Dampak Banjira di Bireuen
Banjir yang melanda Kabupaten Bireuen tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu dampak utama adalah putusnya jembatan dan ratusan rumah yang hancur akibat derasnya air. Data sementara menunjukkan bahwa sebanyak 2.340 kepala keluarga dari 200 gampong mengungsi ke meunasah, masjid, dan tempat aman lainnya.
Menurut Kalak BPBD Bireuen, Afwadi BA, dampak banjir ini telah merambat ke 609 gampong dalam 17 kecamatan di Bireuen. Dari jumlah tersebut, 400 desa terkena dampak banjir, dan warga mengungsi baik di lokasi masing-masing maupun di sekitar wilayah tersebut. Namun, data ini masih bersifat sementara karena banyak desa yang terisolir seperti di Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Makmur, maupun Gandapura.
Bantuan makanan sudah mulai didistribusikan sejak Kamis sore dan dilanjutkan pada Jumat (28/11/2025). Kini, tim terpadu akan terus mendistribusikan bantuan tersebut. Dalam peristiwa banjir bandang ini, tercatat lima jiwa warga Bireuen meninggal dunia, dan pendataan masih terus dilakukan.
Koordinasi dengan Berbagai Pihak
Afwadi menjelaskan bahwa banyak gampong belum terhubung karena akses jalan terputus. Meskipun demikian, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal.
Sebelum bencana terjadi, upaya pencegahan telah dilakukan oleh Pemkab Bireuen melalui BPBD setelah mendapat informasi dari BMKG. Pihaknya sudah memberi imbauan kepada masyarakat melalui camat dan keuchik agar siap menghadapi banjir yang diperkirakan terjadi akibat hujan deras dari 22-26 November 2025. Namun, kemungkinan luapan banjir kali ini di luar prediksi, sehingga banyak masyarakat kurang kesiapsiagaan dan masih bertahan di rumah, sehingga banyak yang terjebak dalam banjir.
Evakuasi dan Bantuan Darurat
Saat banjir terjadi, BPBD, Basarnas, TNI-Polri, serta relawan dan warga membantu evakuasi masyarakat di beberapa titik yang terjebak banjir. Mereka dievakuasi ke lokasi aman menggunakan rubber boat. Namun, evakuasi oleh tim gabungan terkendala karena banjir melanda 17 kecamatan dan air yang tergenang membuat jalan tidak bisa dilalui kendaraan.
Dengan kondisi ini, satu-satunya cara evakuasi adalah menggunakan rubber boat selama tiga hari berturut-turut, sehingga banyak warga berhasil terselamatkan. Kerugian akibat banjir ini mencakup kerusakan rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas umum lainnya, yang ditaksir mencapai triliunan rupiah.
Penanganan dari Pemerintah dan Tim Gabungan
Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0111 Bireuen, Letkol Arh Luthfi Novriadi, menyampaikan bahwa pihaknya sedang berada di posko penanganan banjir. Dalam upaya penanganan korban bencana, pihaknya melibatkan personel Kodim 0111 Bireuen, Batalyon 113 Jaya Sakti, Subdenpom 1-1/IM Bireuen, Polres Bireuen, BPBD, SAR, Dinas Sosial, dan relawan.
Dijelaskan bahwa dampak banjir di Bireuen menyebabkan putusnya suplai arus listrik. Untuk mengatasi hal ini, pusat telah mengirim tower sementara agar dapat tersambung kembali. Selain itu, dukungan dari Perhubungan Kodam telah diberikan untuk pemasangan jaringan star link sebagai jaringan internet sementara.
Akses Penyeberangan di Kuta Blang
Karena semua jembatan yang menghubungkan Bireuen dengan Aceh Utara dan Aceh Tengah sekitarnya putus sepanjang aliran sungai Krueng Peusangan, pergeseran materil dan personel menjadi terhambat. Untuk mengatasi hal ini, saat ini warga menggunakan rakit sebagai akses penyeberangan di Kuta Blang.
Dari Pemkab Bireuen melalui BPBD telah mengirim perahu karet dan tadi pagi sudah dikerahkan personel ke jembatan Kuta Blang karena di sana terjadi titik penumpukan massa. “Kita dari pemerintah pusat sudah meminta pengiriman dapur umum guna membantu masyarakat selama proses mereka berpindah,” ujar Dandim Bireuen.











