BANDUNG – Sejumlah guru besar dari berbagai universitas menghadiri sebuah diskusi yang bertajuk Forum Professor: Catatan Kritis Akhir Tahun 2025 dan Proyeksi 2026 Kinerja Wali Kota Bandung. Diskusi ini digelar di Hotel Grandia, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, sebagai bentuk evaluasi terhadap kinerja pasangan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan Wakil Wali Kota Bandung Erwin setelah menjabat selama sembilan bulan.
Salah satu tokoh yang turut hadir adalah Harun Al Rasyid, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menyampaikan beberapa kritik terhadap kinerja Farhan, khususnya dalam penanganan banjir di Kota Bandung. Menurut Harun, upaya penanggulangan banjir masih berada pada tahap awal dan belum memberikan hasil signifikan.
Selain itu, ia juga menyebut bahwa Erwin, Wakil Wali Kota Bandung, tengah menghadapi masalah non teknis, yaitu statusnya sebagai tersangka kasus dugaan ‘Minta Proyek’ oleh Kejaksaan Negeri Kota Bandung. Harun berharap hal ini tidak memengaruhi semangat Farhan dalam menyelesaikan isu-isu penting di Kota Bandung.
“Terutama tadi masalah riil ya, utamanya drainase sudah harus bereslah. Jadi saya kira persoalan di luar teknis itu (kasus) sudah cukup berat. Mudah-mudahan tidak merambat ya,” ujarnya.
Harun juga menyarankan agar pengawasan masyarakat di akar rumput terhadap proyek-proyek Pemkot Bandung ditingkatkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah potensi korupsi. “Tadi dikatakan, kita hajar banjir dulu, tapi ya, harus ada yang mengawasi,” tambahnya.
Di sisi lain, Prof. Cecep Darmawan, Guru Besar Ilmu Politik dan Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), juga menyampaikan harapan serupa. Ia berharap Farhan segera mengentaskan banjir yang sering terjadi di Kota Bandung. Namun, permasalahan lain seperti infrastruktur jalan rusak, korupsi, sampah, parkir liar, serta isu kriminalitas juga tidak boleh dikesampingkan.
Prof. Muradi, Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad), menjelaskan bahwa Forum Professor merupakan wadah untuk membantu pemerintah daerah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Ia menyarankan agar Farhan memiliki program prioritas yang jelas dan dirancang dengan melibatkan kalangan akademisi.
“Yang paling penting adalah bagaimana kemudian ini disambut baik oleh teman-teman di Pemkot, supaya ada linkage antara kampus dengan Pemkot yang lebih teknis. Bukan hanya sebatas teori, wacana, tapi ini teknis,” ujarnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, sangat mengapresiasi kritik dan saran yang diberikan oleh para guru besar. Ia mengaku senang karena kritik tersebut menunjukkan bahwa pemerintahannya masih diperhatikan. “Justru selama masih dikritik, artinya masih disayang. Kalau sudah tidak dikritik, artinya dicuekin. Wah, bahaya itu,” katanya.
Farhan juga menyampaikan bahwa pandangan dari akademisi bisa memberikan perspektif objektif dalam menyelesaikan masalah di Kota Bandung. Ia menegaskan bahwa Pemkot Bandung akan terus berupaya menangani masalah banjir tanpa melakukan pembongkaran bangunan di sempadan sungai.
“Saya tidak mau normalisasi sungai, karena itu mematikan dulur (saudara) sorangan (sendiri). Saya hanya akan membangun kesadaran saja. Kalau anda mau pindah, saya sediakan lahannya. Kalau Anda enggak mau pindah, saya ajari cara mitigasi bencana,” tutupnya.









