Peristiwa Haru dalam Apel Penutupan Operasi SAR di Makassar
Apel penutupan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang digelar oleh Basarnas Makassar berubah menjadi momen yang penuh emosi. Acara tersebut, yang seharusnya menjadi momen resmi untuk menutup operasi, justru berlangsung dengan suasana haru setelah terjadi panggilan video antara petugas SAR dengan keluarga korban Farhan.
Di bawah langit Makassar yang tampak tenang, para petugas yang berdiri berbaris justru harus menahan air mata. Bukan karena kelelahan setelah berhari-hari bekerja di medan berat Pegunungan Bulusaraung, melainkan karena sebuah panggilan video yang mempertemukan duka dan keikhlasan. Di halaman Kantor Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, momen itu terjadi. Saat operasi resmi ditutup, rasa kehilangan justru terasa paling nyata.
Jarak yang Tak Terasa Melalui Layar Ponsel
Kasi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, berdiri memimpin apel gabungan penutupan operasi. Di tangannya, sebuah telepon genggam menyala. Saat sambungan video tersambung, ia membalikkan layar ponsel ke arah seluruh personel Tim SAR Gabungan. Di layar kecil itu, wajah keluarga Farhan, co-pilot pesawat ATR 42-500 yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Indonesia Air, muncul.
Mereka menyapa, menyampaikan salam, dan menumpahkan perasaan yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Jarak ratusan kilometer seolah lenyap. Layar ponsel itu menjadi penghubung antara petugas yang telah mengerahkan seluruh tenaga dan keluarga yang harus belajar mengikhlaskan kepergian orang tercinta.
Dalam suasana yang hening, Andi Sultan menyampaikan duka cita mendalam. “Atas nama seluruh jajaran Basarnas dan Tim SAR Gabungan, kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban, khususnya keluarga almarhum Farhan,” ujarnya.
Dedikasi Tanpa Batas Tim SAR
Operasi pencarian mungkin telah resmi ditutup, tetapi keterikatan emosional antara Tim SAR dan keluarga korban tidak ikut berakhir. Selama proses pencarian, para petugas tidak hanya berhadapan dengan medan ekstrem, tetapi juga dengan harapan keluarga yang terus menggantung. Sebanyak 1.078 personel dari berbagai instansi terlibat dalam operasi SAR tersebut. Mereka datang dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh satu tujuan, yakni menemukan para korban dan memberikan kepastian bagi keluarga.
“Operasi ini melibatkan 1.078 personel dari berbagai instansi dan berjalan berkat kerja sama serta soliditas seluruh pihak,” ujar Andi Sultan. Ia juga menyampaikan empati dan belasungkawa seluruh jajaran SAR atas kepergian para korban kecelakaan pesawat tersebut. Meski tidak semua harapan bisa terwujud sempurna, dedikasi para petugas menjadi saksi bahwa upaya maksimal telah dilakukan hingga titik terakhir.
Doa Mengalir untuk Farhan
Apresiasi tidak hanya datang dari internal tim. Andi Sultan turut menyampaikan terima kasih kepada warga Desa Tompobulu yang secara sukarela membantu menyiapkan konsumsi dan mendukung kebutuhan logistik selama operasi berlangsung. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Desa Tompobulu yang telah membantu menyiapkan konsumsi dan mendukung kebutuhan logistik Tim SAR,” tambahnya.
Di luar lokasi apel, simpati terus mengalir. Masyarakat Makassar dan warganet menyampaikan doa serta dukungan moral bagi keluarga Farhan dan korban lainnya. Ungkapan belasungkawa memenuhi ruang publik, menjadi penanda bahwa duka ini adalah duka bersama.
Sebelumnya, seluruh jasad penumpang pesawat ATR 42-500 telah berhasil ditemukan oleh Tim SAR Gabungan dan dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Namun, momen video call di apel penutupan itu menjadi pengingat: di balik data dan laporan resmi, ada air mata, keikhlasan, dan doa yang terus mengalir untuk Farhan.
Tangis Pejabat Basarnas
Korban terakhir dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, berhasil dievakuasi di hari ketujuh pencarian, Jumat (23/1/2026) pagi. Penemuan tersebut sekaligus menjadi penutup dari operasi pencarian dan pertolongan yang dilakukan oleh tim Elang 5 dari Yonif 700 Raider Kodam XIV/Hasanuddin bersama Tim SAR gabungan terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan.
Sebab, semua korban pesawat berjumlah 10 orang telah ditemukan. Berdasarkan info yang dihimpun dari Tribunnews.com, pencarian di hari ketujuh dilakukan sejak Jumat pagi. Sekira pukul 09.06 WIB, sebanyak dua kantong jenazah berhasil dievakuasi menggunakan helikopter dan tiba di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin.
Dalam video dari Humas Kantor SAR Makassar, Jumat (23/1/2026) pukul 09.20 WIB, terdengar tepuk tangan di Posko Operasi. Tampak juga Kepala Seksi Operasi dan Siaga (Kasi Operasi dan Siaga) Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, berpelukan dengan sejumlah perwira Kodam XIV/Hasanuddin Makassar.
Saat menyampaikan laporannya di depan kamera, Andi Sultan tampak tak kuasa menahan tangis. Kedua matanya berkaca-kaca dan kalimatnya sempat terputus sebelum dibantu prajurit TNI yang mendampinginya.
“Alhamdulillah, paket (kantong jenazah) 9 pukul 08.55 Wita ditemukan.”
“Dan (evakuasi) tetap dilakukan sesuai dengan rencana operasi tadi malam, yakni kembali kita mengupayakan untuk evakuasi, kami juga tetap melaksanakan misi utama dalam operasi yaitu, mencari (korban),” ujar Andi dengan suara terisak.
“Dan pada pukul 09.16 WITA, alhamdulillah korban (paket 10) ditemukan,” ucap Andi sambil menahan air matanya yang mulai mengalir. Andi melanjutkan, paket yang ditemukan saat ini sedang dalam proses penanganan dan evakuasi tim SAR gabungan. Selain itu, Tim SAR juga diperkuat dengan penambahan personel dari Basarnas Mamuju, Basarnas Kendari dan Basarnas Palu yang akan melakukan proses evakuasi terhadap korban.
“Saat ini sedang proses evakuasi,” ujarnya. Momen penemuan korban terakhir tersebut menjadi puncak perjuangan tim gabungan, yang disambut tangis syukur oleh Andi Sultan saat memberikan laporan resminya.











