"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Ahli: Ancaman Tarif Trump ke Eropa sebagai Persaingan Kekuatan Global yang Tidak Terduga



JAKARTA,

Persaingan Kekuatan Global yang Tidak Teratur

Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho menilai bahwa strategi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam menggunakan ancaman kenaikan tarif dagang terhadap negara-negara Eropa tidak bisa dilepaskan dari konteks persaingan kekuatan besar yang tidak teratur (irregular great power competition) yang sedang berlangsung di tingkat global.

Dalam situasi tersebut, Greenland dinilai telah berubah menjadi ruang pertempuran baru dalam persaingan antara Amerika Serikat dengan China dan Rusia, meskipun dunia saat ini berada dalam fase damai. Menurut Wibawanto, kompetisi kekuatan besar saat ini bersifat tidak reguler karena berlangsung tanpa deklarasi perang, tetapi sarat tekanan ekonomi, politik, dan strategi militer jangka panjang.

Ancaman tarif terhadap Eropa, kata dia, adalah bagian dari instrumen tekanan tersebut. “Jadi di balik ini semua background-nya adalah irregular great power competitions yang terjadi di masa damai saat ini ya,” ujar Wibawanto dalam program Kompas Petang di Kompas TV, Rabu (21/1/2026).

Persaingan Ruling Power dan Rising Power

Wibawanto menjelaskan bahwa dalam sejarah lima abad terakhir, persaingan antara ruling power (kekuatan dominan) dan rising power (kekuatan yang sedang naik) kerap berujung konflik terbuka. Dari sejumlah kasus historis, hanya sebagian kecil yang tidak berakhir dalam perang.

“Di mana antara rising power dan ruling power itu, kalau selama 5 abad terakhir itu, chance-nya itu 20 dari 16 persaingan ruling dan rising power itu, empat itu tidak berakhir perang. Empat berakhir perang. Jadi ada chance akan perang,” ungkapnya.

Nah, sehingga kompetisi itu begitu irreguler sekarang terutama Amerika versus China dan Rusia ya,” tambah Wibawanto. Dalam kerangka ini, Amerika Serikat diposisikan sebagai ruling power yang berupaya mempertahankan dominasinya, sementara China dan Rusia dilihat sebagai kekuatan yang tengah bangkit dan menantang tatanan lama.

Greenland Sebagai Ruang Pertarungan Strategis

Dalam konteks kompetisi tersebut, Wibawanto menilai Greenland tidak lagi sekadar wilayah geografis atau isu bilateral antara Amerika Serikat dan Denmark. Wilayah ini telah berubah menjadi ruang pertarungan strategis dalam kompetisi global yang lebih luas.

“Greenland ini menjadi battle space di dalam irregular global competition,” ujarnya. Posisi Greenland yang strategis di kawasan Arktik membuat wilayah tersebut krusial dalam pengendalian akses militer dan geopolitik, terutama untuk membendung pengaruh China dan Rusia.

Wibawanto mengakui bahwa pendekatan agresif Amerika Serikat sulit dipahami jika dilihat dari perspektif liberalisme, institusionalisme, maupun konstruktivisme, yang menekankan kerja sama, peran institusi internasional, dan kesamaan identitas. Namun, menurut Wibawanto, pendekatan tersebut menjadi lebih logis jika dilihat dari sudut pandang neorealisme, khususnya offensive realism.

Pendekatan Neorealisme dalam Persaingan Global

Dalam perspektif offensive realism, kata Wibawanto, pemimpin negara adidaya memiliki pilihan yang sangat terbatas ketika menghadapi kompetisi strategis jangka panjang. Langkah-langkah yang diambil bukan sekadar soal ekonomi atau diplomasi, melainkan keputusan strategis untuk menjaga keunggulan kekuatan.

“Tapi dari perspektif neorealis dan offensive realist, seorang pemimpin super power tidak punya banyak pilihan lain,” ujarnya. Ancaman tarif terhadap Eropa, dalam pandangan ini, bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menekan, menguji, dan—jika perlu—memecah soliditas sekutu.

Wibawanto bahkan membuka kemungkinan Amerika Serikat kelak akan mendorong pola hubungan baru dengan Greenland, menyerupai Compact of Free Association seperti yang diterapkan di kawasan Indo-Pasifik terhadap Palau, Federasi Mikronesia, dan Kepulauan Marshall. Dalam model tersebut, Amerika Serikat tidak secara formal menganeksasi wilayah, tetapi memiliki kendali strategis yang kuat, terutama dalam urusan pertahanan dan keamanan.

“Ujung-ujungnya bisa seperti compact of the free state, di mana Greenland dijadikan bagian dari Amerika secara strategis,” kata Wibawanto.

Tujuan Utama Strategi Amerika Serikat

Menurut Wibawanto, tujuan utama strategi Amerika Serikat bukan semata menaklukkan Eropa atau merusak solidaritas sekutu, melainkan mencegah akses strategis China dan Rusia ke kawasan Arktik.

“Tujuannya adalah untuk men-deny akses strategis bagi kebangkitan China dan Rusia,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *