Paula White, Pendeta yang Kembali Jadi Sorotan
Paula White, seorang pendeta dan penasihat spiritual Donald Trump, kembali menjadi perhatian publik setelah ia terlihat berada di Gedung Oval, Gedung Putih, Washington DC. Acara doa bersama yang dihadiri oleh beberapa pendeta dan presiden AS tersebut menarik banyak perhatian warganet. Video singkat tentang kegiatan tersebut diunggah oleh Daniel Scavino, Wakil Kepala Staf Bidang Komunikasi dan Direktur Media Sosial Gedung Putih, di akun X pribadinya.
Dalam unggahan video berdurasi 48 detik itu, Scavino menyampaikan pesan bahwa doa sedang dilakukan di Gedung Oval. Hingga Jumat (6/3/2026) pukul 19.42 WIB, video tersebut telah ditonton sebanyak 7,9 juta kali dan mendapat lebih dari 20 ribu komentar dari warganet.
Pendeta-pendeta yang hadir dalam acara doa tersebut memohon perlindungan Tuhan bagi Amerika Serikat dan pasukan angkatan bersenjata. Salah satu pendeta juga meminta agar Trump dibimbing dalam masa sulit yang dihadapi negara ini. Doa tersebut mengandung harapan bahwa hikmat dari surga akan memenuhi hati dan pikiran presiden.
Selain para pendeta laki-laki, ada satu sosok yang menarik perhatian netizen: seorang pendeta wanita yang mengenakan setelan merah dan berada di samping kiri Trump. Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, sosok tersebut adalah Paula Michelle White-Cain, seorang televangelist kelahiran Mississippi yang kini berusia 59 tahun.
Profil Lengkap Paula White
White merupakan salah satu penasihat spiritual Trump dan kini menjabat sebagai Kepala Kantor Kepercayaan Gedung Putih. Ia juga menjadi pendeta di Gereja StoryLife dan Gereja City of Destiny Church di Florida, AS. Hubungan antara Trump dan White sudah terjalin sejak tahun 2002 ketika Trump menonton acara khotbah White di televisi. Setelah itu, Trump menghubungi White dan memujinya atas ajaran yang disampaikannya.
Pada kampanye Pilpres AS 2016, Trump menunjuk White sebagai ketua dewan penasihat evangelisnya. Namun, White tidak selalu diterima dengan baik karena beberapa kontroversi yang melibatkannya.
Kontroversi yang Melibatkan Paula White
Salah satu isu besar yang melibatkan White adalah permintaan imbalan doa sebesar 1.000 dolar AS. Dikutip dari The Guardian, White pernah dikecam karena mematok harga untuk tiap doa yang ditujukan kepada umat. Uang tersebut dianggap sebagai ‘uang untuk berkat’ sesuai ajaran teologi kemakmuran yang sering dikritik.
Juru bicara Paula White Ministries membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa permintaan sumbangan hanya untuk kebutuhan pelayanan. Mereka menegaskan bahwa setiap sumbangan harus sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dan tidak secara langsung menguntungkan White.
Sebelumnya, pada tahun 2016, White juga pernah dikecam karena menjual “benih kebangkitan” seharga 1.144 dolar AS dengan klaim bahwa harga tersebut telah diberitahu oleh Tuhan. Ia bahkan mengutip ayat Alkitab untuk mendukung klaim tersebut.
Penyalahgunaan Dana Amal dan Kontroversi Lainnya
Pada periode 2007–2011, Komite Keuangan Senat menyelidiki enam pendeta televangelis termasuk White yang diduga menyalahgunakan dana amal bebas pajak. Gereja Without Walls International Church, yang pernah dipimpin White, diduga menggunakan dana amal untuk kepentingan pribadi seperti pembelian jet pribadi, tiket ke Kepulauan Cayman, pertandingan tinju di Las Vegas, serta mansion senilai 8.000 meter persegi di Florida. Bahkan, dana amal tersebut diduga digunakan untuk membeli kondominium senilai 3,5 juta dolar AS di Trump Tower, New York.
Selain itu, White juga pernah memicu kontroversi dengan menyebut gerakan Black Lives Matter sebagai gerakan “anti Kristus”. Gerakan ini awal mula muncul buntut dari kasus pembunuhan George Zimmerman terhadap Trayvon Martin pada tahun 2013.











