TEHERAN,
Pada dini hari Jumat, 13 Juni 2025, langit Teheran tiba-tiba dihiasi oleh ledakan yang menggelegar. Bukan hanya satu, melainkan beberapa ledakan beruntun yang mengguncang kota. Langit yang sebelumnya gelap berubah menjadi merah menyala akibat cahaya api dan kepulan asap tebal. Suara jet-jet tempur yang terbang rendah menambah kekacauan, memperparah rasa takut warga.
Warga bergegas keluar dari rumah mereka. Beberapa mencari perlindungan darurat, sementara lainnya berusaha menyelamatkan anggota keluarga. Ledakan tersebut tidak hanya mengguncang Teheran, tetapi juga menyerang instalasi militer dan fasilitas nuklir strategis Iran di berbagai wilayah. Pejabat Iran langsung menyadari bahwa serangan itu berasal dari musuh bebuyutan mereka. Perang terbuka antara Iran dan Israel pun tak lagi bisa dihindari.
Awal Perang
Serangan Israel pada malam itu melibatkan lebih dari 200 jet tempur yang menghancurkan lebih dari 100 target, termasuk fasilitas nuklir, instalasi militer, dan kawasan permukiman di Iran. Serangan ini menewaskan sejumlah ilmuwan nuklir dan komandan militer penting. Israel menyatakan bahwa operasi tersebut bernama Rising Lion dan bertujuan untuk menghentikan kemampuan nuklir dan militer Iran. Namun, bagi warga sipil, malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang berlangsung hampir dua minggu.
Iran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke berbagai kota di Israel. Serangan balasan ini menandai dimulainya perang saling serang antara kedua negara, yang berlangsung selama 12 hari berturut-turut. Wilayah Tel Aviv dan Haifa menjadi sasaran utama. Beberapa rudal berhasil menembus sistem pertahanan Israel dan menghantam kawasan permukiman.
Di tengah kekacauan, jutaan warga Iran memilih meninggalkan Teheran dan kota-kota besar lainnya. Arus kendaraan mengalir ke arah provinsi-provinsi utara yang berbatasan dengan Laut Kaspia. Sekitar sembilan juta orang dilaporkan meninggalkan kota-kota besar, menjadikan eksodus ini salah satu yang terbesar dalam sejarah konflik modern Iran.
Jual-Beli Serangan
Lembaga pemeriksa fakta Sanad mencatat bahwa Israel meluncurkan sedikitnya 145 serangan udara ke Iran. Namun, data dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) menunjukkan angka yang lebih tinggi, yaitu sedikitnya 508 serangan udara oleh militer Israel. Serangan-serangan ini menyasar fasilitas militer, nuklir, serta infrastruktur strategis Iran.
ACLED juga mencatat bahwa Iran menyerang Israel setidaknya 120 kali menggunakan rudal balistik dan drone. Militer Israel menyebut bahwa Iran meluncurkan hingga 1.000 rudal dan drone selama konflik. Meski demikian, sekitar 90 persen serangan berhasil dicegat dengan bantuan Amerika Serikat (AS). Salah satu serangan paling signifikan menghantam Soroka Medical Center dan menyebabkan puluhan orang terluka. Target lain mencakup Sekolah Intelijen Militer Israel, Kementerian Dalam Negeri di Haifa, Weizmann Institute of Science, serta kilang minyak dan pembangkit listrik.
AS Terseret Perang
Setelah sempat mengecam keras, AS akhirnya terseret dalam pusaran perang Iran-Israel. AS berada di sisi Israel. Pemerintahan Donald Trump memilih terlibat langsung setelah Israel dinilai tidak mampu menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah. Pada 22 Juni 2025, AS meluncurkan serangan bunker-buster ke fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Fasilitas Fordow yang berada di bawah gunung menjadi target utama dengan penggunaan bom GBU-57 A/B yang dijatuhkan bomber siluman B-2. Laporan awal Badan Intelijen Pertahanan AS menilai bahwa Iran telah memindahkan sebagian besar stok uranium yang diperkaya sebelum serangan. Laporan tersebut menyebut serangan hanya menunda kemampuan nuklir Iran selama beberapa bulan. Direktur CIA John Ratcliffe kemudian menyatakan kerusakan fasilitas nuklir Iran sangat parah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.
Iran tidak terima dan membalas dengan meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang menjadi markas pasukan AS. Iran disebut telah memberi peringatan terlebih dahulu kepada Qatar dan AS. Meski demikian, serangan itu tidak menimbulkan korban dan dinilai bersifat simbolis.
Gencatan Senjata
Pada 24 Juni 2025, setelah pertempuran selama 12 hari, Trump tiba-tiba mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel. Kesepakatan itu mencakup penghentian serangan selama 12 jam oleh Iran, diikuti 12 jam penghentian oleh kedua pihak. Meski pelanggaran awal menewaskan 16 orang di Iran dan empat orang di Israel, gencatan senjata tetap bertahan di bawah tekanan AS.
Korban Berjatuhan
Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran mencatat ribuan warga terdampak akibat konflik yang berlangsung cepat dan brutal. Hingga 24 Juni 2025, jumlah korban luka di Iran mencapai 4.746 orang, termasuk 185 perempuan. Korban meninggal tercatat sebanyak 610 orang, terdiri atas 49 perempuan dan 13 anak-anak, dengan korban termuda berusia dua bulan.
Tiga tokoh utama militer Iran yakni Mayor Jenderal Hossein Salami, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, dan mantan Kepala Dewan Keamanan Nasional Ali Shamkhani dilaporkan tewas. Serangan juga merusak fasilitas kesehatan dengan sembilan ambulans, tujuh rumah sakit, empat unit layanan kesehatan, serta enam pangkalan darurat mengalami kerusakan. Sebanyak 20 tenaga kesehatan dilaporkan terluka dan lima orang meninggal dunia saat menjalankan tugas.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Israel mencatat hingga 24 Juni 2025 sebanyak 3.238 orang terluka atau dirawat di rumah sakit. Jumlah korban meninggal di Israel tercatat 28 orang. Rudal yang lolos dari sistem pertahanan menghantam apartemen dan kawasan permukiman di Tel Aviv dan Haifa. Banyak keluarga menghabiskan hampir seluruh 12 hari konflik di ruang aman rumah atau bunker umum.











