"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Alasan Duta Besar Iran Kapal Pertamina Belum Bisa Melintasi Selat Hormuz

Kondisi di Selat Hormuz dan Persoalan Kapal Tanker Pertamina

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan global, terutama dalam transportasi minyak. Namun, situasi di kawasan ini terus memicu ketegangan, terutap setelah beberapa peristiwa keamanan yang mengancam kelancaran lalu lintas kapal. Salah satu isu utama saat ini adalah masalah yang dihadapi oleh dua kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan di Teluk Persia.

Protokol yang Harus Dilalui oleh Kapal-kapal

Menurut penjelasan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz harus menjalani sejumlah protokol khusus. Salah satunya adalah negosiasi dengan pihak petinggi keamanan Republik Islam Iran. Ia menyatakan bahwa prosedur ini diperlukan karena kondisi kawasan belum stabil.

“Pada masa perang, ada beberapa protokol yang harus dilalui terkait kapal-kapal yang hendak melewati Selat Hormuz, di antaranya adalah negosiasi dengan pihak petinggi keamanan Republik Islam Iran,” ujar Boroujerdi.

Ia menekankan bahwa seluruh negara, termasuk Indonesia, wajib mengikuti prosedur tersebut. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan situasi di wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Status Kapal Tanker Pertamina

Sebelumnya, pada hari Jumat (10/4/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menetapkan rute maritim alternatif di Selat Hormuz. Alasan utamanya adalah risiko ranjau laut yang masih ada. Namun, hingga saat ini, Selat Hormuz belum sepenuhnya dapat dibuka karena semua ranjau laut yang dipasang saat perang belum ditemukan.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Pemerintah Iran telah merespons positif permintaan Indonesia agar kapal Pertamina dapat melintasi Selat Hormuz secara aman. Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, mengatakan bahwa pihaknya berupaya keras agar kapal Pertamina bisa melewati jalur tersebut.

Berdasarkan data dari situs pelacak perjalanan kapal Vessel Finder, dua kapal tanker Pertamina masih berada di wilayah Teluk Persia. Kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi, sementara Kapal Gamsunoro tercatat berada di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.

Perundingan AS-Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan

Di sisi lain, perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS, JD Vance, langsung meninggalkan Pakistan setelah pembicaraan panjang di Islamabad. Ia menyatakan bahwa delegasi Iran menolak persyaratan yang diajukan Washington.

“Kami telah melakukan ini selama 21 jam, dan kami telah mengadakan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya,” kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.

Namun, ia juga menyampaikan bahwa tidak ada kesepakatan yang dicapai. Menurut Vance, Iran tidak berkomitmen untuk meninggalkan senjata nuklir setelah negosiasi berlangsung.

Peran Pakistan dalam Negosiasi

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menegaskan bahwa Washington dan Teheran harus mematuhi perjanjian gencatan senjata yang sudah disepakati. Ia menilai penting bagi semua pihak untuk menjunjung komitmen mereka terhadap gencatan senjata.

“Sangat penting bagi semua pihak untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata,” ujar Ishaq Dar.

Ia juga menyatakan bahwa Pakistan akan terus memainkan perannya dalam memfasilitasi dialog antara Iran dan AS di masa mendatang.

Kondisi Kewaspadaan di Kawasan

Dengan situasi yang masih memburuk, banyak pihak khawatir tentang kemungkinan eskalasi ketegangan di kawasan. Kehadiran ranjau laut, serta penolakan Iran terhadap syarat-syarat yang diajukan AS, membuat kondisi di Selat Hormuz semakin tidak pasti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *