Sejarah dan Perkembangan FIFA Puskas Award
FIFA Puskas Award adalah penghargaan yang diberikan oleh Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) kepada pemain dengan gol paling indah dalam satu tahun kalender. Penghargaan ini pertama kali dibentuk pada 20 Oktober 2009, atas gagasan Presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter. Tujuannya adalah untuk memberikan apresiasi terhadap gol yang dinilai paling “estetis” dan spektakuler.
Tahun ini menjadi spesial bagi fans sepak bola Indonesia setelah bek Persija Jakarta, Rizky Ridho, masuk sebagai salah satu dari 11 nominasi. Golnya yang spektakuler pada laga Liga 1 2024-2025 melawan Arema FC pada Maret 2025 membuatnya menjadi pemain Indonesia pertama yang masuk nominasi FIFA Puskas Award sepanjang masa.
Fans kini memiliki kesempatan untuk mendukung gol Rizky Ridho agar terpilih sebagai pemenang penghargaan bergengsi tersebut. Proses voting dilakukan oleh panelis FIFA Legends, yang juga menentukan separuh bobot suara. Namun, FIFA Puskas Award tidak selamanya bergantung hanya pada voting fans dan panelis.
Hingga 2018, pemenang Puskas Award ditentukan sepenuhnya oleh suara penggemar melalui situs resmi FIFA. Namun, sebuah kontroversi pada edisi 2018 mengubah mekanisme pemilihan. Saat ini, penentuan pemenang dilakukan melalui panel ahli yang ditunjuk FIFA, dengan tiga besar hasil voting publik menjadi dasar penilaian.
Mohamed Salah dan Kontroversi Tahun 2018
Salah satu momen paling ramai diperbincangkan dalam sejarah Puskas Award terjadi pada 2018 ketika winger Liverpool, Mohamed Salah, keluar sebagai pemenang berkat golnya ke gawang Everton dalam derby Merseyside di Anfield. Dari 10 gol kandidat, termasuk sepakan salto Gareth Bale pada final Liga Champions dan aksi akrobatik Cristiano Ronaldo ketika melawan Juventus, Salah meraih 38 persen suara dan keluar sebagai pemenang.
Gol tersebut lahir dari aksi individu Salah yang memutar melewati dua pemain Everton sebelum melepaskan tembakan melengkung ke sudut jauh. Namun banyak penggemar di media sosial mempertanyakan apakah gol itu benar-benar pantas mengalahkan dua gol spektakuler lainnya. Tidak sedikit pula yang menilai gol tersebut bukan yang terbaik dari Salah selama musim 2017-2018, ketika ia total mencetak 44 gol di semua kompetisi.
Reaksi juga datang dari rekan setimnya, James Milner, yang melontarkan gurauan di Twitter:
“Selamat Mohamed Salah atas gol ketujuh terbaik dari musim lalu yang memenangkan penghargaan gol terbaik tahun ini.”
Kritik Ibrahimovic dan Perdebatan yang Tak Pernah Redup
Selain fans, bintang lain juga melontarkan pendapat. Zlatan Ibrahimovic menyatakan bahwa gol Salah bukan pemenang yang tepat dan menyebut seharusnya gol-golnya sendiri masuk nominasi. Ketika ditanya apakah ia setuju Salah layak menang, Ibrahimovic menjawab singkat, “Tidak.”
Saat diminta menyebut pemenang yang layak, ia mengatakan Cristiano Ronaldo mencetak gol yang bagus, sambil menambahkan bahwa jika golnya sendiri tidak masuk daftar kandidat, maka daftar itu “tidak menarik”. Ibrahimovic bahkan menyebut golnya ke gawang Los Angeles FC atau gol ke-500 dalam kariernya sebagai contoh yang menurutnya layak diperhitungkan.











