JAKARTA,
Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) dalam sepekan terakhir telah meninggalkan kerusakan besar. Banyak rumah warga hanyut, akses jalan terputus, serta komunikasi padam di sejumlah wilayah. Selain itu, ratusan nyawa melayang begitu cepat ketika air bah dan material longsor menerjang pemukiman yang tidak sempat mengantisipasi bahaya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa hingga Sabtu (29/11/2025), total korban meninggal dunia mencapai 303 orang, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Di Sumatera Utara saja, angka korban melonjak drastis hanya dalam satu hari. Penambahan itu terjadi seiring operasi pencarian oleh tim SAR gabungan yang terus bekerja siang malam.
“Korban jiwa yang kemarin 116 jiwa, sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia. Artinya dalam satu hari ini bertambah 60 jiwa meninggal dunia,” kata Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers, Sabtu.
Dampak paling nyata saat ini adalah terganggunya kehidupan ribuan warga yang terpaksa mengungsi. Aceh menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, hampir menyentuh 50.000 kepala keluarga yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Sumatera Barat dan Sumatera Utara juga melaporkan belasan ribu jiwa harus meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi.
Operasi SAR 24 Jam, Distribusi Logistik Dipercepat
Kepala BNPB Suharyanto menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah menyelamatkan korban hilang dan memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. “Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) agar diupayakan selama 24 jam. Operasi ini akan dipimpin oleh Basarnas dan dibantu oleh TNI, Polri, dan relawan,” ujar Suharyanto.
Selain itu, pendistribusian logistik bantuan juga terus dipercepat agar kebutuhan warga terpenuhi. Upaya percepatan dilakukan dengan mengirimkan bantuan melalui udara ke titik-titik yang aksesnya masih tertimbun material longsor. Helikopter MI-17 hingga dua heli tambahan telah disiagakan di Sumatera Utara.
“Akses menuju Sibolga dari Tarutung masih tidak bisa dilalui akibat beberapa titik jalanan masih tertimbun material longsor,” kata Suharyanto. Sementara di Aceh, satu pesawat Caravan dan enam helikopter terus bergerak mengirim bantuan ke wilayah seperti Aceh Tengah, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur yang sulit dijangkau lewat jalur darat.
Pulihkan Akses Jaringan Komunikasi Bertahap dengan Starlink
Pemulihan komunikasi juga menjadi tugas mendesak karena banyak wilayah masih terisolasi sinyal. Untuk itu, pemerintah memasang 28 unit Starlink guna menyediakan layanan internet satelit dan 33 genset di lokasi prioritas. Dengan adanya jaringan komunikasi darurat ini, koordinasi SAR dan pemetaan kebutuhan bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
Selain komunikasi, kebutuhan pangan bagi pengungsi juga menjadi perhatian utama. BNPB dan Kementerian Sosial (Kemensos) membuka empat dapur umum yang setiap hari menyiapkan makanan siap santap. Pertamina turut mengamankan pasokan energi -terutama bahan bakar minyak (BBM) di daerah dengan kerusakan jaringan distribusi melalui jalur alternatif.
Polri Kerahkan K-9, Kapal hingga Dapur Lapangan
Dari sisi pengamanan dan dukungan kemanusiaan, Polri mengerahkan 87.924 personel secara nasional untuk menghadapi semua potensi bencana, termasuk di lokasi banjir-longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Bahkan anjing pelacak K-9 ikut membantu pencarian korban yang tertimbun material longsor atau terbawa arus.
“K-9 SAR dilibatkan ketika ada laporan korban yang masih hilang dari dampak bencana ini,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko. Polri juga menurunkan kapal patroli dan mengoperasikan 28 dapur lapangan yang menyediakan kebutuhan pokok bagi pengungsi.
Petakan Kerusakan Infrastruktur untuk Rehabilitasi
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan, pemerintah akan mulai melakukan pemetaan kerusakan untuk mempercepat perbaikan. Pasalnya kerusakan infrastruktur publik seperti jembatan dan jalan raya, menyumbat mobilitas dan memperlambat pemulihan.
“Tahapan pertama adalah tanggap darurat dulu bencana, penyelamatan warga, tapi setelah itu sekaligus kita memetakan,” kata AHY. Dia memastikan alat berat dan petugas teknis telah bekerja di sejumlah titik terdampak untuk membuka akses yang tertutup tanah longsor.
Janji Evaluasi Kebijakan yang Rusak Lingkungan
Presiden RI Prabowo Subianto sendiri telah menyampaikan duka cita atas peristiwa bencana alam yang menimpa tiga provinsi di Pulau Sumatera. Dia pun mendoakan agar para korban terdampak bencana diberi kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
“Kita turut merasakan kesulitan dan duka saudara-saudara kita yang sekarang ini sedang mengalami bencana alam dan kita berdoa dan meminta pertolongan yang Maha Kuasa untuk senantiasa meringankan penderitaan mereka,” ucap Prabowo saat menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2025, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (28/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo turut menyoroti bahwa bencana yang terjadi harus menjadi pelajaran, khususnya di tengah perubahan iklim di dunia. “Ini juga mengingatkan kita betapa kita harus waspada dan menjaga lingkungan kita bahwa masalah lingkungan adalah sangat sangat penting dalam kondisi perubahan iklim yang kita alami di bumi kita sekarang,” kata Prabowo.
Menyusul hal itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan evaluasi akan segera dilakukan terhadap kebijakan yang merusak lingkungan, terutama praktik penebangan hutan dan alih fungsi lahan. “Pak Presiden dalam pidatonya mengatakan penebangan hutan liar yang tidak terkontrol berkontribusi besar terhadap bencana. Jadi kita akan melakukan evaluasi kebijakan,” kata Raja Juli.
Di tengah upaya darurat yang terus berjalan, pemerintah tampaknya mulai menyadari bahwa bencana ini hadir bukan semata akibat hujan ekstrem. Kerusakan lingkungan turut memperparah skala bencana. Banyaknya kayu gelondongan yang terseret arus banjir menjadi indikator kuat adanya persoalan serius dalam tata kelola lingkungan.











