.CO.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington telah mengerahkan “armada besar” angkatan laut menuju kawasan Teluk, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Pengerahan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif, sementara Trump menyampaikan harapan agar kekuatan militer itu tidak perlu digunakan.
“Kami memiliki banyak kapal yang bergerak ke arah itu, untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat,” kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One dalam perjalanan pulang dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (waktu setempat).
Sejumlah media asing melaporkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Kapal induk ini adalah bagian dari kelas Nimitz dan ditenagai oleh dua reaktor nuklir Westinghouse A4W. Dengan panjang sekitar 332,8 meter dan bobot benam lebih dari 100.000 ton saat muatan penuh, USS Abraham Lincoln menjadi salah satu pangkalan udara terapung paling mematikan di dunia.
Dalam kapal ini, terdapat kapasitas untuk mengangkut hingga 90 unit pesawat terbang dan helikopter. Komposisi sayap udaranya (Carrier Air Wing 9) didominasi oleh jet tempur canggih seperti F/A-18E/F Super Hornet dan jet tempur siluman generasi kelima F-35C Lightning II. Selain jet tempur, kapal ini juga membawa pesawat peringatan dini E-2C/D Hawkeye, pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler, serta berbagai varian helikopter Seahawk untuk misi pencarian, penyelamatan, dan anti-kapal selam.
Kekhasan utama USS Abraham Lincoln terletak pada sejarah operasionalnya dan kemampuan tempurnya yang mutakhir. Kapal ini dikenal sebagai kapal induk berbasis Pasifik pertama yang mengintegrasikan awak perempuan dalam penugasannya pada tahun 1995, sehingga mendapat julukan “Babe Lincoln”. Secara teknis, kapal ini memiliki dek penerbangan seluas 4,5 hektar yang dilengkapi dengan empat katapel uap untuk meluncurkan pesawat setiap menit. Selain itu, pasokan energi nuklirnya memungkinkan kapal ini beroperasi hingga 20 tahun tanpa perlu mengisi bahan bakar, memberikannya jangkauan operasional yang hampir tak terbatas di seluruh samudera.
Washington juga sedang mempertimbangkan penempatan sistem pertahanan udara tambahan guna melindungi pangkalan-pangkalan AS dari potensi serangan Iran. Pengerahan ini memperluas opsi militer yang tersedia bagi Trump, baik untuk memperkuat pertahanan pasukan AS di kawasan maupun sebagai tekanan lanjutan terhadap Teheran, setelah serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah situs nuklir Iran pada Juni lalu.
Trump kembali memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan program nuklirnya. “Jika mereka mencoba melakukannya lagi, mereka harus pergi ke tempat lain. Kami akan menyerang mereka di sana juga, sesederhana itu,” ujarnya.
Iran saat ini dituntut melaporkan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait kondisi fasilitas yang diserang dan keberadaan material nuklirnya. Menurut tolok ukur IAEA, Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen, jumlah yang, jika diperkaya lebih lanjut, cukup untuk sekitar 10 bom nuklir. Namun, badan pengawas PBB tersebut belum memverifikasi stok uranium Iran selama sedikitnya tujuh bulan terakhir.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat seiring gelombang protes massal di Iran sejak akhir Desember. Aksi yang awalnya dipicu kesulitan ekonomi itu dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah dan mengguncang kepemimpinan ulama di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kelompok hak asasi manusia menyebut penindakan aparat keamanan berlangsung brutal. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS mengklaim telah memverifikasi sedikitnya 4.519 kematian, sebagian besar demonstran, dan masih meninjau ribuan laporan lainnya. Pejabat Iran, sebaliknya, menyatakan jumlah korban tewas yang dikonfirmasi mencapai lebih dari 5.000 orang, termasuk sekitar 500 anggota pasukan keamanan.
Trump mengklaim tekanan Washington turut berperan menahan eskalasi kekerasan. Ia mengatakan Iran membatalkan hampir 840 eksekusi gantung setelah ancaman Amerika Serikat. “Satu jam sebelum hal mengerikan itu terjadi, mereka membatalkannya. Itu pertanda baik,” kata Trump, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Di Teheran, respons keras datang dari Garda Revolusi Iran. Komandannya, Jenderal Mohammad Pakpour, memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melakukan kesalahan perhitungan. “Korps Garda Revolusi dan Iran tercinta siap siaga, lebih siap dari sebelumnya, untuk melaksanakan perintah pemimpin tertinggi,” katanya dalam pernyataan yang dikutip televisi pemerintah.
Peringatan serupa disampaikan pejabat militer senior Iran lainnya, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, yang menyebut seluruh kepentingan, pangkalan, dan pusat pengaruh Amerika Serikat akan menjadi “target yang sah” jika Washington melancarkan serangan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik gelombang protes sebagai bentuk “balas dendam pengecut” atas kekalahan mereka dalam perang 12 hari pada Juni lalu. Meski demikian, ia menyebut demonstrasi sebagai hak warga negara, seraya menegaskan pemerintah akan bertindak terhadap pihak-pihak yang dianggap melakukan kekerasan.
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia menilai angka korban resmi pemerintah Iran tidak kredibel dan kemungkinan jauh lebih rendah dari kenyataan. Pemadaman internet nasional selama lebih dari dua pekan disebut menghambat verifikasi independen terhadap jumlah korban dan penangkapan massal yang terus berlangsung.
Meski retorika keras masih mendominasi, kemungkinan aksi militer langsung Amerika Serikat terhadap Iran dinilai mereda untuk sementara, dengan kedua pihak sama-sama menyatakan masih membuka ruang diplomasi. Namun, pengerahan armada AS menunjukkan bahwa Washington tetap menyiapkan skenario terburuk jika ketegangan kembali meningkat.











