Tarian Beksan Kuda Gadhingan Jadi Pembuka Simposium Budaya Jawa 2026

Tarian Beksan Kuda Gadhingan menjadi tarian pembuka dalam Simposium Internasional Budaya Jawa atau International Symposium on Javanese Culture 2026 yang diselenggarakan Keraton Yogyakarta di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta, Sabtu (11/4). Simposium yang mengusung tema “Architecture, Spatial Planning and Territory of The Sultanate of Yogyakarta” ini digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-37 Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas.
Tarian Beksan Kuda Gadhingan ditampilkan oleh 10 penari pria yang mengenakan busana berwarna-warni. Busana tersebut merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1826, 1828-1855), yang memiliki makna mendalam. Tarian ini berasal dari cerita Panji dalam Ringgit atau Wayang Gedog yang terdapat dalam naskah Serat Kandha Ringgit Tiyang: Lampahan Jayalengkara lan Lampahan Jayakusuma.
Serat tersebut menceritakan peperangan antara Raden Kuda Gadhingan, patih atau senopati Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala melawan Patih Mondra Sudira, patih Prabu Dasalengkara dari Kerajaan Pudhak Sategal untuk memperebutkan Dewi Candrakirana, yang dipercaya sebagai titisan Dewi Angreni.

Wakil Penghageng Kawedanan Kridhamardawa, Keraton Yogyakarta, KMT Suryawasesa menjelaskan bahwa tarian ini dipilih karena menggambarkan perang antara Raden Kuda Gadhingan dengan Mondra Sudira yang terdapat dalam naskah yang kondur (pulang) dari Inggris. Ia menambahkan bahwa tarian ini dipilih untuk simposium hari ini karena dalam tari tersebut mengadopsi salah satu lukisan yang ada di Bangsal Kesatrian Keraton yang menggambarkan bunga teratai, yang melambangkan kehidupan manusia.
Empat sifat manusia yang digambarkan dalam tarian tersebut adalah merah yang bersifat amarah, hitam yang bersifat tenang, kuning bersifat dinamis, dan kuning bersifat suci. Keempat sifat ini mencerminkan karakteristik manusia secara keseluruhan.

Beksan Kuda Gadhingan dipentaskan dengan gendhing bedhayan kemanakan yang diperkaya dengan instrumen khusus seperti klinthing robyong dengan asma Kiai Sekar Delima. Gendhing ini biasanya digunakan dalam tari bedhaya, namun dalam Beksan Kuda Gadhingan, gendhing kemanakan digunakan untuk menggambarkan suasana sebelum maju perang.
Informasi Tentang Simposium
Penghageng Kawedanan Tandha Yekti sekaligus Ketua Panitia Pelaksana International Symposium on Javanese Culture 2026, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, dalam sambutan pembukaannya menjelaskan bahwa simposium ini telah digelar setiap tahun dan kali ini adalah simposium kedelapan. Tema yang diangkat kali ini dilatarbelakangi beberapa hal, termasuk Sumbu Filosofi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Selain itu, tema ini sangat terkait dengan amanat utama Undang-undang Keistimewaan DIY tahun 2012 yang berkaitan dengan urusan pertanahan dan tata ruang. GKR Hayu menyampaikan bahwa Sri Sultan HB I sebagai pendiri Keraton Yogyakarta telah meletakkan pondasi arsitektur dan tata ruang yang visioner, yaitu harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Arsitektur tata ruang Yogyakarta yang teguh mempertahankan identitas kultural di tengah gerak cepat perkembangan kota. Simposium ini menjadi ruang bagi akademisi dari dalam maupun luar negeri, mulai dari yang junior hingga senior, laki-laki dan perempuan, untuk memperdalam kajian keilmuan budaya Jawa khususnya yang berkaitan dengan Keraton Yogyakarta.
Tahun ini, terdapat 132 abstrak yang dikirim pada tahap awal yang masuk melalui seleksi ketat oleh editor dan reviewer lintas negara. Para reviewer juga memberikan bimbingan dan konsultasi selama delapan bulan terakhir.

“Bersama dengan beberapa pembicara tamu, dua tahun ke depan akan dipresentasikan di hadapan kita semua kajian yang mencangkup sejarah dan politik, seni, sastra, dan seni-seni pertunjukan, arsitektur, dan perencanaan ruang dan landscape,” ujarnya.
Dalam pembukaan ini, Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X turut hadir beserta para putri Keraton Yogyakarta. Selain peneliti terpilih, Keraton Yogyakarta juga menghadirkan pembicara dari Kawedanan Widyabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan dua pembicara tamu dari organisasi pemerintah daerah (OPD) terkait seperti Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Kundha Niti Mandala sarta Tata Sasana) DIY.
Ada empat keynote speakers yang akan terbagi dalam empat sesi sesuai sub-tema. Sebagai keynote speaker sesi sejarah hadir Prof Koji Miyazaki, professor emeritus dari Foreign Studies, Tokyo University. Lalu pada sesi seni, literatur dan pertunjukan, menghadirkan keynote speaker Dr Verena Meyer, yang merupakan assistant professor of Leiden Institute of Area Studies (LIAS) di Universitas Leiden, Belanda.
Di hari kedua, ada Dr Hélène Njoto Feillard, sejarawan seni dan arsitektur serta associate researcher (perwakilan Jakarta) untuk pusat penelitian EFEO (École française d’Extrême-Orient/Sekolah Prancis untuk Timur Jauh) pada sesi arsitektur. Lalu, Prof Ir Bakti Setiawan, MA, PhD, professor di bidang Perencanaan Kota dari UGM Yogyakarta menjadi keynote speaker untuk sesi terakhir yakni tata ruang dan lanskap.











