"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

IKAMA Setuju Ormas Meresahkan Dibubarkan, Dorong Pemerintah Jadikan Madura Kawasan Ekonomi Khusus

Kasus Perobohan Rumah Nenek Elina di Surabaya dan Upaya IKAMA Mencegah Kriminalitas

Kasus perobohan rumah nenek Elina di Surabaya memicu kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Insiden ini menunjukkan betapa pentingnya tindakan preventif untuk mencegah tindakan melanggar hukum yang bisa terjadi akibat pengangguran dan ketidakstabilan ekonomi.

Peran IKAMA dalam Pembinaan Generasi Muda

IKAMA mengambil inisiatif untuk memberikan pelatihan dan pembinaan kepada generasi muda, khususnya yang menganggur. Program ini mencakup ekonomi kerakyatan, pelatihan kerja, serta kerja sama dengan perusahaan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa para pemuda tidak terjebak dalam tindakan kriminal atau premanisme.

Pemimpin IKAMA, H Mohammad Rawi, menyatakan bahwa pihaknya siap membantu generasi muda yang belum memiliki pekerjaan. “Anak-anak ku yang nganggur bisa datang ke IKAMA, kami akan berikan solusi. Kami training, bisa jadi pedagang, pekerja, pelayaran atau jadi apapun,” ujarnya.

Kerja Sama dengan Perusahaan dan Pemerintah

IKAMA telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan, tetapi semua kegiatan dilakukan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh negara. Proses ini melibatkan kepolisian, pemda, dan TNI/Polri agar dapat dikelola secara efektif dan aman.

Program ekonomi kerakyatan yang telah dijalankan selama 20 tahun terakhir melalui koperasi usaha mandiri dan Balai Lapangan Kerja (BLK) juga menjadi bagian dari upaya untuk memberdayakan masyarakat. Bahkan, Sekretariat DPC IKAMA Istimewa di Desa Jukong, Kecamatan Labang, Bangkalan, bisa dipersiapkan sebagai tempat pelatihan kerja.

Menghindari Anarkisme dan Kegaduhan

Aba Rawi menegaskan bahwa jika suatu ormas dianggap anarkis dan menciptakan kegaduhan, maka pihak berwajib berhak membubarkannya. Meskipun ormas tersebut memiliki izin dari Kementerian Hukum dan HAM, kewenangan untuk membubarkan mereka tetap ada di tangan wali kota, bupati, dan gubernur jika dianggap meresahkan masyarakat.

Namun, jika suatu ormas bersifat kondusif, produktif, dan mampu bersinergi dengan pemerintah, maka pihaknya bisa dipertimbangkan untuk tetap beroperasi. “Tinggal bagaimana SDM-SDM itu kita training, beri pelatihan agar berguna untuk masyarakat,” tambahnya.

Isu KEK untuk Madura

IKAMA juga mendesak pemerintah untuk menjadikan Madura sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Hal ini bertujuan untuk membuka lapangan kerja, menekan angka pengangguran, dan mengurangi potensi kriminalitas.

Menurut Aba Rawi, konsep KEK bisa sangat bermanfaat bagi Madura karena daerah ini memiliki sumber daya alam yang cukup besar seperti garam, tembakau, peternakan, dan pertanian. “KEK kami minta, kalau ada Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Ekonomi Halal maka angka pengangguran bisa ditekan karena di sini ada produk yang populer seperti tembakau,” katanya.

Dukungan dari Tokoh dan Masyarakat

Peristiwa yang menimpa nenek Elina disebut Aba Rawi menjadi keprihatinan para tokoh Madura yang tersebar di berbagai negara. Beberapa tokoh asal Madura di Saudi Arabia, Mesir, Jepang, dan Malaysia bahkan menelponnya untuk meminta penjelasan tentang kejadian tersebut.

“Menelpon saya, ‘Pak Haji Rawi, bagaimana ini dengan kejadian kemarin? Kami merasa tidak nyaman karena dianggap sama dengan mereka’. Apalagi warung-warung Madura, seperti di Papua misalnya, mereka biasanya duduk dengan warga Papua. Tetapi begitu melihat peristiwa itu viral mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan mereka jualan sampai 24 jam,” papar Aba Rawi.

Harapan untuk Tahun Baru 2026

Aba Rawi berharap tahun baru 2026 bisa menjadi momen yang lebih baik dari tahun 2025. Ia berharap konsep KEK dapat segera diwujudkan agar dapat mengikis angka pengangguran di Madura.

“Ketika lapangan kerja terbuka lebar di Madura, mereka tidak menjadi maling sepeda motor, tidak menjadi pengedar narkoba, tidak diajak mafia-mafia itu. Karena mereka memang terpaksa, tidak ada kerjaan sehingga mudah diprovokasi,” pungkas Aba Rawi.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *