Fakta Baru Mengenai Kematian Evia Maria Mangolo
Kasus kematian tak wajar yang menimpa Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Universitas Manado (Unima), semakin mengungkap fakta-fakta baru. Kasus ini telah memicu perhatian publik dan menimbulkan banyak pertanyaan terkait tindakan yang dilakukan oleh oknum dosen.
Evia Maria ditemukan meninggal di kosnya di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulut pada Selasa (30/12/2025). Sebelum meninggal, ia sempat membuat surat laporan bahwa dirinya mengalami pelecehan dari seorang dosen. Saat ini, sahabat dekatnya, Nadia, menjadi saksi utama dalam kasus ini.
Kesaksian Sahabat Dekat
Nadia mengaku menjadi teman curhat bagi Evia sebelum korban meninggal dunia. Keduanya berteman sejak tahun 2019, saat sama-sama bersekolah di SMK Negeri 1 Siau Timur, Jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OKTP). Meskipun tinggal berjauhan—Nadia tinggal di Manado sedangkan Evia di Tomohon—komunikasi mereka tetap intens.
Beberapa waktu sebelum kematian Evia, ia datang ke kos Nadia untuk bercerita. Saat itu, Evia menunjukkan rencana foto studio seperti foto kelulusan SMA. Namun, ia tiba-tiba mulai menangis dan menceritakan pengalaman tidak menyenangkan dengan seorang dosen.
“Waktu di kos, dia tiba-tiba curhat sambil menangis. Dia cerita tentang dosen yang diduga melecehkannya,” kata Nadia dalam wawancara di akun Facebooknya.
Nadia juga menyebut bahwa Evia pernah menerima pesan langsung (DM) yang tidak pantas dari dosen tersebut. Bahkan, Evia sempat mengirimkan pesan suara kepada Nadia, mengaku telah melaporkan dugaan pelecehan itu kepada Wakil Dekan III (WD III).
Peristiwa Penting Sebelum Kematian
Pada 15 Desember, bertepatan dengan ulang tahun Nadia, Evia kembali mencurahkan ketakutannya. Ia menangis karena merasa takut dengan sikap dosen yang dimaksud. Nadia memberi saran agar Evia melaporkan masalah tersebut lebih lanjut.
“Saya bilang ke dia, lebih baik lapor saja. Kalau tidak, takutnya dosen itu bisa bertindak seenaknya lagi ke mahasiswa lain,” ujar Nadia.
Keesokan harinya, Evia mengabarkan bahwa ia telah melaporkan kasus tersebut. Dalam kesaksian Nadia, Evia juga sering menyampaikan impian besar untuk menjadi pramugari.
Akun Instagram Oknum Dosen
Dosen yang dituduh melakukan pelecehan terhadap Evia memiliki akun Instagram dengan 313 pengikut. Dari pantauan Tribun Trends, akun tersebut telah lama tidak aktif. Unggahan terakhir dibuat pada 27 Agustus 2015, di mana sang dosen memamerkan foto bersama seorang wanita yang diduga adalah istrinya.
Dalam akun tersebut, dosen kerap mengunggah potret bersama keluarga. Dalam foto-foto yang ditampilkan, ia memiliki seorang istri dan dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Namun, identitas keluarganya masih belum diketahui.

Akun Instagram dosen tersebut kini menjadi sorotan setelah namanya disangkutkan dengan kasus Evia Maria. Unggahannya terakhir dibanjiri komentar teror terkait dugaan pelecehan yang dilakukannya.
Tanggapan Alumni
Kasus ini juga memicu respons dari alumni PGSD Unima. Seorang alumni bernama Wulandari Albarzanji membuka suara melalui unggahan Instagramnya pada Selasa (30/12/2025). Ia mengaku sangat marah ketika pertama kali mendengar kabar tentang Evia Maria.
“Halo semua, saya Wulan alumni PGSD Unima. Hari ini saya marah sekali. Kita dapat kabar ada mahasiswa Unima semester akhir nekat bunuh diri karena mengalami pelecehan seksual oleh dosen yang ada di PGSD Unima,” ungkapnya.
Ia juga kaget ketika membaca nama dosen yang dimaksud oleh Evia. Dalam surat terakhirnya, Evia menuliskan nama panjang dosen yang melecehkannya. Menurut Wulan, nama tersebut sama dengan sosok dosen yang terlibat dalam kasus serupa 10 tahun lalu.

“Ternyata, ini adalah sosok dosen yang sama dari kurang lebih 10 tahun lalu saya menjadi mahasiswa di sana, yang masih berkeliaran di sekitaran kampus. Sebelum mengakhiri hidupnya korban meninggalkan surat kronologis pelecehan yang si dosen yang namanya sama dengan yang sering kita dengar melakukan hal tersebut dari 10 tahun lalu,” tambah Wulan.
Ia meminta semua pihak, terutama alumni, untuk ikut mengawal kasus ini. “Kita sama-sama harus mengawal kasus ini. Kita harus sama-sama putus mata rantai ini karena sudah ada korban. Saya yakin mungkin teman-teman dulu ingin juga bersuara, tapi takut. Hari ini sudah ada korban adik kita yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Jangan lagi ada mahasiswa-mahasiswa seperti itu. Jangan lagi ada yang dilecehkan dengan berkedok nilai.”











