"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Maria, Mahasiswi Unima Diduga Dibunuh, Keluarga Temukan Luka Biru Usai Diperkosa Dosen

Kasus Kematian Evia Maria Mangolo: Terungkapnya Dugaan Pelecehan Seksual oleh Dosen

Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswi asal Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di sebuah indekost di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. Awalnya, kematian korban diduga sebagai tindakan bunuh diri, namun kemudian ditemukan fakta baru yang menunjukkan bahwa jasad korban memiliki lebam biru di sekujur tubuhnya. Hal ini memicu pihak keluarga untuk melakukan otopsi.

Menurut Ketsia, tante dari Evia, pada malam Selasa (30/12/2025) di rumah duka Perum CBA Gold, Mapanget, Minut, ia mendapat dorongan untuk memeriksa kaki jenazah. Saat itu, ia menemukan tanda biru dan luka. Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihak keluarga membuka tubuh jenazah dan menemukan tanda biru di pinggang kiri dan paha atas. Dari situ, diputuskan untuk dilakukan otopsi.

Ayah korban sudah tiba sejak Rabu dini hari, dan Rabu pagi, keluarga bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi. Rencananya, jenazah akan pulang pada Kamis, namun batal karena otopsi.

Surat Pengaduan yang Mengungkap Trauma Psikologis

Surat pengaduan yang ditulis oleh Evia Maria Mangolo mengungkapkan dugaan pelecehan seksual yang dialaminya. Surat tersebut ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd. Di dalam surat, Maria menyebut terduga pelaku berinisial DM, seorang dosen di fakultas tempatnya menempuh pendidikan.

Dalam suratnya, korban menjelaskan kronologi kejadian yang memengaruhi kondisi psikologisnya. Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang, DM mengirim pesan singkat ke korban. Ia bertanya apakah korban bisa “urut” ke dia. Korban menolak dengan alasan tidak tahu cara mengurut. Namun, DM tetap meminta korban untuk menuruti permintaannya.

Peristiwa ini berlanjut ketika korban diminta oleh DM untuk naik ke mobilnya. Tanpa curiga, korban menuruti permintaan tersebut. Namun, sejak awal perjalanan, rasa tidak nyaman mulai muncul. Korban sempat menanyakan tujuan perjalanan, termasuk kaitannya dengan urusan akademik dan nilai. Namun jawaban yang diterimanya membuatnya semakin bingung.

Kejadian yang Menjadi Puncak Trauma

Di tengah perjalanan, korban merasa tidak aman dan mengirim pesan kepada temannya serta membagikan live location secara diam-diam. Baterai ponsel yang kian menipis membuatnya panik. Ia bahkan meminta temannya bersiaga, memantau pergerakannya, dan siap mengikuti jika mobil melaju lebih jauh.

Mobil sempat berhenti di samping gedung pascasarjana. Di lokasi itu, korban mengaku dipaksa pindah ke kursi depan. Ia menolak, namun tetap didesak dengan alasan “melangkah saja”. Dalam kondisi tertekan, korban akhirnya berpindah tempat duduk, meski perasaan tidak nyaman terus menghantuinya.

Setibanya di lokasi, situasi berubah semakin mencekam. Korban mengaku dosen tersebut merebahkan sandaran kursi dan kembali meminta diurut. Ia menolak, dengan alasan tidak tahu caranya. Namun penolakan itu tak menghentikan tindakan terduga pelaku. Ia justru memberi contoh langsung. Korban menyebut tangan dosen tersebut mulai menyentuh bagian belakang tubuhnya, lalu berpindah ke paha korban tanpa izin. Ucapan bernuansa seksual pun dilontarkan, membuat korban merasa terhina dan ketakutan.

Alumni Ungkap Rahasia Lama

Setelah kasus ini mencuat, pengakuan mengejutkan datang dari seorang alumni Universitas Negeri Manado (UNIMA). Lewat video yang beredar luas di media sosial, alumni tersebut menyebut bahwa dosen berinisial DM, yang kini terseret dalam dugaan pelecehan terhadap mahasiswi Evia Maria Mangolo, bukanlah sosok asing dalam isu serupa. Menurut alumni itu, perilaku menyimpang dosen tersebut sudah menjadi rahasia umum sejak lebih dari satu dekade lalu.

Kata alumni tersebut, “Ketika ditelusuri, ini dosen yang sama. Sepuluh tahun lalu saya kuliah di sana, pelakunya juga dia. Saya yakin teman-teman alumni pasti tahu jejak Mner ini. Predator kampus ini harus segera diamankan.”

Pengakuan ini menambah lapisan baru dalam tragedi yang menewaskan Evia Maria Mangolo, mahasiswi PGSD UNIMA, dan memperkuat sorotan publik terhadap dugaan pembiaran sistemik di lingkungan kampus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *