"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Pengakuan Bupati Setelah 3 Hari Hilang di Lokasi Banjir, Tanpa Listrik dan Sinyal

Pengalaman Bupati Terjebak Banjir dan Tantangan Pemulihan

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, mengalami pengalaman tak terlupakan saat terjebak dalam bencana banjir yang melanda wilayahnya. Selama tiga hari terakhir, ia menyusuri berbagai kecamatan di kabupaten tersebut untuk meninjau korban banjir. Tanpa listrik dan sinyal ponsel, ia terus menerobos menggunakan speed boat menuju daerah-daerah yang terkena dampak banjir.

Seluruh kantor pemerintahan, sekolah, dan layanan kesehatan lumpuh akibat banjir. Bupati yang akrab disapa Ayahwa ini membawa sarung untuk menahan dinginnya air banjir selama perjalanan. Ia juga menggantungkan diri pada senter sebagai alat penerangan, karena jaringan listrik dan telekomunikasi belum pulih. Setiap kali ada mesin generator, ia langsung mengisi ulang senter agar bisa melanjutkan pencarian korban.

Hingga saat ini, jumlah korban jiwa mencapai 30 orang. Sebanyak 27 kecamatan terendam banjir dan longsor. Bantuan bahan pangan di gudang Dinas Sosial Kabupaten Aceh Utara mulai menipis. Semua bahan pangan yang masuk ke posko utama langsung didistribusikan tanpa menumpuk di posko. Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf, yang akrab disapa Mualem sedang dalam perjalanan dengan helikopter ke Aceh Utara untuk memberikan dukungan.

Ribuan rumah rusak, jalan, jembatan, dan fasilitas umum juga rusak. Bupati meminta dukungan dari Gubernur dan Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk pemulihan Aceh Utara. Hingga kini, masih ada lokasi yang belum bisa diakses oleh tim lapangan. Malam ini, Bupati akan memimpin pencarian korban lagi. Jika ada informasi warga hilang, tim akan segera dikerahkan.

Bantuan Pemerintah yang Minim dan Kekurangan Logistik

Lambatnya bantuan pemerintah terhadap korban bencana banjir tampaknya masih sangat minim. Warga yang menjadi korban sudah sangat berharap uluran dana pemerintah. Dean Ramadhana (26), salah satu warga yang terdampak parah akibat banjir di Gang Flamboyan, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara, mengungkapkan bahwa setelah banjir surut, ia kini memikirkan apa yang bakal dikonsumsi oleh keluarganya.

Semua bahan kebutuhan untuk memasak di dapurnya habis disapu air sungai. Logistik dari Pemerintah belum ada masuk, cuma bantuan makanan nasi bungkus yang diambil dari posko. Dean berharap Pemerintah Kota Medan atau Provinsi secepat mungkin menyalurkan bantuan logistik yang memadai. Ia menyampaikan bahwa sejak kemarin hingga sekarang belum mendapat bantuan. Ia berharap beras atau kebutuhan pokok lebih dahulu.

Bukan hanya Dean, warga lain seperti Carolina Sitopu juga menyampaikan bahwa dirinya belum mendapatkan bantuan Pemerintah sejak rumahnya dimasuki air banjir. Carolina mengatakan bahwa mereka perlu bantuan seperti beras. Apalagi mereka juga belum bisa tidur karena rumah masih kotor.

Bantuan Swadaya Masyarakat dan Kesulitan di Lokasi Pengungsian

Begitu juga dengan ratusan warga yang mengungsi di Mesjid At-Tarbiyah, Marelan, yang belum menerima bantuan Pemerintah. Mereka sejauh ini hanya mendapat uluran tangan swadaya masyarakat. Penasehat masjid bermarga Butar-butar mengatakan, warga yang mengungsi di masjid tersebut awalnya mencapai 700 orang, namun sebagian sudah pulang.

Pengungsi yang masih bertahan di rumah ibadah tersebut adalah warga yang rumahnya masih terendam banjir. Bantuan pemerintah belum ada. Ini semua dari swadaya masyarakat. Mudah-mudahan ada perhatian Pemeriptah, kita syukuri.

Banjir yang melanda Kota Medan pada Kamis (27/11/2025) dini hari menyebabkan puluhan ribu masyarakat terdampak dan harus tinggal di posko darurat serta lokasi pengungsian lainnya. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengatakan hampir seluruh Kota Medan, 21 Kecamatan terendam banjir dan jumlah masyarakat yang mengevakuasi diri, menurut data mereka, sekitar 85 ribu jiwa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *