"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Analisis SBY: Peluang Perang Iran-AS dan Peringatan untuk Amerika



JAKARTA — Perang antara Iran dan Amerika Serikat menjadi perhatian global, dengan kekhawatiran bahwa konflik bisa segera meletus jika negosiasi di Jenewa tidak menghasilkan kesepakatan yang memuaskan. Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyatakan bahwa Jenderal bisa menjadi saksi sejarah dari perundingan ini. Negosiasi tersebut berpotensi melahirkan perubahan besar yang akan memengaruhi perkembangan dunia.

SBY menilai bahwa banyak pihak, terutama bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah, sedang menantikan hasil dari negosiasi ini. Apakah proses ini akan sukses atau gagal? Apakah akan membawa perdamaian atau justru memicu peperangan yang dahsyat?

Menurut SBY, negosiasi utama yang berkaitan dengan masa depan proyek nuklir Iran sangat rumit dan tidak mudah menciptakan opsi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Kepentingan masing-masing negara sangat berbeda, sehingga para juru runding harus cerdas dalam membaca pikiran para pemimpin mereka, yaitu Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei.

“Membangun ‘harmoni’ antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah,” ujar SBY.

Sebagai sosok yang memiliki pengalaman dan pengetahuan, SBY menegaskan bahwa resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, memerlukan kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. “Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah ‘take and give’. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti,” jelasnya.

Khusus dalam negosiasi Amerika-Iran, SBY mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei, memiliki “uniqueness” masing-masing. Keduanya memiliki ego, ambisi, dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Sebaliknya, Ali Khamenei juga khawatir jika sengketa dengan Amerika ini berakhir buruk.

“Bisa berakhir dengan pergantian rezim dan ‘he must go’. Berarti, ini merupakan ‘survival interest’ buat pemimpin Iran itu.”

Banyak pihak memprediksi bahwa jika negosiasi ini gagal, maka perang besar akan segera meletus. Namun, SBY berpendapat bahwa terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa ‘iya’, bisa ‘tidak’. Terlebih jika para jenderal di kedua belah pihak terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya.

Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. “Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah,” jelas SBY.

Menurut politikus Partai Demokrat itu, ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya. Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi lain? “Inilah yang sering disebut war of necessity dan war of choice. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain,” ujar SBY.

Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan.

“Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer, jelas SBY, juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.”

SBY memperingatkan, bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang.

“Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian exit atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan,” jelasnya.

“Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.”

SBY pun berpesan bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.

“Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya,” pesan SBY.

Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun ia mengabdi di dunia militer, lima tahun pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit.

“Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati).”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *