"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP yang Pamer Paspor Anak Warga Inggris

Nama Dwi Sasetyaningtyas dan Arya Pamungkas Jadi Sorotan Netizen

Nama Dwi Sasetyaningtyas menjadi perbincangan warganet setelah ia membagikan informasi tentang paspor anaknya yang disetujui untuk menjadi warga negara Inggris. Dwi, yang merupakan alumni awardee beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), kini tengah dihujani kritik dari publik.

Selain Dwi, suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, juga ikut terseret dalam polemik ini. Arya, yang juga berasal dari Indonesia, ternyata merupakan alumni awardee LPDP. Keduanya kini menjadi sorotan karena dianggap tidak memenuhi kewajiban kontribusi kepada negara setelah menyelesaikan pendidikan mereka.

Perjalanan Karier Dwi Sasetyaningtyas

Dwi Sasetyaningtyas memulai pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2009 dengan mengambil prodi Teknik Kimia. Selama setahun, ia pernah dipercaya sebagai asisten laboratorium Teknik Kimia kampus. Setelah lulus pada 2013 dengan IPK 3,34, Dwi bekerja di perusahaan multinasional P&G sebagai Customer Business Development Manager selama dua tahun.

Pada 2015, Dwi melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology di Belanda dengan beasiswa LPDP. Ia mengambil jurusan Sustainable Energy Technology dan melakukan penelitian tentang sistem solar Photovoltaic (PV). Tujuannya adalah untuk mengetahui model bisnis yang paling cocok digunakan oleh perusahaan panel surya agar bisa menyediakan listrik di daerah pedesaan seperti di Pulau Sumba, NTT.

Setelah meraih gelar Master, Dwi bekerja sebagai Project Assistant di Belanda. Pada 2018, ia mendirikan Sustaination, sebuah bisnis produk berbahan ramah lingkungan. Sejak 2020, Dwi bergelar Co-founder.

Profil Arya Pamungkas

Sementara itu, Arya Pamungkas Iwantoro, suami Dwi, adalah seorang peneliti sekaligus konsultan riset senior di bidang pemodelan pesisir. Ia menjadi bagian dari Coastal Marine Applied Research (CMAR), tim konsultan berbasis riset di School of Biological and Marine Sciences Universitas Plymouth, Inggris.

Arya menyelesaikan studi S3 dan mendapatkan gelar PhD di bidang Physical Geography dari Utrecht University, Belanda pada 2022 setelah kuliah sejak 2017. Setelahnya, ia melakukan penelitian pascadoktoral di Universitas Exeter, Inggris, selama dua setengah tahun.

Pendidikan S1 Arya juga dituntaskan di ITB pada jurusan Teknik Kelautan tahun 2013. Ia kemudian melanjutkan S2 di bidang Coastal Dynamics and Fluvial Systems, Physical Geography di Utrecht University. Baik perkuliahan S2 maupun S3 Arya menempuhnya dengan beasiswa dari LPDP.

Arya juga merupakan Co-founder Lingkari Institute, lembaga yang berfokus pada pendidikan dan penelitian di bidang lingkungan.

LPDP Merespons Polemik

Pihak LPDP akhirnya memberikan respons terkait polemik ini. Menurut LPDP, para awardee beasiswa terikat kewajiban untuk berkontribusi kepada negara. Meski Dwi telah meminta maaf secara terbuka melalui Instagram, LPDP akan memanggil Arya untuk meminta klarifikasi.

LPDP menyatakan bahwa jika terbukti kewajiban berkontribusi di Indonesia belum dipenuhi, maka akan dilakukan proses penindakan dan pengenaan sanksi sampai pengembalian seluruh dana beasiswa.

Beasiswa dari Negara adalah Utang Budi

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie juga memberikan komentarnya terkait kasus ini. Menurut Stella, beasiswa yang diberikan oleh negara adalah utang budi bagi penerimanya.

Stella menilai, polemik ini mencerminkan kegagalan moral pada tahap awal pendidikan kehidupan. Ia menegaskan bahwa penerima beasiswa seharusnya melihat beasiswa sebagai amanah yang harus dijaga, bukan hanya sebagai fasilitas.

Meskipun demikian, Stella menilai bahwa jawaban atas persoalan ini bukanlah dengan memperketat sistem beasiswa melalui lapisan demi lapisan pembatasan. Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban.

Kontribusi yang Berbeda

Stella menegaskan bahwa rasa terima kasih kepada negara tidak selalu harus diwujudkan dengan kembali ke Indonesia. Menurutnya, menetap di luar negeri dan menduduki posisi berpengaruh justru membawa dampak lebih luas ke Indonesia.

Contoh yang diberikan adalah warga India yang berhasil menduduki posisi tinggi di Silicon Valley, AS, yang justru memberikan aliran investasi dan lapangan kerja ke negaranya. Stella juga menjelaskan bahwa dirinya sendiri berupaya tetap berkontribusi bagi Indonesia meskipun tinggal di luar negeri.

Menumbuhkan Rasa Patriotisme

Untuk menumbuhkan rasa patriotisme bagi penerima beasiswa ke luar negeri, Stella memberikan beberapa tips. Salah satunya adalah fokus pada pengembangan individu di Indonesia, bukan pada institusi. Fokus pada individu akan membuat mereka bernalar dengan lebih tajam.

Stella juga menyarankan orangtua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, untuk menggunakan bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *