"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Sejarah Masjid Al Baitul Amien, Ikon Agama Jember

Sejarah dan Keunikan Masjid Jami Al Baitul Amien Jember

Masjid Jami Al Baitul Amien Jember memiliki sejarah panjang yang terkait dengan perkembangan kota Jember. Dibangun di utara masjid lama, masjid ini diresmikan pada tahun 1978. Pembangunan dimulai atas inisiatif KH Ahmad Siddiq sebagai perwakilan ulama dan Mulyadi, Kepala Dinas PUD Kabupaten Jember, mewakili pemerintah daerah. Gagasan pembangunan masjid ini berlandaskan konsep tawaf, yang menggambarkan pergerakan mengelilingi Kabah dalam ibadah haji.

Perencanaan arsitektur masjid ini dilakukan oleh Ir Ya Ying K Kesser, seorang arsitek asal Bandung yang pernah menempuh pendidikan di California, Amerika Serikat. Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 1,75 hektare, yang merupakan gabungan tanah milik negara dan masyarakat. Lokasi masjid berada di pusat pemerintahan Kabupaten Jember, dikelilingi kantor pemerintahan dan fasilitas publik lainnya.

Penggunaan resmi masjid ini dimulai pada tahun 1978, bersamaan dengan peresmian Pasar Besar “Tanjung.” Sejak saat itu, masjid ini difungsikan sebagai Masjid Jami, yaitu pusat pelaksanaan salat Jumat serta salat hari raya. Pengelolaan masjid baru dan masjid lama tetap berada dalam satu manajemen, dengan pembagian fungsi. Masjid baru difokuskan sebagai pusat peribadatan utama, sementara masjid lama digunakan untuk kegiatan penunjang seperti pendidikan, perpustakaan, serta aktivitas keagamaan lainnya.

Karakteristik Arsitektur Masjid

Masjid Jami Al Baitul Amien memiliki karakter arsitektur yang berbeda dibandingkan masjid pada umumnya di Indonesia. Bangunan utama berbentuk kubah besar (dome) dengan diameter sekitar 34 meter, ditopang oleh struktur beton berbentuk busur. Di sekelilingnya terdapat beberapa bangunan pelengkap yang juga berbentuk kubah, digunakan untuk ruang ibadah wanita, anak-anak, serta fasilitas wudu.

Masjid ini tidak memiliki serambi seperti masjid tradisional pada umumnya. Sebagai gantinya, terdapat teras terbuka yang berfungsi sebagai area transisi menuju ruang utama. Di sisi selatan gerbang utama berdiri sebuah menara setinggi 33 meter, yang dilengkapi pengeras suara dan menjadi penanda visual kawasan masjid.

Dari segi interior, pencahayaan alami dimaksimalkan melalui penggunaan jendela kaca lebar yang mengelilingi bangunan. Sistem ventilasi dirancang untuk memungkinkan sirkulasi udara silang, sehingga ruang tetap sejuk tanpa bergantung pada ventilasi buatan. Selain itu, tata suara dalam ruang kubah diperhatikan dengan penggunaan material bertekstur pada langit-langit untuk meredam pantulan suara, sehingga mendukung kekhusyukan ibadah.

Perkembangan Tampilan Masjid

Dalam perkembangannya, tampilan masjid mengalami pembaruan dengan dominasi warna kuning keemasan pada kubah dan ornamen. Warna tersebut dipilih sebagai simbol semangat dan identitas Jember sebagai daerah penghasil tembakau berkualitas, yang dikenal dengan sebutan “daun emas.”


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *