"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Demo besar mengguncang Iran, apa penyebabnya?



Protes Besar di Iran Tewaskan Lima Orang, Kondisi Ekonomi Jadi Pemicu Utama

Unjuk rasa besar-besaran terjadi di berbagai wilayah di Iran, dengan setidaknya lima orang meninggal dunia akibat kerusuhan yang muncul. Protes ini menunjukkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang semakin memburuk, yang dipicu oleh sanksi-sanksi dari negara-negara Barat.

Menurut laporan dari kantor berita semi-resmi Fars, tiga orang tewas dan 17 lainnya cedera dalam protes di kota Azna, provinsi Lorestan, sekitar 300 km barat daya Teheran. Video online menunjukkan benda-benda terbakar di jalan dan suara tembakan saat demonstran berteriak “Tak tahu malu!” Sebelumnya, dua orang tewas dalam protes di kota Lordegan, provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, sekitar 470 km selatan ibu kota.

Pengunjuk rasa mulai melemparkan batu ke gedung-gedung pemerintah, termasuk kantor gubernur provinsi, masjid, Yayasan Martir, balai kota, dan bank. Polisi merespons dengan menggunakan gas air mata. Video online juga menunjukkan para demonstran berkumpul di jalan sambil mendengar suara tembakan. Selain itu, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa seorang anggota pasukan keamanan tewas dalam protes di kota Kouhdasht, bagian barat.

“Seorang anggota Basij berusia 21 tahun dari kota Kouhdasht dibunuh tadi malam oleh perusuh saat membela ketertiban umum,” kata saluran tersebut, mengutip Said Pourali, wakil gubernur provinsi Lorestan.

Kerusuhan ini terjadi pada masa yang kritis bagi Iran, ketika sanksi-sanksi Barat memperparah situasi ekonomi yang telah dilanda inflasi sebesar 40 persen. Hal ini terjadi setelah serangan udara oleh Israel dan Amerika Serikat pada bulan Juni yang menargetkan infrastruktur nuklir dan kepemimpinan militer negara tersebut.

Sanksi ekonomi terbaru Uni Eropa diluncurkan pada September lalu, yang mencakup pembekuan aset bank Iran, larangan bisnis, pembatasan perjalanan, dan pembatasan pergerakan barang. Sanksi ini dikeluarkan karena tuduhan bahwa pemerintah Iran “melanjutkan upaya pengayaan uranium untuk tujuan nonsipil.” Iran secara berulang menyangkal tudingan ini.

Uni Eropa sebelumnya sempat melonggarkan sanksi pada 2015, tetapi kini kembali memberlakukan kebijakan keras setelah tindakan Perancis, Jerman, dan Inggris pada akhir Agustus. Inflasi belakangan melonjak di atas 42 persen, dengan peningkatan harga pangan dan barang penting yang pesat. Bahkan kelompok-kelompok pendukung rezim pun mengakui kesulitan ekonomi yang terjadi.

Harga pangan naik 72 persen dan barang-barang kesehatan meningkat 50 persen dibandingkan Desember tahun lalu. Mata uang Iran mencapai titik terendah baru, dengan satu dolar AS diperdagangkan sekitar 1,4 juta rial. Meskipun nilai tukar sedikit membaik menjadi 1,35 juta rial, para ekonom memperingatkan bahwa tren penurunan akan terus berlanjut.

Mohammad Kohandal, seorang analis ekonomi, menyatakan bahwa pengendalian inflasi adalah kunci untuk menstabilkan nilai tukar. “Selama inflasi masih menjadi masalah kronis, mengharapkan nilai tukar stabil adalah hal yang tidak realistis,” katanya kepada Kantor Berita Tasnim.

Aljazirah melaporkan bahwa pemerintah Iran lebih hati-hati dalam menangani protes minggu ini dibandingkan demonstrasi sebelumnya. Iran terakhir kali dilanda demonstrasi massal pada 2022 dan 2023 setelah kematian Mahsa Amini, seorang wanita berusia 22 tahun yang meninggal dalam tahanan polisi.

Protes terbaru dimulai secara damai di Teheran dan menyebar setelah mahasiswa dari 10 universitas bergabung pada hari Selasa. Presiden Iran Masoud Pezeshkian berusaha meredakan ketegangan dengan mengakui “tuntutan sah” para pengunjuk rasa dan menyerukan pemerintah mengambil tindakan untuk memperbaiki situasi ekonomi.

“Dari sudut pandang Islam… jika kita tidak menyelesaikan masalah penghidupan masyarakat, kita akan berakhir di neraka,” kata Pezeshkian dalam acara yang disiarkan di televisi pemerintah.

Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani mengatakan bahwa pihak berwenang akan mengadakan dialog langsung dengan perwakilan serikat pekerja dan pedagang, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Meski begitu, pihak berwenang telah berjanji untuk mengambil sikap “tegas” dan memperingatkan agar tidak mengeksploitasi situasi untuk menimbulkan kekacauan.

“Setiap upaya untuk mengubah protes ekonomi menjadi alat ketidakamanan, penghancuran properti publik, atau penerapan skenario yang dirancang secara eksternal pasti akan ditanggapi dengan respons yang sah, proporsional dan tegas,” kata jaksa agung Iran pada hari Rabu.

Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan penangkapan tujuh orang yang digambarkan berafiliasi dengan “kelompok musuh Republik Islam yang berbasis di Amerika Serikat dan Eropa”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *