Kebakaran Besar di Kompleks Apartemen Wang Fuk Court
Kebakaran besar yang terjadi di kompleks apartemen Wang Fuk Court, distrik Tai Po, Hong Kong, menjadi salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah kota tersebut. Api yang menyebar selama lebih dari 24 jam menghancurkan dua blok hunian bertingkat tinggi dan menyebabkan korban jiwa yang sangat banyak. Peristiwa ini tidak hanya memicu langkah cepat aparat hukum, tetapi juga meninggalkan duka mendalam serta menggerakkan solidaritas publik dan dunia internasional.
Kebakaran Berlangsung 24 Jam, Diperburuk Perancah Renovasi
Saat kebakaran terjadi, kawasan tengah kompleks sedang menjalani renovasi besar-besaran. Seluruh bangunan dibungkus perancah bambu dan jaring hijau, struktur yang justru mempercepat penyebaran api dan menghalangi proses evakuasi. Menurut Wakil Direktur Dinas Pemadam Kebakaran Hong Kong, Derek Armstrong Chan, sebagian besar korban ditemukan di dua blok yang terbakar hebat. Tim penyelamat menghadapi panas ekstrem, asap pekat, hingga runtuhan perancah saat mencoba mencapai lantai-lantai atas.
Meskipun demikian, beberapa penyintas berhasil ditemukan, termasuk satu orang di tangga gedung. “Kami memperkirakan api dapat sepenuhnya dipadamkan malam ini,” ujar Chan.
Penyebab Mulai Terungkap: 3 Bos Konstruksi Ditangkap
Tragedi ini langsung diikuti perkembangan hukum signifikan. Polisi Hong Kong menahan dua direktur dan seorang konsultan teknik dari Prestige Construction, perusahaan yang bertanggung jawab atas renovasi bangunan. Mereka dituduh melakukan pembunuhan tidak berencana karena diduga memakai material konstruksi tidak aman yang memperburuk kebakaran.
Superintendent Eileen Chung menegaskan bahwa perusahaan menunjukkan “kelalaian fatal” yang menyebabkan api menyebar tanpa terkendali. Penggeledahan kantor perusahaan mengamankan dokumen tender, daftar pegawai, 14 komputer, serta tiga ponsel untuk penyelidikan lebih lanjut.
Korban Meninggal Tembus 94, Ratusan Masih Hilang
Korban tewas yang sebelumnya dilaporkan 83 orang kini telah meningkat menjadi sedikitnya 94 jiwa, menjadikannya kebakaran paling mematikan di Hong Kong sejak 1948, ketika 176 orang meninggal akibat kebakaran gudang. Selain itu, 279 orang masih tercatat hilang, sebuah angka yang belum diperbarui lebih dari 24 jam, menandakan kemungkinan korban bisa terus bertambah.
Di tengah suasana duka, kisah-kisah memilukan bermunculan. Seorang ibu berusia 52 tahun terlihat memegang foto kelulusan putrinya sambil mencari kabar dua anggota keluarganya. “Dia dan ayahnya masih belum keluar. Mereka tidak punya air untuk menyelamatkan gedung kami,” ujarnya sambil terisak. Paus Leo turut menyampaikan solidaritas spiritual melalui telegram kepada Uskup Hong Kong, Kardinal Stephen Chow Sau-yan, bagi seluruh korban dan keluarga yang berduka.
Pemerintah Salurkan Dana Bantuan dan Tempat Evakuasi Darurat
Kepala Eksekutif Hong Kong, John Lee, mengumumkan pembentukan dana bantuan HK$300 juta (sekitar US$39 juta) untuk mendukung warga terdampak. Sejumlah perusahaan besar ikut turun tangan memberikan donasi, termasuk Xiaomi, Xpeng, Geely, Yayasan Jack Ma, dan Tencent.
Di malam kedua pasca-kebakaran, pusat perbelanjaan terdekat menjadi tempat bermalam bagi puluhan warga yang dievakuasi. Mereka memilih tidur di sana agar membuka ruang di pusat evakuasi resmi untuk warga yang lebih membutuhkan. Pemandangan haru terlihat: warga lanjut usia hingga anak sekolah tidur di atas kasur lipat, diselimuti kain tebal, sementara relawan membawa makanan, minuman, hingga perlengkapan kebersihan.
Kompleks Hunian Padat dengan 4.600 Warga
Wang Fuk Court adalah bagian dari skema perumahan bersubsidi pemerintah Hong Kong dan telah dihuni sejak 1983. Terdiri dari 2.000 unit dengan lebih dari 4.600 penghuni, kawasan ini dikenal sebagai tumpuan keluarga kelas menengah di tengah krisis perumahan panjang kota tersebut. Tingginya populasi, renovasi besar-besaran, serta struktur perancah bambu yang membungkus bangunan menjadi kombinasi mematikan yang memperparah tragedi kali ini.
Kebakaran Wang Fuk Court bukan sekadar bencana kebakaran biasa. Ini adalah tragedi kota yang menyentuh dimensi kemanusiaan, tata kelola, keselamatan konstruksi, serta kesigapan penegakan hukum. Dengan korban meninggal yang terus bertambah dan ratusan lainnya masih hilang, dunia menanti langkah-langkah lanjutan pemerintah Hong Kong dalam memastikan keadilan serta pemulihan bagi ribuan warga yang terkena dampaknya.











