Penemuan Jasad Keluarga di Kontrakan Warakas, Jakarta Utara
Sebuah kejadian tragis terjadi di kontrakan kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ibu dan dua anaknya ditemukan tewas dengan mulut berbusa pada Jumat (2/1/2026), sementara satu orang lainnya dalam kondisi kritis. Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai penyebab kematian ketiga korban.
Kriminolog UI, Adrianus Meliala, menyampaikan dugaan bahwa para korban meninggal akibat keracunan bahan kimia, kemungkinan besar sianida. Hal ini didasarkan pada ciri-ciri yang ditemukan pada jenazah, seperti adanya busa di mulut dan ruam pada tubuh. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa dugaan ini masih perlu diverifikasi melalui hasil pemeriksaan laboratorium forensik.
Polres Metro Jakarta Utara masih melakukan otopsi dan olah TKP guna memastikan penyebab pasti kematian. Pihak kepolisian juga sedang memeriksa sejumlah barang dari dalam rumah kontrakan sebagai bagian dari penyelidikan. Selain itu, beberapa saksi, termasuk anggota keluarga korban yang saat kejadian sedang bekerja, telah diperiksa.
Kronologi Temuan Jasad
Menurut Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar, kejadian pertama kali diketahui oleh salah satu anak korban yang baru pulang bekerja. Saat membuka pintu, ia menemukan keluarganya dalam kondisi tiduran dan mengeluarkan busa. Anak tersebut langsung meminta pertolongan dari warga sekitar.
Seno menjelaskan bahwa kondisi ketiga jenazah korban ditemukan dalam keadaan mulut berbusa dan terdapat ruam di bagian tubuhnya. Meski ada indikasi awal, penyebab kematian masih dalam pemeriksaan dokter forensik. Ketiga jenazah telah dibawa ke Rumah Sakit Polri untuk pemeriksaan luar dan otopsi.
Hingga Jumat malam, polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara. Sejumlah barang dari dalam rumah kontrakan disita untuk kepentingan penyelidikan dan akan diperiksa bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor).
Profil Adrianus Meliala
Adrianus Meliala adalah seorang kriminolog dan dosen di Departemen Kriminologi Universitas Indonesia. Ia dikenal sebagai penulis dan peneliti yang berfokus pada masalah kriminologi, terutama yang berkaitan dengan polisi dan kejahatan transnasional. Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Balai Pertimbangan Pemasyarakatan pada tahun 2009.
Lahir di Sungai Liat, Pulau Bangka pada 28 September 1966, Adrianus menghabiskan masa sekolahnya di Jakarta Barat. Ayahnya meninggal dunia saat ia masih duduk di kelas III SD, sehingga ibunya harus mengambil alih peran sebagai pengasuh keluarga. Hal ini menjadi motivasi utama bagi Adrianus untuk meraih kesuksesan.
Ia memperoleh gelar S3 dalam bidang Kriminologi dari University of Queensland, Australia, serta gelar Master Psikologi Kriminal dari The Manchester Metropolitan University, Inggris. Di usia 35 tahun, Adrianus dilantik menjadi professor atau guru besar.
Riwayat Pendidikan dan Pekerjaan
Adrianus memiliki riwayat pendidikan yang cukup panjang:
* Criminology, S3, University of Queensland Australia
* Legal and Criminological, Manchester Metropolitan University Inggris
* Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
* Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia
* SMA Perguruan Katolik Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat
* SMP Perguruan Katolik Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat
* SD Perguruan Katolik Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat
Dalam dunia kerja, ia aktif sebagai pengajar di Universitas Indonesia dan penasihat di berbagai lembaga negara serta donor internasional seperti UNDP, IOM, UNICEF, ILO, dan JCLEC. Ia juga pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Kepolisian Indonesia dan Anggota Ombudsman Republik Indonesia.












