"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

303 Orang Tewas Akibat Banjir Sumatera, BNPB: Kekengeranan di Media Sosial

Situasi Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan bahwa banjir dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera terlihat mencekam di media sosial. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi di lapangan sudah membaik setelah pihaknya melakukan peninjauan langsung.

Menurut Suharyanto, banjir besar yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh masih berada pada tingkat daerah provinsi. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa informasi dan video yang beredar di media sosial sempat menciptakan kesan krisis yang sangat menegangkan. Hal ini terjadi karena laporan warga yang terisolasi dan jaringan komunikasi yang terputus menyebar luas.

“Memang kemarin kelihatannya mencekam karena berseliweran di media sosial, tetapi begitu kami tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan. Yang paling serius memang Tapanuli Tengah, tetapi wilayah lain relatif membaik,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers.

Pemerintah belum menaikkan status bencana tersebut menjadi bencana nasional karena parameter utama untuk penetapan bencana nasional sangat ketat. Parameter tersebut meliputi kerusakan absolut, lumpuhnya pemerintahan daerah, hingga hilangnya kendali layanan publik. Menurut Suharyanto, situasi bencana di Sumatera belum mencapai ambang batas tersebut.

Korban Jiwa dalam Bencana

Berdasarkan data terbaru, sebanyak 303 korban tewas dalam bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di tiga provinsi wilayah Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Bencana ini dalam sepekan terakhir meninggalkan kerusakan besar, dengan ratusan nyawa melayang akibat air bah dan material longsoran.

Sumatera Utara: 166 Orang Tewas

Sumatera Utara menjadi provinsi dengan korban meninggal terbanyak akibat banjir dan tanah longsor. Tercatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih dinyatakan hilang. Dampak terbesar bencana ini terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

“Sumatra Utara sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia. Dalam satu hari ini bertambah menjadi 60 korban jiwa berkat operasi pencarian dan pertolongan oleh tim gabungan yang dipimpin oleh Basarnas. Kemudian ada 103 jiwa yang masih hilang,” kata Kepala BNPB, Suharyanto dalam keterangan tertulis.

Ribuan warga mengungsi di berbagai titik akibat kondisi pemukiman yang rusak dan akses yang terputus. Di Tapanuli Selatan dan Kota Sibolga, jumlah pengungsi mencapai ribuan jiwa. Sementara itu, di Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan, dilaporkan ratusan hingga ribuan kepala keluarga mengungsi.

Sumatera Barat: 90 Orang Tewas

Di Sumatera Barat, tercatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 lainnya mengalami luka-luka. Kabupaten Agam mencatat jumlah korban tertinggi. Berdasarkan data sementara, sebanyak 11.820 kepala keluarga atau sekira 77.918 jiwa mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Aceh: 47 Orang Tewas

Di Aceh, korban jiwa akibat bencana hidrimeteorologi ini mencapai 47 orang, 51 orang hilang, dan 8 luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga yang tersebar di berbagai wilayah, dengan sebaran tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

“Untuk wilayah Aceh ada 47, kemudian 51 masih hilang dan 8 luka-luka. Ini akan berkembang terus datanya, karena ada operasi SAR gabungan yang kemungkinan akan terus menemukan korban,” terang Suharyanto.

Kondisi Terkini dan Upaya Penanggulangan

Meski situasi di lapangan sudah membaik, pihak BNPB tetap berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Bantuan logistik, evakuasi, dan perbaikan infrastruktur terus dilakukan. Sementara itu, operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung di beberapa wilayah yang masih terdampak.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *