"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Misteri Kematian Akseyna: 11 Tahun Perjalanan antara Kenangan dan Harapan

Mengenang Akseyna Ahad Dori: Perjalanan Kasus yang Masih Membuat Teka-Teki

Sebelas tahun telah berlalu sejak jasad Akseyna Ahad Dori, mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI), ditemukan mengambang di Danau Kenanga UI pada 2015. Kematian misteriusnya masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini. Untuk mengenang kepergian Ace—panggilan akrab Akseyna—UI menggelar memorial bertajuk “Satu Hati untuk Akseyna: Merawat Ingatan, Menjaga Harapan” di lingkungan kampus UI, Kamis (2/4/2026) kemarin.

Kegiatan ini menyajikan suasana hening dan penuh makna untuk mengenang sosok Ace, seorang mahasiswa jenius dengan IPK sempurna 4,00 di dua semester awal. Namun, hidupnya berakhir tragis pada 26 Maret 2015. Ia ditemukan tewas di Danau Kenanga dengan ransel berisi batu pemberat, memicu pertanyaan besar: apakah itu bunuh diri atau pembunuhan?

Teknik Digital Forensik dan Teka-Teki Laptop

Perjalanan kasus kematian Akseyna penuh liku. Di fase awal, aparat sempat mengarah pada dugaan bunuh diri, diperkuat dengan temuan secarik surat berbahasa Inggris yang berisi pesan perpisahan. Namun, keraguan muncul setelah keluarga korban menilai tulisan tersebut tidak identik dengan tulisan tangan Akseyna.

Polisi menghadapi tantangan berat karena TKP yang rusak akibat kerumunan massa saat penemuan jasad. Fokus penyelidikan beralih pada aspek ilmiah. Laptop dan ponsel milik Akseyna menjadi kunci utama yang diperiksa melalui teknik digital forensik di Puslabfor Mabes Polri. Langkah ini diambil setelah muncul fakta bahwa laptop korban sempat “diutak-atik” oleh beberapa rekan sesaat setelah ia menghilang.

Kejanggalan Surat Wasiat dan Analisis Grafolog

Dugaan awal bunuh diri sempat menguat karena temuan surat wasiat di kamar kosnya yang berbunyi, “Will not return for please don’t search for existence…”. Namun, analisis grafolog Deborah Dewi mematahkan keyakinan tersebut. Terdapat perbedaan karakter tulisan yang mencolok antara surat tersebut dengan tulisan asli Akseyna; mulai dari kemiringan huruf hingga bentuk huruf “G” yang khas.

Kesimpulan akhir kepolisian pada Mei 2015 menyatakan Akseyna tewas dibunuh. Hal ini didukung oleh temuan luka memar pada tubuh korban dan robekan pada bagian tumit sepatu yang mengindikasikan korban sempat diseret sebelum masuk ke air. Hasil otopsi pun menunjukkan Akseyna masih bernapas saat masuk ke air, namun tidak ditemukan organisme danau di paru-parunya, yang memicu spekulasi bahwa ia tidak meninggal di dalam danau tersebut.

Menanti Satu Bukti Terakhir

Ayah Akseyna, Marsekal Pertama TNI (Purn) Mardoto, tak pernah lelah menagih janji keadilan. Pada perkembangan terakhir, penyidik menyebut hanya membutuhkan “satu bukti lagi” untuk menetapkan tersangka. Meski identitas calon tersangka masih dirahasiakan, polisi terus memantau pergerakan rekan-rekan satu angkatan Akseyna yang kini telah lulus dan berkarier.

Bagi UI, Akseyna bukan sekadar nama dalam berkas perkara. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa dan Alumni UI, Hamdi Muluk, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga bentuk komitmen moral untuk menjaga nilai kemanusiaan dan keadilan. “Ingatan tentang Akseyna adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kepedulian, kebersamaan, dan keadilan yang terus diupayakan,” kata Hamdi Muluk.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *