Masalah Besar Liverpool di Bawah Arne Slot
Liverpool menghadapi masalah besar dalam hal kebobolan gol dari bola mati. Hal ini membuat mereka senasib dengan Manchester United, yang juga mengalami kesulitan serupa. Dalam beberapa pekan terakhir, Liverpool menjadi klub dengan jumlah kebobolan paling banyak akibat skema bola mati di Liga Inggris.
Jumlah gol yang berhasil dicetak lawan dari skema bola mati mencapai 12 gol. Angka ini menjadikan Liverpool sebagai tim kedua setelah Manchester United dalam daftar klub dengan kebobolan terbanyak dari situasi tersebut. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pelatih Arne Slot dan manajemen klub.
Kebobolan gol dari bola mati mayoritas berasal dari lemahnya antisipasi pemain Liverpool terhadap skema serangan lawan. Untuk mengatasi masalah ini, Liverpool memutuskan untuk memecat Aaron Briggs, yang sebelumnya bertugas sebagai pelatih pengembangan individu dan kemudian menjadi pelatih bola mati.
Pernyataan resmi dari Liverpool menyebutkan bahwa Aaron Briggs telah meninggalkan posisinya sebagai pelatih bola mati tim utama. Pemecatan ini terjadi dua hari sebelum Liverpool akan menghadapi Leeds United pada Jumat (1/1/2026) mendatang.
Statistik Mengenai Gol Bola Mati
Menurut statistik Sky Sports, jika gol dari bola mati menjadi ukuran posisi tim di Liga Inggris, Liverpool akan berada di urutan terbawah. Sementara itu, Arsenal berada di posisi teratas karena mampu mencetak 12 gol dari skema bola mati sambil hanya kebobolan 4 gol dari situasi tersebut.
Liverpool justru memiliki kebalikan dari Arsenal. Mereka hanya mampu mencetak 3 gol dari skema bola mati, namun kebobolan hingga 12 gol. Grafik yang menunjukkan performa Liverpool dalam mengantisipasi bola mati hingga pekan ke-18 menunjukkan bahwa mereka sangat rentan terhadap skema serangan lawan.
Liverpool bahkan lebih buruk dari Wolves yang hanya kebobolan 5 gol dari bola mati. Di sisi lain, Tottenham memiliki catatan terbaik dengan hanya kebobolan 2 gol dari situasi tersebut.
Performa Liverpool dalam Skema Tendangan Sudut
Musim ini, Liverpool telah menghadapi 85 tendangan sudut. Rata-rata, satu gol tercipta setiap sekitar 12 tendangan sudut. Sementara itu, West Ham yang memiliki jumlah kebobolan sama menghadapi 114 tendangan sudut, dengan rata-rata kebobolan sekitar 11 tendangan sudut.
Meskipun Liverpool tidak kebobolan dari skema tendangan sudut langsung yang bisa dikonversikan menjadi gol, masalah terletak pada fase kedua setelah itu. Virgil van Dijk dan rekan-rekannya sering kali gagal membaca ruang dan posisi lawan, sehingga mudah kebobolan dari skema tersebut.
Contoh Kejadian Terbaru
Contohnya adalah saat Liverpool menghadapi Manchester United di Anfield pada Oktober lalu. Tim asuhan Arne Slot kalah 1-2 karena gol Harry Maguire di penghujung waktu normal babak kedua. Maguire menyundul bola umpan silang Bruno Fernandes yang datang dari fase kedua setelah menerima umpan awal Bryan Mbeumo yang diblokir oleh lawan.
Dalam perebutan bola udara di tiang jauh, tiga pemain Man United berada dalam posisi yang tidak terkawal oleh anak asuh Arne Slot. Meski pemain Liverpool melakukan marking yang ketat pada fase pertama, mereka langsung dihukum jika tidak mampu mengatasi situasi dengan baik.
Kejadian serupa terjadi saat melawan Wolves, meskipun Liverpool menang 2-1. Satu-satunya gol Wolves yang dicetak oleh Santiago Bueno karena berada bebas di mulut gawang Liverpool. Lima pemain The Reds yang berada di kotak penalti gagal menutup ruang Bueno dengan baik, sehingga ia leluasa menceploskan bola ke gawang Alisson.
Masalah ini juga terjadi saat melawan Leeds United di awal Desember. Laga tersebut berakhir dengan skor 3-3. Ao Tanaka mencetak gol dari skema tendangan penjuru yang melambung, karena ia berada bebas tanpa kawalan di tiang jauh. Gol tersebut tercipta di penghujung waktu tambahan babak kedua, yang membuat Liverpool kehilangan kesempatan membawa pulang 3 poin.
Solusi yang Diharapkan
Dengan pemecatan Aaron Briggs, Arne Slot diharapkan dapat menyadari apa yang menjadi penyebab timnya sering kebobolan sejauh ini. Salah satu masalah utamanya adalah lemahnya antisipasi terhadap bola mati.
Jika kondisi ini tidak segera dicarikan solusi, baik dengan mendatangkan pelatih set-piece baru atau memperkuat lini pertahanan, Liverpool berada dalam kondisi yang rentan.
Bola mati bukan hanya sekadar pelengkap di masa sekarang. Justru sebaliknya, kondisi ini bisa memberikan keuntungan jika berhasil dimanfaatkan dengan baik. Arsenal adalah salah satu contoh yang sukses dalam hal ini. Dalam lima laga terakhir mereka, setidaknya ada 4 gol bunuh diri dari pemain lawan.
Selain itu, Liverpool tidak hanya lemah dalam mengantisipasi peluang lawan, tetapi juga dalam mengkonversikan peluang dari skema bola mati. Statistik yang mengkhawatirkan menunjukkan bahwa tim ini masih butuh perbaikan signifikan dalam hal ini.











