"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Cerpen: Cukup Bagiku

Perjalanan Dari Kekecewaan Hingga Penerimaan

Dulu, aku pernah marah pada Ibu. Itu karena aku tidak pernah merasakan peluk dan cium seperti sembilan adik-adikku. Aku marah karena aku bukanlah putri sulung yang diasuh langsung oleh Ibu, melainkan oleh kakek dan nenek sambungku. Aku marah, tapi tak tahu bagaimana harus melampiaskan kemarahanku.

Aku iri pada adik-adikku yang tampaknya lebih dicintai oleh Ibu. Aku merasa bahwa Ibu membuangku. Bahkan, Ibu tidak pernah mengakui diriku sebagai putri sulungnya! Aku marah dan kecewa. Apakah salah jika aku merasa iri dan marah, Bu?

Sampai aku remaja, berbagai cerita tentang masa kecilku terus berseliweran dan menyudutkan posisiku. Amarah dan kejengkelanku pada Ibu pun semakin besar. Mengapa Ibu tidak mempertahankanku sebagai putri sulung? Mengapa Ibu tidak mengasuhku sendiri?

Banyak orang mengatakan bahwa Ibu takut pada ancaman mertua dan suami barunya. Benarkah begitu, Bu? Aku memang tidak tahu apa-apa tentang masalah itu. Namun, sejujurnya aku kecewa. Seharusnya Ibu adalah orang yang paling mencintaiku karena sudah mengandung dan melahirkanku. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seperti Ibu “lepas tangan” dan terkesan membuangku. Setidaknya, itulah yang kurasakan.

Menerima Takdir Dengan Kebahagiaan

Seiring waktu berlalu, sedikit demi sedikit aku bisa menerima takdirku. Aku tidak lagi memperhatikan siapa yang melahirkanku, dalam kondisi bagaimana aku dilahirkan, atau statusku. Setelah mengenal kasih-Nya, aku makin tahu bahwa sejarah dan silsilah hanya sebagai persyaratan saja. Tidak perlu khawatirkan karena sesungguhnya Allah bisa menggunakan cara apa pun demi kelahiran seorang bayi. Seseorang yang diciptakan dan dipersiapkan oleh-Nya sebaik-baiknya.

Dengan pengenalan akan kasih Allah itu, aku makin paham maksud penciptaan yang dilakukan-Nya. Bukan untuk ketidakbaikan, justru sebaliknya demi kebaikan semata. Allah tidak menciptakan sesuatu yang buruk, tidak! Namun, Allah menciptakan sesuatu dengan tujuan dan kehendak-Nya yang mulia.

Jadi, aku makin belajar bahwa kisah masa laluku sehitam jelaga pun, tak perlu kusesali. Justru aku harus bersyukur dianugerahi kesempatan hidup. Hidup yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk kemuliaan nama-Nya semata.

Kehidupan Di Bawah Pengasuhan Kakek dan Nenek

Seandainya aku hidup di bawah pengasuhan Ibu, barangkali aku tidak akan berkembang seperti sekarang. Barangkali ceritanya tidak berjalan seperti yang kulalui. Justru dalam perjalanan panjang yang penuh lika-liku ini, ternyata aku makin tangguh. Kesulitan, kekurangan kasih sayang, dan serba keterbatasan itu ternyata mendewasakan aku hingga ke titik seperti sekarang.

Meski di bawah pengasuhan kakek dan nenek, aku bukan anak kecil, gadis, hingga perempuan manja! Hidupku justru diperhadapkan dengan ketidaknyamanan psikologis, bahkan di-godhog dalam kawah candradimuka! Hinaan, ejekan, caci dan cemoohan yang kerap kuterima itu telah berubah menjadi lecut yang memacu dan memicu semangat juangku untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Menjadi Ibu Yang Kuat

Ketika aku sendiri berperan menjadi ibu, aku tidak cengeng lagi! Saat kesakitan itu, aku tidak berteriak memanggil “ibu”, tetapi langsung menyebut nama Tuhan! Ya, sekalipun orang tuaku meninggalkanku, aku tahu … Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Tuhanlah penolongku satu-satunya dalam kondisi bagaimana pun!

Berawal dari sakitnya hendak melahirkan, aku menangis. Ya, aku teringat akan masa ketika Ibu melahirkan aku! Aku sadar bahwa proses itu tidak mudah dan sangat menyakitkan. Makanya, kemarahanku kian luruh. Aku tidak lagi marah dan menyadari sulitnya posisi Ibu saat melahirkan diriku.

Maka, aku menangis, mengucap syukur kepada-Nya, dan membatin, “Terima kasih, Bu, Ibu telah bersedia melahirkan diriku!”

“Terima kasih, Bu, Ibu telah mengizinkan aku untuk tinggal di rahim Ibu selama sembilan bulan penuh. Terima kasih, Ibu tidak membuangku saat masih berada di rahim itu. Dengan demikian, aku lahir sempurna tanpa cacat sedikit pun karena tak ada jamu-jamu atau upaya aborsi!”

Aku minta maaf, Bu! Aku terlalu egois untuk sekadar memohon pengampunan padamu atas perilaku burukku saat masih kanak-kanak hingga remaja dahulu. Aku minta maaf, Bu!

Dan beruntungnya aku sudah mengatakan secara langsung di hadapan Ibu sendiri ketika Ibu sakit. Ya, aku berterima kasih kepada Tuhan yang memberikan kesempatan ekstra untuk bertemu denganmu, Bu! Kesempatan langka dan tak terduga sama sekali karena saat itu aku sedang diminta menggantikan teman dosen mengajar di perkuliahan daerah, tempat Ibu dirawat di rumah sakit.

Pertemuan Terakhir Dengan Ibu

“Mohon diizinkan, ya Pak, hanya lima menit saja!” rengekku saat itu kepada salah seorang security setelah kuceritakan kondisiku.

“Sebentar saja, ya Mbak!” katanya sambil mengantarku ke ruang rawat inap.

Kutumpahkan rasa yang menggunung dalam tangis, dan Ibu katakan pelan, “Jangan menangis, anakku sepuluh!”

Dikatakannya berulang-ulang. Hingga aku harus pamit pulang ke kotaku. Ini, artinya apa?

Bukankah sebuah pengakuan bahwa sebenarnya Ibu mengakui diriku sebagai putri sulungnya?

Ternyata, itu adalah pertemuanku yang terakhir kali dengan Ibu!

Akhirnya Mengetahui Cinta Ibu

Kini, aku benar-benar tahu bahwa sejujurnya Ibu sayang kepadaku. Tidak seperti dugaanku dahulu! Kepada adik perempuanku nomor tiga, Ibu juga selalu katakan bahwa Ibu menyayangi diriku ini. Bahkan, kata adikku itu, Ibu selalu menangis jika menceritakan tentang diriku ini. Sungguh, hal yang tak pernah kuketahui.

“Bu, terima kasih. Sekalipun dahulu tak pernah kurasakan peluk cium dan timangmu, yang penting aku tahu bahwa Ibu sayang padaku. Itu cukup bagiku!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *