Pengalaman Menyentuh di Bandara Tangerang
Keramaian bandara seharusnya menjadi ruang aman bagi siapa pun. Namun, pengalaman yang saya saksikan saat baru tiba di sebuah Bandara kota Tangerang dua hari yang lalu, justru menunjukkan sebaliknya. Serang remaja anak berkebutuhan khusus (ABK) non-verbal berada dalam kondisi bingung dan mengalami meltdown. Alih-alih mendapat pertolongan, ia justru menerima perlakuan kasar, ditendang dan dipukul, karena perilakunya dianggap mengganggu.
Peristiwa ini menyisakan kegelisahan mendalam dan menjadi cermin betapa minimnya pemahaman serta empati masyarakat terhadap ABK di ruang publik. Saya melihat remaja itu tampak panik, dan tidak mampu berkomunikasi secara verbal. Di tengah kebingungannya, ia diperlakukan dengan kekerasan oleh orang dewasa yang emosi yang katanya tadi dipukulnya. Saya refleks berteriak meminta tindakan tersebut dihentikan.
Namun, tak lama kemudian, dari arah berlawanan, seorang bapak lain kembali memukul lehernya dengan alasan remaja itu meludah kepadanya. Sebagai guru anak berkebutuhan khusus, saya merasa tidak bisa lagi tinggal diam. Saya meletakkan tas, mendekati anak itu, dan berusaha menenangkannya. Saya mengusap punggungnya dengan lembut, menurunkan suara, dan mencoba menghadirkan rasa aman. “Sakit ya, sayang? Tenang ya, ibu di sini,” ucap saya.
Perlahan, ia mulai merespons. Ia menunjuk kaki dan lehernya, mengeluarkan ungkapan verbal yang tidak bisa dipahami, namun jelas menunjukkan rasa sakit dan ketakutan. Meltdown Bukan Pilihan
Dalam dunia pendidikan khusus, meltdown dipahami sebagai kondisi ketika individu tidak lagi mampu mengelola rangsangan berlebih; suara bising, keramaian, cahaya terang, atau situasi yang membingungkan. Berbagai hasil riset dan kajian tentang autisme dan kebutuhan khusus menegaskan bahwa meltdown bukan perilaku yang disengaja, bukan kenakalan, dan bukan bentuk agresi yang direncanakan.
Bagi ABK non-verbal, keterbatasan komunikasi membuat kondisi ini semakin kompleks. Ketika rasa takut dan panik memuncak, tubuhlah yang berbicara. Meludah, memukul, atau mendorong sering kali merupakan satu-satunya cara menyampaikan bahwa ada sesuatu yang salah. Sayangnya, di ruang publik yang minim literasi disabilitas, bahasa tubuh ini kerap disalahartikan sebagai ancaman.
Bahasa yang Tak Keluar, Tapi Bermakna
Remaja itu kembali menyentuh tangan saya, lalu mendorongnya ke depan, seolah meminta saya mendatangi orang-orang yang tadi menyakitinya. Tak lama kemudian, ibunya datang. Anak itu langsung menatap ibunya dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan caranya sendiri. Saya membantu menjelaskan situasi tersebut dan meminta sang ibu segera memeluk anaknya. Pelukan itu perlahan menurunkan kegelisahan yang sebelumnya begitu kuat.
Riset tentang intervensi krisis pada ABK menunjukkan bahwa rasa aman, melalui sentuhan lembut dari figur yang dikenal, nada suara yang tenang, dan pengurangan stimulus, merupakan kunci utama meredakan meltdown. Respons empatik jauh lebih efektif dibandingkan teguran keras atau hukuman. Namun, meski sudah lebih tenang, anak itu kembali menatap saya dengan penuh harap dan meminta saya mendatangi orang-orang yang telah memukulnya.
Saya mengangguk, meyakinkannya bahwa ia sudah bersama ibunya, dan berjanji akan berbicara kepada pihak-pihak terkait.
Saat Penjelasan Menghentikan Keributan
Saya mendatangi beberapa orang dewasa yang sebelumnya emosi. Mereka menyampaikan bahwa mereka merasa dipukul dan diludahi secara tiba-tiba. Saya kemudian menjelaskan bahwa anak tersebut adalah ABK non-verbal yang sedang mengalami meltdown, kebingungan, dan kehilangan pendamping di tengah keramaian. Mereka meminta saya menyampaikan permohonan maaf kepada pihak lain yang sempat terlibat, termasuk sepasang suami istri yang baru pulang umrah.
Meski saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan anak tersebut, saya kembali menjelaskan kondisinya dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ketika pemahaman mulai hadir, ketegangan pun mereda. Keributan selesai bukan karena adu emosi, melainkan karena penjelasan dan empati.
Refleksi Sosial yang Mengusik Nurani
Peristiwa ini bukan kejadian tunggal. Sebelumnya, publik juga dikejutkan oleh kasus Ridho dan beberapa remaja ABK lain yang menjadi korban penghakiman massal karena perilakunya dianggap tidak wajar. Polanya hampir selalu sama: salah paham, emosi spontan, lalu kekerasan. Pengalaman ini membuat saya bertanya, apakah ruang publik kita benar-benar siap menjadi ruang bersama bagi semua orang? Atau hanya aman bagi mereka yang dianggap “normal” oleh standar mayoritas?
Padahal, sekilas melihat remaja tersebut, kita sebenarnya bisa menyadari bahwa ia adalah anak berkebutuhan khusus. Namun, kesadaran itu sering kalah oleh emosi sesaat.
Belajar Bersama, Bukan Menghakimi
Para praktisi pendidikan khusus dan berbagai kajian internasional sepakat bahwa masyarakat perlu dibekali pemahaman dasar tentang ABK. Saat bertemu anak yang menunjukkan perilaku tidak biasa di ruang publik, langkah paling sederhana adalah: menahan diri dan tidak bereaksi dengan kekerasan, menjaga jarak aman, mencari orang tua, keluarga, atau petugas, serta membantu mengurangi stimulus di sekitar anak.
Empati bukan berarti membenarkan semua perilaku, melainkan memahami konteks sebelum bereaksi. Agar Tak Ada Lagi Anak yang Disakiti
ABK bukan ancaman. Mereka bukan gangguan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama-sama berhak merasa aman di ruang publik. Cara kita memperlakukan mereka adalah cermin kemanusiaan kita. Peristiwa di bandara itu memang berakhir damai. Namun, kegelisahan saya tetap tinggal. Harapan saya sederhana: semoga tidak perlu ada korban berikutnya agar kita belajar empati. Meltdown bukan kenakalan. Dan memahami perbedaan adalah tanggung jawab kita bersama.











