Perbedaan Pendapat Presiden Prabowo dan Megawati Soekarnoputri Terhadap Kelapa Sawit
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan mantan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri, memiliki pandangan yang berbeda terkait peran kelapa sawit dalam pembangunan ekonomi dan lingkungan. Pohon ini, yang buahnya dapat diolah menjadi minyak goreng hingga bahan bakar minyak (BBM), kini tengah menjadi sorotan publik.
Perbincangan tentang kelapa sawit semakin hangat setelah banjir bandang melanda Sumatra, yang disinyalir disebabkan oleh pembalakan hutan, termasuk pengembangan lahan sawit. Dalam konteks ini, pendapat kedua tokoh politik tersebut menunjukkan perbedaan signifikan.
Prabowo Subianto dan Komitmen terhadap Sawit
Sejak awal masa pemerintahannya pada Desember 2024, Presiden Prabowo Subianto sudah menunjukkan sikap pro-sawit. Ia menyatakan bahwa kelapa sawit adalah pohon seperti pohon lainnya, sehingga penanamannya tidak masalah meskipun dilakukan dengan deforestasi.
“Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit enggak usah takut apa itu katanya, apa, membahayakan. Apa itu deforestation ya kan namanya kelapa sawit ya pohon Iya kan. Kelapa sawit itu pohon, ada, ada daunnya kan. Ya dia keluarkan oksigen, dia menyerap karbondioksida. Dari mana, kok kita dituduh yang boten-boten aja itu,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di gedung Bappenas, Jakarta, Senin (30/12/2024).
Setahun kemudian, Prabowo bahkan mencanangkan bahwa industri sawit harus mulai masuk Papua. Ia berharap daerah ini juga bisa ditanami kelapa sawit untuk menghasilkan BBM dari sawit.
“Dan juga nanti kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit,” kata Prabowo saat memberi pengarahan dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Megawati Sebut Sawit sebagai Tanaman Arogan
Sementara itu, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pandangan berbeda. Ia menyebut kelapa sawit sebagai tanaman yang arogan, dengan ciri-ciri monokultur yang berdampak buruk terhadap lingkungan.
Pernyataan Megawati ini disampaikan saat wawancara khusus di program ROSI, Kompas TV, tayang pada Sabtu (23/8/2025). Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan kecintaannya terhadap tanaman, hutan, dan lingkungan.
Megawati menceritakan kearifan lokal suku Dayak yang telah turun-temurun merawat hutan. Menurutnya, satu pohon besar yang ditebang akan membutuhkan waktu lima tahun untuk menanam kembali.
“Saya sangat menjaga sekarang yang namanya kearifan lokal. Sebagai sebuah contoh, saya sangat banyak kenalan orang Dayak. Kalau saya lihat, mereka itulah perawat dari yang namanya hutan, ya. Pertanyaan saya adalah kalau hutan kita semua ditebang untuk menghidupkannya kembali menjadi hutan seperti apa yang menjadi permintaan orang Dayak berapa tahun? Paling tidak nanam pohon itu menjadi agak besar itu lima tahun,” ujarnya.
Megawati lantas menyinggung soal sawit, yang menurutnya adalah tanaman arogan. Ia menjelaskan bahwa sawit memiliki sifat monokultur dan sulit ditanam bersama tanaman lain.
“Saya ada banyak teman itu membuat perkebunan sawit. Saya tahu bahwa sawit ini adalah sebuah jenis tanaman yang arogan. Betul, arogan maksudnya begini, dia itu sangat manja. Jenis familynya adalah palmae, itu jadi seperti kelapa, sagu, sawit. Kalau kelapa itu dia umpamanya ditanam begini ya, sudah tua itu ditumbuhkan yang baru di sini (di sebelahnya) itu bisa. Jadi dinaungi sama yang sudah tua. Kalau sawit tidak bisa. Jadi makanya sawit itu harus ribuan hektar itu satu kali nanam. Jadi dia mesti dibuat kluster-kluster. Why? Karena ketika sudah tua kan ini enggak mau ditanam yang muda, harus dibongkar. Itu yang saya bilang tanaman sawit tuh arogan banget,” jelas Megawati.
Pandangan Megawati tentang Deforestasi
Megawati juga menyatakan sikapnya yang menolak pembalakan hutan atau deforestasi. Ia menilai bahwa hutan adalah milik negara dan tidak boleh ditebang tanpa pertimbangan yang matang.
“Nah, sekarang hutan kita itu multikultur terus mau diganti. Saya nih cuman mikir kan padahal ini kan pemberian siapa sih? Orang mau bilang ini pulau itu ditanam sama orang kan enggak kan. Ini Gusti Allah juga yang maringi ke kita kekayaan seperti ini. Orang saya suka pikir ini seperti masalah sekarang ini. Corruption, corruption ini kan juga sebetulnya mematikan lingkungan hidup loh. Seperti nebang pohon. Kenapa enggak mematikan lingkungan hidup? Karena berpikirnya itu punya siapa sih? Itu kan punya negara. Hutan, bukannya punya pribadi loh, betul enggak? Makanya enggak boleh hutan enggak boleh ditebang,” ujarnya.











