"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kisah Karsono Angkat 10 Jenazah Korban Longsor Cibeunying: Mendermakan Diri adalah Ibadah



CILACAP,

Peran Penting Karsono dalam Operasi Pencarian Korban Longsor

Di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, proses pencarian korban longsor melibatkan sosok penting bernama Karsono (40). Sebagai anggota bela diri Merpati Putih, ia telah berhasil mengevakuasi 10 jenazah sejak operasi dimulai.

Karsono tiba di lokasi longsor pada Jumat (14/11/2025) dini hari, hanya beberapa jam setelah bencana terjadi. Ia menempuh perjalanan dari rumahnya di Desa Kedungurang, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB.

“Jam 03.00 saya sampai, istirahat sebentar, pagi apel menunggu arahan Basarnas, lalu langsung action,” ujarnya di lokasi, Rabu (19/11/2025).

Dalam proses evakuasi pada hari pertama, Karsono berhasil membantu menemukan satu korban. Namun, pencarian mencapai puncaknya pada hari kedua dan ketiga. “Hari Sabtu itu maksimal. Di atas dapat tiga, hari Minggu dapat empat lagi,” jelasnya.

Motivasi dari Orang Tua

Karsono, yang telah terjun dalam operasi kemanusiaan sejak tahun 1994, mengungkapkan motivasinya berasal dari pesan orang tuanya. “Orang tua saya bilang, ibadah itu bukan hanya shalat. Kamu dermakan diri untuk membantu sesama, itu juga ibadah. Dari situ saya langsung gas sampai sekarang,” tuturnya.

Sejak itu, ia aktif terlibat dalam berbagai operasi kemanusiaan, mulai dari tsunami Aceh hingga gempa Palu, dan memperkirakan telah mengevakuasi lebih dari 500 jenazah selama menjadi relawan.

Motivasi awal Karsono untuk menjadi relawan muncul ketika musibah tanah longsor terjadi di kampung halamannya. “Dulu ada musibah di kampung halaman. Orang panik semua, tidak ada yang evakuasi. Saya terkejut, harus bisa, harus berani,” kenangnya.

Ia pun belajar menghadapi kondisi ekstrem, termasuk menangani jenazah dalam keadaan mengenaskan.

Tantangan dalam Operasi Pencarian

Pencarian korban longsor di Cibeunying memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. “Survivor itu rata-rata kesangkut reruntuhan dan puing-puing, baik besi maupun kayu rumah. Kita harus teliti, sabar, dan mentalnya kuat,” ungkap Karsono.

Ia menambahkan bahwa beberapa jenazah ditemukan dalam kondisi tidak utuh akibat benturan material longsor. Cuaca juga menjadi tantangan tersendiri, dengan intensitas hujan yang tinggi beberapa kali menghentikan proses pencarian. “Kita lagi kerja enak-enaknya, tahu-tahu hujan deras datang. Dua-tiga kali disuruh minggir dulu, jadi terhambat,” katanya.

Profesi Harian dan Dukungan Keluarga

Di kehidupan sehari-hari, Karsono bekerja sebagai tenaga PPNPN (non-PNS) di Lapas Nusakambangan. Ia mendapatkan izin khusus dari pimpinan setiap kali harus turun dalam misi kemanusiaan. “Saya izin kalau ada musibah seperti ini, pasti dikasih. Saya fokusnya memang di kemanusiaan,” ujarnya.

Dukungan dari keluarga juga sangat berarti bagi Karsono. “Keluarga tidak ada masalah,” jelasnya, merujuk pada keputusan untuk berhari-hari meninggalkan rumah demi tugas kemanusiaan.

Rencana dan Persiapan

Karsono bertekad untuk tetap berada di lokasi Cibeunying sampai Basarnas menyatakan operasi selesai. Setelah itu, ia siap menuju lokasi longsor di Banjarnegara. “Kalau di sini off, saya pulang sebentar, habis itu geser ke Banjarnegara. Sudah ditunggu di sana,” katanya.

Sebelum menjalankan tugas, Karsono selalu memastikan kondisi tubuhnya fit. Ia rutin menjalani tes kesehatan sebelum dan setelah bertugas. “Tadi baru vaksin tetanus, dicek darah 120/80. Sehat, jadi saya terjun, kalau tidak fit istirahat dulu,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *