utama yang akan mempengaruhi pasar antara lain:
- Peningkatan tensi geopolitik pasca-AS memperpanjang aksi terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026. Selain itu, pengerahan 10.000 pasukan dan tindakan IRGC untuk memperketat pengawasan terhadap kapal yang melalui Selat Hormuz dapat memberikan dampak negatif terhadap pasar.
- Kenaikan harga minyak mentah yang mencapai titik tertinggi sejak 2022. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi global serta risiko krisis energi.
- Bank sentral berpotensi menahan suku bunga acuan, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter dan dampaknya terhadap pasar.
Prediksi dan Rekomendasi Saham oleh Analis Lain
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, memperkirakan bahwa level support IHSG berada di 7.005 dan 6.892, sedangkan resistance di posisi 7.222 dan 7.482. Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi pasar adalah dinamika konflik di kawasan Timur Tengah, yang telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia hingga rata-rata 100 dolar AS per barel. Kondisi ini dapat menekan risk appetite investor dan pelaku pasar.
Di sisi lain, Nafan juga menyoroti kekhawatiran terhadap potensi inflasi yang berlangsung lebih lama, yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga The Fed. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi sentimen negatif bagi pasar saham domestik. Ia juga menyebut bahwa kebijakan pemerintah terkait tarif biaya ekspor batubara mulai 1 April bisa menjadi headwind bagi emiten-emiten berbasis batubara.
Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas, memperkirakan bahwa IHSG pada perdagangan Senin (30/3) masih berpotensi melanjutkan koreksi. Area support yang diprediksi adalah 7.059, sedangkan resistance berada di 7.136. Menurutnya, sentimen utama tetap berkisar pada dinamika geopolitik di Timur Tengah dan kondisi pasar global yang cenderung korektif.
Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, menambahkan bahwa pergerakan indeks dipengaruhi oleh ketidakpastian mengenai perundingan diplomatik antara AS dan Iran. Pernyataan yang kontradiktif dari kedua negara tersebut menciptakan ketidakpastian tinggi. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi sentimen negatif, karena mengkhawatirkan gangguan supply dan dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi.
Rekomendasi Saham dan Perhatian Teknis
Secara teknikal, Alrich memperkirakan bahwa IHSG masih akan cenderung bergerak sideways pada kisaran 7.000-7.200 pada perdagangan Senin (30/3). Herditya merekomendasikan pelaku pasar untuk mencermati saham-saham seperti CUAN, DSNG, serta UNTR. Sementara itu, Alrich menyarankan saham-saham seperti MEDC, ENRG, PTRO, ANTM, dan CUAN untuk dicermati.
Audi juga memberikan rekomendasi saham, yaitu MIKA dan EMAS, sebagai opsi investasi yang layak diperhatikan.











