JAKARTA — Para agen pemegang merek (APM) mobil sedang mencari strategi terbaik untuk menjaga kinerja penjualan di tengah risiko minimnya insentif bagi industri otomotif pada tahun 2026. Pasalnya, pasar otomotif masih menghadapi tekanan sepanjang tahun 2025 akibat berbagai faktor seperti lesunya daya beli masyarakat hingga semakin ketatnya lembaga pembiayaan dalam menyalurkan kredit kendaraan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa secara nasional, penjualan mobil wholesales pada Januari–November 2025 mencapai 710.084 unit, turun 9,6% (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebanyak 785.917 unit. Penjualan mobil secara ritel alias dari dealer ke konsumen juga menurun 8,4% secara tahunan menjadi 739.977 unit, dari sebelumnya 807.586 unit.
Produsen otomotif asal Jepang, PT Honda Prospect Motor (HPM), menyiapkan strategi penjualan baru, menyusul prediksi minimnya insentif pemerintah bagi industri otomotif pada 2026. Sales, Marketing, and After Sales Director HPM Yusak Billy mengatakan bahwa perseroan meyakini pemerintah akan merumuskan kebijakan terbaik untuk menjaga pertumbuhan sektor otomotif.
“Apa pun aturannya, kami akan menyesuaikan strategi agar tetap memberi value terbaik bagi konsumen melalui produk yang berkualitas dan layanan purnajual yang kuat, agar tetap kompetitif dalam berbagai kondisi kebijakan,” ujarnya.
Adapun, penjualan ritel Honda sepanjang Januari–November 2025 mencapai 64.225 unit dengan pangsa pasar 8,7%. Kontribusi terbesar tetap berasal dari Honda Brio yang menembus lebih dari 35.000 unit. Model lainnya, Honda HR-V dan Honda WR-V, masing-masing mencatat penjualan lebih dari 12.000 unit dan 7.000 unit.
Di sisi lain, Honda terus berupaya mempertahankan pangsa pasar di tengah tekanan yang menghantam industri otomotif sepanjang 2025. Persaingan semakin tajam seiring pelemahan permintaan. Namun, Honda mengeklaim masih berada di lima besar penjualan nasional.
“Pergerakan pasar pada Januari–November 2025 cukup dinamis. Namun, kami bersyukur Honda tetap berada di posisi lima besar nasional,” tambah Billy.
Senada, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) memusatkan strategi pada upaya menjaga daya saing di pasar domestik, di tengah prediksi seretnya insentif bagi industri otomotif pada tahun depan. Marketing & Customer Relations Division Head Astra International Daihatsu Sales Operation Tri Mulyono menegaskan bahwa Daihatsu tetap berkomitmen mematuhi seluruh regulasi yang akan ditetapkan pemerintah.
Walaupun keputusan terkait insentif otomotif 2026 belum final, Daihatsu tetap berupaya mempertahankan posisi dan pangsa pasarnya di Indonesia.
“Kami terus memantau perkembangan keputusan tersebut, sambil tetap fokus menjaga daya saing produk di pasar,” ujar Tri.
Risiko Kalah Saing di Kancah ASEAN
Di lain sisi, dominasi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di ASEAN mulai terancam oleh Malaysia. Sepanjang Januari–Oktober 2025, penjualan mobil Malaysia mencapai 655.328 unit, hanya turun tipis 1,8% dibandingkan 666.905 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada 2024, penjualan mobil Malaysia menembus 816.747 unit, sementara Indonesia berada di 865.723 unit. Padahal, populasi Malaysia hanya sekitar 34 juta orang, jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia yang melampaui 280 juta jiwa.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai Indonesia perlu mempertahankan reputasinya sebagai pasar otomotif terbesar di ASEAN. Menurutnya, jika pasar domestik terus melemah, ada risiko pelaku industri memindahkan ekosistemnya dari Tanah Air.
“Kami harapkan pasar bisa mencapai 800.000 unit agar posisi Indonesia tetap di atas Malaysia. Reputasi itu penting. Kalau Indonesia bukan nomor satu di ASEAN, khawatir ekosistemnya pindah,” ujar Bob.
Bob menambahkan bahwa sejumlah negara ASEAN seperti Vietnam dan Malaysia masih menggelontorkan insentif untuk mendongkrak penjualan otomotif.
“Negara lain memberikan beragam insentif. Vietnam menurunkan PPN dari 10% menjadi 8%. Malaysia juga memberi insentif sejak Covid, bahkan kalau tidak salah pembeli mobil pertama mendapat dukungan dari pemerintah,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa industri otomotif memiliki efek pengganda yang kuat dan berkontribusi besar terhadap penerimaan daerah.
“Saat ini sebagian besar pajak daerah bergantung pada penjualan mobil. Kalau penjualan turun, pendapatan daerah ikut tertekan. Apalagi tahun depan dana transfer ke daerah dipotong, jadi ini harus dipikirkan betul-betul,” kata Bob.
Sinyal Insentif Otomotif Minim 2026
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi sinyal bahwa tidak akan ada insentif khusus bagi industri otomotif pada 2026.
“Insentif [otomotif] tahun depan tidak ada,” ujar Airlangga usai menghadiri Kompas100 CEO Forum di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (26/11/2025).
Airlangga menilai absennya insentif tersebut karena industri otomotif saat ini dianggap sudah cukup stabil dan tangguh sehingga dukungan fiskal tidak lagi mendesak.
Selain itu, menurutnya, geliat industri terlihat jelas dari penyelenggaraan berbagai pameran otomotif sepanjang tahun, seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Indonesia International Motor Show (IIMS), serta Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW).
“Karena industrinya sudah cukup kuat. Apalagi sudah ada pameran di sini [Gaikindo Jakarta Auto Week 2025], kuat banget,” jelas Airlangga.
Namun, Airlangga tetap membuka kemungkinan adanya kajian lanjutan terkait insentif otomotif ke depan. “Dikaji, tapi belum diputuskan,” ujarnya.
Adapun, seiring dengan lesunya pasar otomotif, Gaikindo telah merevisi target penjualan mobil baru pada 2025 menjadi 780.000 unit, dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 850.000–900.000 unit.
Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyatakan bahwa stimulus pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendongkrak penjualan otomotif nasional, di tengah daya beli masyarakat yang masih melemah.
Gaikindo berharap pemerintah kembali memberikan insentif untuk mendukung penjualan mobil domestik, dengan skema serupa seperti saat pandemi Covid-19.
Sebagai pengingat, pada awal 2022, pemerintah memperpanjang insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebagai bagian dari program pemulihan industri otomotif, yang terbukti mendorong penjualan mobil hingga menembus lebih dari 1 juta unit pada 2022.
“Memang dalam kondisi yang sekarang ini, pembelian belum begitu bagus. Kalau dikasih insentif, paling tidak seperti waktu Covid-19, jadi harga mobil lebih affordable sehingga bisa mendorong volume kendaraan,” ujar Putu saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, belum lama ini.











