Kabar Kematian Dosen di Semarang yang Menghebohkan
Kabar duka kembali mengguncang dunia akademik di Kota Semarang. Dwinanda Linchia Levi, seorang dosen muda dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, meninggal dunia pada Senin (17/11/2025) petang. Kematian ini menimbulkan banyak tanya, terutama karena kehidupan pribadi korban yang ternyata tidak diketahui oleh keluarga.
Keluarga Tidak Mengetahui Hubungan dengan AKBP Basuki
Kakak dari Dwinanda, Perdana Cahya Devian Melasco alias Vian, mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui kabar kematian adiknya pada Senin sore. Ia mengaku tidak mengetahui tentang hubungan adiknya dengan AKBP Basuki, seorang perwira polisi yang ditahan selama 20 hari setelah melanggar kode etik profesi Polri.
AKBP Basuki dan Dwinanda diduga tinggal satu atap tanpa adanya ikatan perkawinan sah. Mereka bahkan memiliki Kartu Keluarga (KK) yang sama. Alamat rumah mereka juga tercatat di sebuah perumahan daerah Kedungmundu, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Kehidupan Pribadi yang Tertutup
Vian menyebut adiknya sebagai sosok yang sangat tertutup. Ia tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya. “Selama ini saya kurang begitu paham karena enggak pernah cerita, korban ini tertutup, iya (pendiam),” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa informasi pertama tentang kematian adiknya datang dari pihak kampus. Pihak kampus mengklaim tidak memiliki nomor kontak keluarga Dwinanda, sehingga hanya bisa memberi tahu pada Senin malam.
Kehidupan Profesional dan Kesehatan Dwinanda
Dwinanda Linchia Levi adalah seorang wanita berusia 35 tahun asal Purwokerto, Jawa Tengah. Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada tahun 2008. Setelah orangtuanya meninggal, ia merantau ke Semarang dan bekerja sebagai dosen di Untag Semarang.
Ia mengajar hukum pidana di Fakultas Hukum Untag. Statusnya masih lajang. Sebelum ditemukan tewas di hotel, Dwinanda sempat memeriksakan diri ke Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Hasil rekam medis menunjukkan bahwa ia memiliki tensi tinggi yakni 190 mmHg serta gula darah 600 mg/dL.
Hasil Autopsi yang Membuat Banyak Tanya
Hasil autopsi yang disampaikan secara lisan kepada keluarga menunjukkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh Dwinanda. Korban diduga mengalami pecah jantung akibat aktivitas berat yang dilakukannya sebelum ditemukan meninggal tanpa busana.
Terkait hal ini, keluarga mempertanyakan aktivitas berat apa yang dilakukan korban. Mereka berharap polisi dapat mengusut teka-teki tersebut sampai tuntas.












