"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Pertambangan Emas Ilegal Ancam Warga, Polres Mitra Siap Lakukan Pemeriksaan

Potensi Bahaya Aktivitas PETI di Jalur Soyoan-Ratatotok

Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berada tepat di atas jalan penghubung Desa Soyowan menuju Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), kian meresahkan masyarakat. Keberadaan PETI tersebut dinilai sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan dan berpotensi menimbulkan bencana serius.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa lokasi PETI tersebut diketahui milik seorang pengusaha hotel asal Ratatotok berinisial MS alias Maya. Keberadaan PETI di Jalur Soyoan-Ratatotok ini dinilai berada di kawasan rawan longsor. Selain itu, jalur tersebut setiap harinya selalu ramai dilalui masyarakat.

“Kami tiap hari lewat di jalur ini, aktivitas PETI ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan longsor,” tegas Rani, salah seorang warga Soyoan, Jumat, 9 Januari 2026. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama saat musim hujan. Karena aktivitas penggalian dan penggunaan alat berat dapat memperlemah struktur tanah disekitar jalan.

Warga menilai, jika aktivitas PETI terus dibiarkan tanpa pengawasan dan penindakan tegas, bukan tidak mungkin akan terjadi longsor yang dapat memutus akses jalan bahkan memakan korban jiwa. “Ini bukan cuma soal tambang ilegal, tapi soal nyawa orang banyak,” ujar Arvi Rantung, warga lainnya. “Jalan ini akses utama warga, kalau sampai longsor siapa yang tanggung jawab?” tegasnya lagi.

Masyarakat pun mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk segera turun tangan, melakukan penertiban, serta menutup aktivitas PETI yang berada di lokasi berbahaya tersebut. Mereka berharap penegakan hukum dilakukan tanpa pandang bulu demi keselamatan dan kepentingan publik.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mitra AKP Lutfi Arinugraha Pratama mengatakan akan melakukan pengecekan dalam waktu dekat. “Dalam waktu dekat pasti kami cek, karena sekarang kami masih fokus cari pelaku kericuhan yang kemarin,” tegasnya.

Kasus Penembakan di Tambang Ilegal Wilayah Mitra

Sebelumnya diketahui, kasus penembakan terjadi lagi di lokasi PETI Kebun Raya, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Mitra. Berdasarkan kesaksian pihak korban, terungkap bahwa mereka memang diserang oleh para pelaku. Peristiwa berdarah itu terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025 lalu.

Empat orang jadi korban. Tiga meninggal. Satu kritis hingga dilarikan ke RS Prof Kandou kesokan harinya, Minggu (21/12/2025). Korban meninggal yakni Safrudin Makalalag warga Borgo Satu, Mawandi Lakamunte, warga Basaan Satu, dan Fathan Kalipe warga Belang. Korban kritis, seorang perempuan bernama Anisa Mamonto (57), warga Belang, Kabupaten Mitra.

Yamin, suami dari Anisa Mamonto, saat diwawancarai wartawan Tribun Manado di RS Kandouw menuturkan kronologis penembakan hingga menyebabkan tiga rekannya meninggal dan istrinya kritis. Ia mengaku sudah dapat ancaman sehari sebelumnya. “Ada yang katakan nanti ada kado,” katanya. Pada Sabtu siang, datang sekelompok orang menyerang daseng tempat mereka.

Melihat tembakan deras dan rekan-rekannya diburu, ia sempat keluar dan mengangkat tangan. “Saya katakan di sini ada perempuan,” kata dia. Tapi tembakan terus berdatangan. Saat tengah berlindung, dirinya mendengar suara seorang rekannya. “Dia katakan saya kena, dan dia akhirnya wafat,” kata dia. Sibuk mengurus rekannya, Yamin belakangan sadar sang istri tertembak. Dibekapnya sang istri. “Saya lantas teriak, istri saya kena dan mereka pun teriak bawa saja,” katanya.

Hujan turun tak berapa lama setelah serangan itu. Dia pun menggendong sang istri yang sudah terluka di tengah hujan deras. Mengenai para penyerang, ia melihat ada di antara mereka bawa semacam tabung dan benda mirip teleskop. Ia mengaku juga tertembak di dada. “Tapi tak luka serius,” kata dia. Ia mengatakan, Bupati Mitra membantu biaya pengobatan istrinya. “Dari pak Bupati membantu biaya pengobatan istri saya,” katanya. Ia berharap para pelaku penembakan dapat ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *