"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Debat Sengit Prabowo vs Najwa Shihab, Terputus oleh Hasan Nasbi

Perdebatan Sengit antara Prabowo dan Najwa Shihab tentang Aksi Demonstrasi Agustus 2025

Pada sebuah forum diskusi yang diadakan di kediaman Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Hambalang, Bogor, terjadi perdebatan sengit antara Presiden Prabowo Subianto dengan jurnalis senior, Najwa Shihab. Topik utama yang dibahas adalah aksi demonstrasi pada Agustus 2025 yang dinilai oleh Prabowo sebagai bentuk makar.

Perdebatan ini dimulai ketika Nana, panggilan Najwa Shihab, mengajukan pertanyaan kritis terkait batas antara kritik terhadap pemerintah dan tindakan yang dianggap sebagai upaya makar. Ia menanyakan apakah kritik-kritik keras terhadap pemerintah bermuara pada keinginan pergantian rezim.

Prabowo menjawab bahwa tidak semua kritik mengarah ke sana, tetapi ia meyakini ada sebagian yang memiliki tujuan tersebut. “Tidak semuanya, tapi ada. Oh jelas ada,” kata Prabowo.

Perdebatan mulai memanas saat Nana mempertanyakan bagaimana pemerintah membedakan kritik yang sah dengan tindakan yang dinilai sudah kelewatan. Ia juga menyinggung pernyataan Prabowo sebelumnya yang menyebut aksi demonstrasi pada Agustus sebagai bentuk ‘makar’.

Prabowo menjawab tegas. Ia menyebut tindakan pembakaran gedung pemerintah, seperti DPR dan kantor gubernur, sebagai bentuk makar. “Oh jelas Agustus, jelas makar. Dia (pelaku) membakar Gedung DPR, Kantor Gubernur. Institusi pemerintahan mau dibakar, that’s makar. Bikin kerusuhan. Bawa bom molotov. Tidak ada LSM yang ribut soal bom molotov. Ada yang protes ga?” jawab Prabowo.

Namun, Nana membantah anggapan bahwa tidak ada reaksi publik terhadap aksi tersebut. Ia menyebut banyak pihak, termasuk media, yang mengecam penggunaan bom molotov dalam demonstrasi. Pernyataan itu langsung disanggah Prabowo. “Oh, come on. Jujur buka rekam digitalnya,” ucapnya.

Di tengah diskusi yang semakin sengit, moderator, Hasan Nasbi sempat mencoba menghentikan sesi tersebut dengan mengatakan bahwa diskusi untuk bagian pertama sebaiknya dicukupkan. Namun, Prabowo menolak dan memilih melanjutkan jawabannya. “Enggak-enggak biar aja. Ini kesempatan biar saya jawab. Ada yang ribut enggak soal bom molotov?” tanya Prabowo ke Nana.

Perdebatan pun berlanjut, dengan Nana kembali menegaskan bahwa banyak pihak telah mengecam aksi kekerasan dalam demonstrasi tersebut. “Oh come on. Enggak ada sedikit. Saya hormati itu, silakan. Tapi begitu bakar-bakar itu kriminal,” jawab Prabowo lagi.

Nana lalu menyoroti fakta bahwa ratusan orang yang ditangkap dalam aksi itu mayoritas adalah mahasiswa dan aktivis. Ia bahkan mengutip sebuah penelitian yang menyebut penangkapan tersebut sebagai salah satu yang terbesar sejak era reformasi. “Kenyataannya pak, itu ratusan yang ditangkap kemarin, itu kebanyakan mahasiswa. Ada satu penelitian yang menyebut, terbesar sejak zaman reformasi penangkapan terhadap mahasiswa dan aktivis pak,” katanya.

Ia kemudian mempertanyakan mengapa aktor intelektual atau pihak yang diduga sebagai provokator belum berhasil diungkap dan dibawa ke pengadilan. “Tetapi provokatornya, atau siapapun yang bertanggung jawab, aktor yang menyuruh dan sebagainya itu tidak pernah terungkap alih-alih dibawa ke pengadilan pak presiden?” katanya lagi.

Menanggapi hal itu, Prabowo menyebut pengungkapan dalang di balik aksi tersebut sebagai tantangan yang masih dihadapi pemerintah. Ia juga mengingatkan bahwa masa pemerintahannya baru berjalan sekitar satu setengah tahun. “Masih ada waktu untuk membuktikan,” ujarnya.

Nana pun menutup dengan pernyataan singkat namun tegas. “Kami tunggu pembuktiannya, Pak Presiden.”




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *