"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kisah Pembunuhan Umar di Balik Karung, Dua Remaja Pelakunya

Kronologi Pembunuhan Umar Gayam

Korban, Umar Gayam, ditemukan meninggal dunuh setelah hilang selama 10 hari. Jasadnya ditemukan terbungkus karung di kawasan Jalan Kontainer, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Kejadian ini memicu kegundahan dan rasa marah dari keluarga korban, yang akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib.

Umar Gayam adalah seorang pria dengan keterbatasan mental. Meski demikian, ia dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia bekerja sebagai tukang bangunan untuk membantu membiayai kebutuhan keluarga dan pendidikan adiknya. Kehilangan Umar Gayam menjadi duka besar bagi keluarga, terutama bagi pamannya, Maulud Yapono, yang telah merawatnya sejak kecil.

Pembunuhan Umar Gayam dilakukan oleh dua remaja, MFLO (18) dan SA (17), yang kini sudah ditangkap oleh aparat Polres Sorong. Dugaan sementara menyebutkan bahwa keduanya melakukan aksi pengeroyokan terhadap korban. Pihak keluarga menolak autopsi karena kondisi tubuh korban yang sudah rusak.

Penyelidikan dan Penangkapan Pelaku

Kejadian bermula ketika keluarga kehilangan kontak dengan Umar Gayam selama sekitar satu minggu. Beberapa hari kemudian, mereka menerima informasi bahwa korban diduga dianiaya. Keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Berdasarkan laporan itu, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi. Hasil penyelidikan mengarah pada dua nama yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan.

Pada Senin (16/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIT, tim menggerebek sebuah rumah kos di Jalan Tuturuga, Kabupaten Sorong, yang diduga menjadi tempat persembunyian pelaku. Namun, kedua terduga pelaku tidak ditemukan di lokasi. Pada malam harinya, polisi memperoleh informasi bahwa pelaku melarikan diri ke Kampung Meyaup, Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Sorong. Tim kemudian mengejar dan menangkap dua terduga pelaku, MFLO dan SA, bersama sejumlah barang bukti berupa satu unit telepon genggam dan satu unit sepeda motor.

Setelah sempat dibawa ke Mako Polsek Seget, kedua terduga pelaku kemudian dipindahkan ke Mapolres Sorong untuk menjalani pemeriksaan intensif. Dari hasil pengembangan, polisi memperoleh informasi bahwa korban dibuang di sekitar kawasan Jalan Kontainer. Tim Satreskrim Unit Identifikasi (INAFIS) kemudian mencari dan menemukan jasad korban di area semak-semak bagian bawah dalam kondisi terbungkus karung dan tas Rinjani berukuran besar.

Jenazah selanjutnya dievakuasi ke Rumah Sakit Sele Be Solu, Kota Sorong, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Peristiwa ini sempat memicu ketegangan pada Selasa malam ketika keluarga korban bersama sejumlah massa mendatangi Mapolres Sorong dengan membawa jenazah menggunakan ambulans. Mereka mempertanyakan penanganan kasus tersebut.

Sosok Korban dan Tanggapan Keluarga

Umar Gayam merupakan anak yatim dengan keterbatasan mental. Ayahnya telah meninggal dunia. Sejak itu ia diasuh oleh pamannya, Maulud Yapono. “Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya bawa dari kampung, saya jaga, saya sekolahkan sampai dia kerja,” ujar Maulud dengan suara bergetar kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).

Korban dikenal sebagai pekerja keras dan menjadi tulang punggung keluarga, meski memiliki keterbatasan komunikasi. “Dia membantu biaya sekolah adiknya. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang tanggung keluarga?” ucap Maulud.

Menurut Maulud, korban memiliki keterbatasan mental atau berkebutuhan khusus. Inilah yang membuatnya sulit berkomunikasi dengan lancar. Untuk berbicara dengan jelas, Cecep harus melakukan gerakan tertentu dan hanya orang-orang terdekat yang memahami caranya berkomunikasi.

Meski memiliki keterbatasan, Cecep dikenal sebagai pekerja keras. Ia bekerja sebagai buruh bangunan dan sempat membantu pekerjaan di salah satu rumah sakit di wilayah Mariat. Penghasilannya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan adiknya.

Maulud menilai kondisi korban yang memiliki keterbatasan membuatnya sulit melawan saat terjadi kekerasan. Ia juga menyesalkan dua terduga pelaku yang disebut masih berstatus pelajar di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Sorong. Namun, menurutnya, usia muda tidak dapat dijadikan alasan untuk menghindari hukuman berat.

“Secara mental sudah tega menghabisi nyawa orang dengan cara sadis. Jangan bersembunyi di bawah payung perlindungan anak. Hukum harus berjalan lurus,” tegasnya.

Maulud menyatakan keluarga tidak membuka ruang kompromi dalam kasus tersebut. “Kami akan terus kawal kasus ini sampai ke meja hijau. Tidak ada tawar-menawar. Pidana tetap pidana. Ini tentang nyawa, bukan binatang yang dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan tuntutan keluarga agar pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya. “Kami minta hukuman mati,” ucapnya.

Di tengah duka mendalam, keluarga juga harus menjalani bulan suci Ramadan tanpa kehadiran Cecep. “Saya akan bersedih bila suara tahmid dan takbir berkumandang, dan saya harus mengucapkan doa serta Al-Fatihah untuknya,” ujar Maulud sambil meneteskan air mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *