"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kapal Pinisi Tenggelam di Pulau Padar – “Kami Tak Akan Kembali ke Spanyol Tanpa Mereka Berempat”

Kecelakaan KM Putri Sakinah: Duka yang Tak Terlukiskan dan Benang Kusut Ekosistem Pariwisata

Kecelakaan kapal pinisi KM Putri Sakinah di perairan Pulau Padar pada Jumat malam (26/12) disebut keluarga korban sebagai “duka yang tak terlukiskan”. Pegiat pariwisata Labuan Bajo menyebut insiden ini menandakan “benang kusut ekosistem industri”. Tanpa perbaikan sistem, salah satu destinasi prioritas pariwisata Indonesia itu dapat terpuruk.

KM Putri Sakinah tenggelam di perairan Pulau Padar pada Jumat malam (26/12). Kapal itu mengangkut 11 orang, lima di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari kapten kapal, pemandu wisata dan anak buah kapal. Enam penumpang lainnya warga negara Spanyol: Fernando Martin Carreras bersama istri dan empat anaknya. Fernando adalah pelatih Tim B Putri klub Liga Spanyol Valencia.

Istri dan satu anaknya selamat, tetapi Fernando dan tiga anak mereka yang lain dinyatakan hilang. Namun, Senin pagi (29/12) tim SAR gabungan menemukan satu jenazah perempuan di perairan utara pulau Serai, Labuan Bajo, berdasarkan laporan nelayan setempat. Pihak keluarga korban telah mengonfirmasi kematian salah satu dari tiga anggota keluarga lainnya yang masih hilang.

Koordinator pendamping keluarga korban, Budi Widjaja mengatakan, kondisi psikis keluarga korban dikatakan “naik turun”. “Tadi pagi sempat ‘turun’ ketika jasad putrinya ditemukan, tak lama [kondisi psikisnya] mulai stabil, terlihat bisa menerima, dan berharap untuk bisa segera menemukan tiga keluarga lain yang belum ditemukan,” kata Budi yang juga ketua DPC Gabungan Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri).

Dalam pernyataan tertulisnya, keluarga korban menyatakan:
“Di saat duka yang tak terlukiskan ini, kami meminta Anda untuk menghormati privasi keluarga kami. Kami bersyukur atas semua dukungan yang kami terima, baik di Spanyol maupun Indonesia, dan kami percaya bahwa pencarian akan terus berlanjut.”

Terlebih, pada hari keempat pencarian, polisi mengungkap telah mendatangkan drone bawah air sebagai upaya lanjutan agar korban bisa cepat ditemukan.

Kabar itu pun sampai ke keluarga korban. “Pada saat saya dapat informasi itu dan sudah terkonfirmasi, saya segera memberi tahu keluarga korban, mereka antusias dan semangat bisa menemukan keluarganya yang hilang.” Dalam pernyataan tertulisnya, keluarga korban juga berkata, “Kami tidak akan kembali ke Spanyol tanpa mereka berempat bersama-sama.”

“Ini bukan soal pencarian saja. Pihak keluarga membutuhkan closure, atau penutupan dari cerita ini,” kata Budi, yang setidaknya kerap mendampingi keluarga korban dalam insiden perahu karam dalam 30 tahun terakhir.

Sebanyak 79 petugas dari Basarnas, lima penyelam, belum lagi polisi dan satuan lainnya, ikut berperan dalam pencarian korban. Pada Minggu (28/12), Kapal Negara (KN) SAR Puntadewa 250 datang. Kapal itu memiliki kemampuan melakukan pencarian di laut terbuka.

Masalah Kerap Muncul dalam Kecelakaan Kapal di Indonesia

Kapal tenggelam berulang kali terjadi di Indonesia, dua masalah kerap muncul. Cerita penyintas kapal tenggelam di Selat Bali – ‘Saya rangkul bapak saat tenggelam, tapi bapak sudah tak ada’. Tim SAR temukan dua jenazah diduga korban KMP Tunu Pratama Jaya.

Dalam operasi pencarian, Tim SAR Gabungan menghadapi tantangan karakter perairan di sekitar Pulau Padar yang dikenal memiliki arus laut kuat dan berubah-ubah. “Arus sangat kuat sehingga menyulitkan tim melakukan pencarian di bawah laut, sementara di atas permukaan ada anomali perubahan cuaca,” kata Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus koordinator misi pencarian, Fathur Rahman.

Perairan ini merupakan jalur pertemuan arus dari Laut Flores dan Selat Sape, sehingga pergerakan arus dapat membawa objek terapung menjauh dari lokasi awal kejadian. Karakter perairan tersebut membuat area pencarian terus diperluas. Tidak hanya di sekitar titik tenggelamnya KM Putri Sakinah, tetapi juga mengikuti pola arus permukaan yang berpotensi membawa korban ke arah utara dan barat perairan Labuan Bajo.

Selain arus, kontur perairan yang terbuka serta banyaknya pulau kecil di kawasan Taman Nasional Komodo turut memengaruhi pola pencarian. Meski demikian, operasi pencarian korban warga negara Spanyol itu masih berlanjut.

Cuaca Labuan Bajo di Hari Petaka

Pada Jumat pagi (26/12), menurut Budi Widjaja, kondisi cuaca bagus. Sekitar 188 kapal melintas dari Pelabuhan Labuan Bajo. Namun, sebelumnya sudah ada peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang potensi badai di selatan yang bisa terjadi.

Hingga sore harinya, sekitar pukul 15.30 WITA, seorang pegiat lingkungan lokal, Stefan Rafael, melihat ke arah Taman Nasional Komodo dari dek rumahnya di sebuah kapung nelayan, Labuan Bajo. “Sekitar kawasan Taman Nasional Komodo gelap, awan tebal kelabu terlihat dari kejauhan di bagian selatan Komodo,” ungkap Rafael.

Stefan yang juga kerap melaut untuk mencari ikan, menggambarkan fenomena kala-kala yang mungkin terjadi. “Ketika badai besar datang, bisa terjadi saat musim angin tenggara (Juli dan Agustus) juga pada musim angin barat (Desember dan Januari) setiap tahun. Arus dan gelombang deras pada kedua musim angin itu dapat menimbulkan kala-kala atau badai di laut dan selat yang sempit dan dangkal,” jelas Stefan.

Setidaknya dalam dua tahun terakhir, terdapat delapan kecelakaan kapal di sejumlah lokasi di sekitar Labuan Bajo. Menurut otoritas setempat, pada kecelakaan terakhir 26 Desember lalu, KM Putri Sakinah yang membawa 11 orang berangkat dari Pelabuhan Labuan Bajo sekitar pukul 12.00 WITA. “Kapal dinyatakan layak melaut dan cuaca cerah berawan. Rilis BMKG pun menyatakan cuaca cerah berawan, hanya anomali cuaca yang berlangsung singkat,” kata Stephanus Risdiyanto, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo.

Kapal sempat singgah di Pulau Kalong dan meninggalkan pulau itu pada 20.30 WITA, menuju Pulau Padar. Kapal mengalami mati mesin sekitar 30 menit setelah berlayar. Saat itulah kapal tidak bisa bermanuver saat ada dua gelombang tinggi datang menghantam. “Anomali cuaca yang berlangsung dalam periode yang singkat itu membuat kapal tenggelam.”

Dalam perjalanan menuju lokasi kecelakaan, tim penyelamat juga sempat dihantam gelombang tinggi sebanyak empat kali. Menurut Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, jelang sore hingga malam cuaca laut cenderung ekstrem. “Angin bertiup lebih kencang daripada siang hari, juga ada bangkitan gelombang tinggi,” tambah Eko. Pihak BMKG telah memberikan peringatan dini, soal potensi cuaca ekstrem pada 25 Desember.

Sebelumnya, menurut KSOP Labuan Bajo sudah ada Notice to Mariner dari 22 – 28 Desember, berupa imbauan agar lebih waspada dan menghindari area-area yang berbahaya untuk berlayar. Namun, usai peristiwa kecelakaan itu, pada 26 Desember, terbitlah Notice to Mariner baru, yang menutup sementara pelayaran ke Pulau Padar dan Pulau Komodo sampai batas waktu yang tak ditentukan. “Terutama pada saat pencarian korban,” ungkap Stephanus.

Sementara itu, menurut Budi, peringatan dini itu sudah diketahui oleh para pelaut. “Kami sebagai pelaut ketika diberi peringatan itu, berarti harus lebih waspada dan harus berlindung ketika cuaca memburuk, tetapi cuaca juga selalu berubah-ubah.” ungkapnya. Dia menambahkan, tak ada jaminan saat melaut akan ada potensi badai yang diprediksi BMKG akan terjadi di suatu wilayah.

“Kenapa? Karena sensor BMKG tidak detil, untuk sensor pasang surut saja di wilayah perairan Komodo hanya ada dua titik, sensor untuk mengukur kekuatan arus tidak ada,” jelas Budi. Termasuk untuk melihat area-area berbahaya yang memiliki fenomena alam seperti kala-kala. Jika saja sensornya banyak, menurut Budi, data-data seperti kala-kala itu bisa lebih akurat diketahui para pelaut.

“Jika tidak berlayar, tidak ada pemasukan, ekonomi berhenti. Ini ibaratnya sebagai benang kusut ekosistem pariwisata,” ungkap Budi.

Mengapa Disebut ‘Benang Kusut’ Ekosistem Pariwisata?

Benang kusut itu seolah melilit semua pihak yang bersentuhan dengan pariwisata di Labuan Bajo. Budi Widjaja menggambarkan, sebuah pelabuhan di Kupang dengan sekitar 100 kapal yang melintas setiap harinya memiliki setidaknya lebih dari 80 petugas untuk memeriksa kelengkapan standar keamanan dan keselamatan kapal hingga izin untuk berlayar. Namun, di Labuan Bajo, kondisinya berbeda.

“Tahun lalu saya teriak-teriak minta penambahan petugas, memang ditambah, dari 40 menjadi sekitar 60 petugas, untuk melayani sekitar 300 kapal yang berlayar setiap hari,” jelas Budi. “Oleh karena itu, untuk memverifikasi unsur keselamatan ini, maka ada semacam kebijakan untuk semua pihak yang terlibat dalam pelayaran saling menjaga dan memeriksa.”

Di sisi lain, KSOP Labuan Bajo mengklaim telah memperketat pemeriksaan keselamatan kapal termasuk penerbitan sertifikat kelaikan kapal. “Setiap tiga bulan kami lakukan pemeriksaan,” tambah Stephanus. Kemudian, jelas Stephanus, patroli juga kerap dilakukan secara acak bersama TNI dan Polisi yang punya kewenangan penegakan hukum di bidang pelayaran.

Menurut pemerhati pariwisata Labuan Bajo, Marta Muslin, bisnis pariwisata itu mahal, termasuk melengkapi unsur keselamatan perjalanan. “Itu merupakan konsekuensi dari menjalankan bisnis dengan risiko tinggi,” kata Marta. Namun, dia melanjutkan, “memang banyak kejadian tidak ada pemeriksaan petugas, hanya sebagai formalitas saja.”

Perjalanan kapal dari Pelabuhan Labuan Bajo erat kaitannya dengan kegiatan turisme di tempat itu. Labuan Bajo telah ditetapkan menjadi salah satu destinasi wisata prioritas Indonesia. Namun, status prioritas daerah pariwisata itu juga menjadi batu sandungan bagi Labuan Bajo. Budi memberi gambaran, banyak nelayan yang kemudian beralih profesi menjadi pemandu wisata. Hal ini, kata dia, karena penghasilannya sebagai nelayan sudah tidak mampu lagi menutupi kebutuhan sehari-hari. Musababnya, harga pasaran mengikuti arus turis yang masuk ke Labuan Bajo.

“Maka mereka membangun kapal-kapal wisatanya secara tradisional. Jika ditetapkan standar internasional yang menggunakan bahan-bahan seperti besi dan fiber, biaya akan membengkak,” jelas Budi. Sementara, peralatan keselamatan hingga penunjang kapal yang dibutuhkan, kebanyakan masih impor dan tidak diproduksi di Indonesia.

Bagi Budi dan banyak pegiat pariwisata di Labuan Bajo, kecelakaan pinisi 26 Desember ini bukan ajang saling menyalahkan, melainkan mengurai benang kusut yang ia utarakan sebelumnya. Utamanya, faktor keselamatan. “Itu merupakan tanggung jawab semua orang, baik dari sisi tamunya [wisatawan] sampai sisi regulatornya,” tambah Budi. Semua pihak, baginya punya peran, juga kekurangan, “keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama”.

Apa yang Bisa Dilakukan ‘Semua Pihak’ untuk Mengurangi Risiko Setelah 26 Desember?

Wisatawan

Jika Anda membaca bagian ini dan berencana berlibur ke suatu tempat, Anda juga punya peran signifikan dalam keselamatan perjalanan. Menurut Budi, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang destinasi wisata yang akan dikunjungi termasuk mendaftar segala risiko yang bisa terjadi. Mulai dari musim-musim terbaik untuk berkunjung, termasuk rute perjalanan kapal, “apakah melewati area-area pusaran [berbahaya]?” Zaman sudah berubah, tak seperti 20 tahun lalu, ketika ingin berwisata harus membuka buku Lonely Planet usang tentang suatu tempat. “Ini zamannya AI dan internet, semua ada di sana,” tambah Budi. Gunakan teknologi masa kini, untuk mencari tahu agen-agen perjalanan atau kapal-kapal yang bisa mempresentasikan aturan keselamatan. “Jangan hanya lihat foto-foto indah dan harganya yang murah.”

Kementerian Pariwisata

Kementerian Pariwisata bisa berperan mengkampanyekan keselamatan dalam berwisata. Namun menurut Budi, Kementerian Pariwisata merupakan lembaga tingkat tiga yang tidak memiliki struktur sektoral yang terpisah di daerah. “Jadi ketika program itu turun dari pusat ke daerah, Dinas Pariwisata di bawah pemerintah daerah, apakah mereka punya anggaran dan kapasitas sumber daya manusianya?” Di sisi lain, sebagai respons insiden pinisi 26 Desember, Kementerian Pariwisata mengklaim berkomitmen mengutamakan keselamatan wisatawan, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta memastikan penanganan kejadian ini dilakukan secara transparan, humanis dan bertanggung jawab.

Perketat Aturan dan Percepat Informasi Kedaruratan

Ketika aturan diperketat, menurut Budi, tidak ada lagi alasan untuk tidak memenuhi standar prosedur keselamatan, termasuk alur sistem dalam mempercepat informasi kedaruratan hingga keakuratan cuaca. Dengan demikian, peringatan dini BMKG benar-benar menjadi acuan, bukan imbauan.

Perkuat Tim di Lapangan

Menurut pandangan Budi, mengurangi risiko kecelakaan bisa dimulai dengan memperkuat petugas pemeriksa keselamatan kapal, hingga tim yang ditugaskan untuk penyelamatan. Jika tidak, menurut Marta, reputasi destinasi wisata prioritas itu bisa hancur. “Semua teman-teman pegiat pariwisata Labuan Bajo khawatir, kepercayaan orang terhadap kualitas kapal di Labuan Bajo serta sumber daya manusianya juga akan sangat terdampak,” tutup Marta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *