Peristiwa Penganiayaan yang Menewaskan Warga Cianjur
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, menyatakan komitmennya untuk memastikan kehidupan ibu korban tetap terjamin setelah putranya, MI (56), tewas akibat penganiayaan oleh pemilik kebun labu siam. Insiden ini terjadi karena MI nekat mencuri dua labu siam milik UA (41) untuk berbuka puasa dan memberi makan ibunya yang sudah lanjut usia.
MI merupakan warga asal Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Meski terdaftar sebagai penerima sejumlah bantuan sosial seperti BLT, BPJS, dan bantuan pangan beras, kondisi ekonominya tetap sangat sulit. Hal ini membuatnya terpaksa melakukan tindakan ilegal untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Profil Bupati Cianjur
Mohammad Wahyu Ferdian, yang kini menjabat sebagai Bupati Cianjur, memiliki latar belakang pendidikan kedokteran yang kuat. Ia lulus sarjana kedokteran dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) pada 2006, kemudian melanjutkan studi spesialis obstetri dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) pada 2014. Selain itu, ia juga meraih gelar S-2 dalam manajemen rumah sakit serta gelar nonakademik CH dan CHT dalam bidang hipnosi dan hipnoterapi.
Sebelum masuk ke dunia politik, Wahyu bekerja sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi di RSUD Sayang dan RSUD Bhayangkara Cianjur. Ia membuka praktik di RSUD Sayang Cianjur dan masih aktif melayani masyarakat hingga saat ini.
Kronologi Kejadian
Insiden dugaan penganiayaan terhadap MI berawal ketika korban mencuri dua labu siam milik UA (41). Setelah ditemukan oleh pelaku, MI ditangkap dan dianiaya secara fisik hingga mengalami cedera parah. Adik korban, Cucum Suhenda (50), mengaku tidak berani campur tangan saat kejadian berlangsung. Ia hanya bisa menolong kakaknya setelah pelaku pergi.
Setelah pulang ke rumah, MI menunjukkan dua labu siam yang dibawanya dan mengakui telah mengambilnya. Labu tersebut akan dimasak untuk berbuka puasa. Namun, kondisi kesehatan MI mulai menurun drastis setelah kejadian tersebut, dengan gejala pusing hebat dan muntah-muntah hingga akhirnya pingsan.
Tanggung Jawab Pemerintah Daerah
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, menegaskan bahwa pihaknya akan bertanggung jawab atas kehidupan ibu korban yang kini hidup dalam kondisi renta. Ia mengingatkan bahwa korban selama ini tinggal berdua merawat ibunya yang sudah jompo.
“Mulai hari ini, Emak (ibu korban) akan diurus oleh pemda. Kami harus hadir dan bertanggung jawab,” ujar Wahyu.
Selain itu, ia juga meminta jajarannya memperketat pendataan dan pengawasan terhadap warga tidak mampu dan kelompok rentan ekonomi. “Saya akan menginstruksikan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta instansi terkait lainnya untuk melakukan pendataan dan memverifikasi ulang penerima bantuan, agar penyalurannya bisa tepat sasaran,” tambahnya.
Pelaku Diamankan
Kepala Polsek Cugenang, Kompol Usep Nurdin, menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah mengamankan terduga pelaku berinisial UA (41) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Insiden bermula ketika UA memergoki MI mengambil labu siam di kebunnya. Pelaku kemudian mengejar korban hingga ke depan rumah MI dan melakukan aksi kekerasan fisik secara bertubi-tubi.
Korban dipukul menggunakan tangan kosong dan ditendang berulang kali hingga mengalami luka fisik yang cukup parah di berbagai bagian tubuh sensitif. Akibat penganiayaan itu, korban mengalami luka lebam di bagian mata, kepala, dan leher, serta memar dan lecet di bahu dan lengan. Korban juga mengalami hidung berdarah, pusing, muntah-muntah, serta benjolan di bagian belakang kepala.











