Fakta Singkat
Kriminolog Haniva Hasna mengungkap tiga hambatan utama dalam kasus pembunuhan anak anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon, Banten, Maman Suherman. Korban, yang dikenal dengan nama MAHM alias A (9), ditemukan tewas dengan 22 luka tusukan di rumah mewah Perumahan Bukit Baja Sejahtera (BBS), Kota Cilegon, Banten, pada Selasa (16/12/2025). Hingga kini, kasus ini masih menjadi misteri.
Haniva menyoroti bahwa siapa pun yang mampu melakukan kejahatan sekejam ini, sebrutal ini, dan dilakukan kepada anak, akan sangat sulit untuk diidentifikasi. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sebuah tayangan Metro TV.
Tiga Hambatan Utama
Menurut Haniva, ada tiga hambatan utama yang membuat kasus ini belum terungkap hingga saat ini:
Pertama, bukti visual serta jejak langsung yang minim. Terlebih, CCTV rumah mewah itu tidak berfungsi. Hal ini membuat tidak ada timeline visual pelaku keluar masuk dan orang lain yang keluar masuk dari situ, baik pelaku maupun anggota keluarga yang lain.
“Sehingga, kondisi ini menghilangkan salah satu alat paling krusial untuk mengidentifikasi waktu, pola gerak, dan kemungkinan pelaku tunggal atau lebih,” ujarnya.
Kedua, lingkaran pelaku sangat sempit karena TKP merupakan ruang privat bukan publik. Dalam kriminologi, kasus seperti ini disebut sebagai restricted access crime. Pelaku biasanya adalah orang yang mengenal rumah, paham rutinitas, tahu celah keamanan. Namun, ironisnya, kondisi-kondisi yang semakin sempit lingkarannya ini justru semakin sulit pembuktiannya.
“Karena relasi emosional ada potensi alibi sosial dan minim saksi independen,” tambahnya.
Ketiga, motif pembunuhan yang belum dapat dikunci. Tanpa motif, penyelidikan akan bergerak lambat. Polisi tidak bisa menyasar siapapun hanya berdasarkan kedekatan, asumsi, atau tekanan dari publik. Yang masih diperlukan untuk mengungkap kasus ini adalah pembuktian forensik dari DNA, pola luka, jejak biologis sekecil apapun.
Haniva menegaskan bahwa rekonstruksi psikologi pelaku atau criminal profiling perlu dilakukan. Di antaranya, orang-orang terdekat yang telah diperiksa oleh polisi.
“Nah, untuk yang ketiga adalah pendalaman relasi sosial korban. Kita perlu mengetahui apakah ada konflik baik terbuka maupun tertutup atau relasi yang nampak baik-baik saja tapi sebetulnya menyimpan api dalam sekam,” ujarnya.
Dua Skenario Besar
Selain itu, Haniva juga menyampaikan dua skenario besar mengenai perkembangan kasus pembunuhan tersebut:
Skenario pertama yakni korban kemungkinan target utama. Jika memang korban target utama, ada ciri-ciri pelaku datang dengan tujuan melakukan pembunuhan. Haniva menuturkan pelaku tidak berupaya mengambil barang berharga. Ia melihat pelaku murni melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa.
“Lalu biasanya kekerasan dilakukan langsung dan fatal. Tapi jika hal ini terjadi biasanya pelaku punya dorongan emosional atau psikologis yang kuat dengan korban gitu ya atau memiliki fantasi kekuasaan terhadap korban atau dia memang punya gangguan mental yang ingin menyakiti seorang anak,” kata Haniva.
Ia menambahkan bahwa dalam kasus pembunuhan anak sebagai target sangat jarang terjadi kecuali relasi personal atau gangguan psikologis berat. “Jadi kalau memang anak ini menjadi target utama jangan-jangan pelakunya ada gangguan mental,” imbuhnya.
Skenario kedua, Haniva menuturkan korban adalah simbol atau pelampiasan terhadap orang tua. Ciri-cirinya biasanya anak menjadi target pengganti. Pesan utamanya sebetulnya ditujukan kepada orang tua atau figur otoritas atau simbol-simbol tertentu.
Penjelasan Polisi
Sementara itu, Polres Cilegon masih melakukan penyidikan kasus pembunuhan terhadap MAHM (9), putra bungsu politisi PKS, Maman Suherman. Hingga Senin (29/12/2025) siang, pelaku pembunuhan belum terungkap.
Kasat Reskrim Polres Cilegon AKP Yoga Tama mengatakan, penyidik kesulitan mengungkap pelaku karena kondisi kamera pengawas atau CCTV di dalam rumah dalam keadaan mati. Selain itu, tidak ada petugas sekuriti di lokasi kejadian. Ia menjelaskan, kondisi cuaca saat peristiwa berlangsung juga menjadi kendala tersendiri bagi penyidik di lapangan.
“Lalu perlu diinformasikan, bahwa sebelum terjadinya kejadian itu dalam keadaan hujan lalu after kejadian pun keadaan hujan lebat, hingga jejak-jejak keluar pun sulit indentifikasi,” kata Yoga.
Untuk membantu mengungkap kasus tersebut, Polres Cilegon sempat menerjunkan anjing pelacak atau anjing K9 ke lokasi kejadian. Selain itu, penyidik juga meminta bantuan tim dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri guna memperkuat proses identifikasi di tempat kejadian perkara (TKP).
“Sudah minta bantuan Puslabfor untuk membantu kita dalam mengidentifikasi TKP,” ujarnya.











