Refleksi Mendalam tentang Pendidikan dan Nasionalisme
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamedikti Saintek) Stella Christie memberikan refleksi mendalam mengenai pentingnya pendidikan moral dalam konteks nasionalisme dan fasilitas. Dalam situasi yang sedang ramai dibicarakan di media sosial, ia menyoroti bahwa kegaduhan yang terjadi merupakan tanda adanya retakan pada fondasi pendidikan moral di awal kehidupan.
Pendidikan bukan hanya sekadar deretan angka di transkrip nilai, tetapi juga sebuah ikatan moral yang kuat. Setiap rupiah yang dialokasikan negara untuk menyekolahkan putra-putri bangsa adalah investasi sosial yang harus dihargai dengan dedikasi. Stella menegaskan bahwa beasiswa bukanlah sekadar fasilitas gratis, melainkan utang budi yang harus dibayar kembali.
Beasiswa: Amanah, Bukan Sekadar Fasilitas
Stella pernah dikecam oleh netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemendikti Saintek bahwa beasiswa adalah utang. Namun, ia tetap yakin bahwa setiap beasiswa dari negara adalah bentuk utang budi. Banyak penerima beasiswa terjebak dalam pola pikir bahwa beasiswa hanyalah fasilitas, sehingga mereka kehilangan rasa tanggung jawab sebagai pemegang amanah bangsa.
Menurut Stella, masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan aturan yang terlalu kaku. Menambah jeruji aturan justru bisa memicu resistensi. Ia berpandangan bahwa solusi yang lebih efektif adalah dengan memberi kepercayaan kepada para penerima beasiswa agar bisa menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa.
Percaya Daripada Membatasi
Stella menegaskan bahwa pembatasan yang berlebihan justru bisa membuat penerima beasiswa kurang bersyukur dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban. Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan yang diberikan kepada mereka, sehingga mereka dapat merasa memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi.
Pulang Tak Harus Fisik, Tapi Kontribusi Nyata
Stella menawarkan perspektif yang lebih luas tentang cara membayar utang tersebut. Ia berkaca pada fenomena diaspora India di Silicon Valley yang mampu menarik investasi besar-besaran kembali ke tanah kelahiran mereka meski tinggal di Amerika Serikat. Baginya, kontribusi tidak selalu berarti harus segera pulang ke Indonesia jika posisi mereka di luar negeri justru bisa menjadi jembatan emas bagi bangsa.
Selama bertahun-tahun berada di institusi terkemuka di Amerika Serikat dan Tiongkok, Stella berupaya tetap berkontribusi bagi Indonesia. Ia membimbing mahasiswa Indonesia di universitas AS dan Tiongkok, berbicara di komunitas di Indonesia, serta menjembatani kerja sama antara institusi Indonesia dan lembaga pendidikan tinggi dunia.
Ia menyebut nama-nama seperti Prof. Vivi Kashim di Tiongkok hingga Prof. Sastia Putri di Jepang sebagai bukti nyata bahwa dedikasi kepada Ibu Pertiwi bisa dilakukan dari belahan bumi mana pun.
Bahasa Indonesia: Senjata Ampuh Identitas
Sebagai penutup, Stella memberikan tips sederhana namun tajam untuk menjaga api patriotisme agar tetap menyala di tanah rantau. Kuncinya ada pada komunikasi di meja makan dan ruang keluarga. Bagi para orangtua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak.
Kemampuan berbahasa Indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh. Bahkan di keluarganya sendiri, aturan ini tak bisa ditawar. Suaminya yang berkebangsaan Polandia pun diwajibkan untuk fasih berbahasa Indonesia. Sebab, identitas adalah jangkar yang menjaga seseorang tetap tahu ke mana harus kembali memberi, meski raga melanglang buana.











