"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Pengakuan Awal Dewi Astutik Sebelum Jadi Bandar Narkoba Internasional

Latar Belakang dan Perjalanan Dewi Astutik

Dewi Astutik, yang juga dikenal dengan nama Paryatin atau Mami, sebelumnya merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di beberapa negara. Ia pernah bekerja di Taiwan dan Hongkong sebelum akhirnya berangkat ke Kamboja pada tahun 2023 untuk kembali mencari nafkah sebagai tenaga kerja migran. Namun, situasi yang terjadi di Kamboja membuatnya terjebak dalam aktivitas ilegal.

Awalnya, ia hanya bekerja sebagai TKW di Kamboja, tetapi kemudian tergiur oleh peluang mendapatkan uang cepat. Hal ini membawanya terlibat dalam praktik scamming yang marak di sana. Scamming adalah aktivitas ilegal yang menipu orang lain melalui penipuan online atau telepon. Dewi awalnya tidak terlibat secara langsung dalam bisnis narkoba, tetapi seiring waktu, ia bertemu dengan WN Nigeria berinisial DON, yang menjadi pengarah utamanya.

Peran DON dalam Jaringan Narkoba

DON, yang disebut sebagai “godfather” oleh pihak berwenang, menjadi mentor dan pembimbing bagi Dewi dalam menjalani bisnis narkotika. Dari sinilah jaringan internasional yang dibangun keduanya mulai berkembang. Jaringan tersebut tidak hanya terbatas di Kamboja, tetapi juga menyebar ke berbagai negara di Asia hingga Afrika.

Menurut informasi dari Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Dewi memainkan peran penting dalam merekrut para kurir narkoba. Target utamanya adalah warga negara Indonesia (WNI) yang sedang tidak memiliki pekerjaan di Kamboja. Ia mencari individu yang bersedia bergabung dengan jaringan narkoba ini, terutama mereka yang membutuhkan uang.

Operasi dan Penangkapan Dewi Astutik

Jaringan narkoba yang dikendalikan oleh Dewi Astutik ternyata sangat luas. BNN menemukan bahwa operasi pengedaran narkoba ini mencakup beberapa negara, termasuk Indonesia, Kamboja, Laos, Hongkong, Korea Selatan, Brasil, dan Ethiopia. Dewi Astutik masuk dalam daftar buronan terkait kasus penyelundupan dua ton sabu yang digagalkan pada Mei 2025 oleh jaringan Golden Triangle.

Penangkapan terhadap Dewi dilakukan saat ia hendak menuju lobi hotel di Sihanoukville, Kamboja. Operasi ini melibatkan BNN, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, dan BAIS TNI. Setelah ditangkap, ia dibawa ke Phnom Penh untuk verifikasi identitas dan proses administrasi, sebelum akhirnya diserahkan kepada otoritas Indonesia.

Reaksi Warga Ponorogo

Kabar penangkapan Dewi Astutik menghebohkan warga Ponorogo, Jawa Timur. Warga kaget karena perempuan yang selama ini dikenal sebagai pekerja migran ternyata menjadi gembong narkoba internasional. Dewi lahir dan besar di Dusun Tenun, Desa Broto, Kecamatan Slahung, Ponorogo. Ia tinggal di Dusun Sumberagung, Desa/Kecamatan Balong setelah menikah dengan Sarno.

Kepala Dusun Tenun, Didik Harirawan, mengaku kaget setelah melihat foto tersangka dalam pemberitaan nasional. “Kaget lihat fotonya. Itu kan Paryatin. Wajahnya sama, hanya sekarang gemuk,” ujar Didik. Menurutnya, Dewi sudah lama bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI), bahkan sejak lulus SMP.

Aktivitas dan Kehidupan Sehari-hari

Selama tinggal di Ponorogo, Dewi dikenal sebagai sosok yang royal kepada orang tua dan hidup sederhana. Ia sering berjualan nasi keliling di acara hajatan, wayang, dan reog. Saat pulang ke Ponorogo pada 2023, aktivitasnya tampak wajar dan tidak menunjukkan tanda-tanda mencolok.

Namun, pada 2024, ia kembali berangkat ke luar negeri dengan alasan bekerja di Taiwan. Siapa sangka, ia justru menjadi aktor intelektual dalam penyelundupan narkotika internasional.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *