"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Puluhan korban tertimbun di longsoran gunung sampah 20 lantai



CEBU,

Gunung sampah setinggi gedung 20 lantai di Kota Cebu, Filipina, mengalami ambruk pada Kamis (8/1/2026), menimpa sebanyak 50 orang yang berada di bawahnya.

Tim penyelamat kini sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan para korban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Binaliw. Hingga saat ini, dari 50 orang yang terkubur, enam korban tewas, 32 hilang, dan 12 orang berhasil diselamatkan.

Menurut anggota Dewan Kota Cebu, Dave Tumulak, tumpukan sampah yang ambruk diperkirakan setinggi 20 lantai. “Dua jenazah lagi ditemukan hari ini, tetapi kami belum bisa mengevakuasi karena tertimpa balok logam berat,” ujarnya kepada AFP, Sabtu (10/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa proses evakuasi terkendala oleh material logam besar yang menimpa korban. Untuk mempercepat upaya penyelamatan, sebanyak 20 truk dilengkapi derek hidrolik dan alat pemotong khusus telah dikerahkan ke lokasi. “Tim penyelamat kami kesulitan karena balok-balok logamnya besar. Dengan truk-truk itu, logam bisa diangkat dan tim dapat menavigasi lokasi dengan lebih efisien,” tambah Tumulak.

Ia menegaskan bahwa operasi penyelamatan dilakukan tanpa henti. “Kami berharap dapat menyelamatkan sebanyak mungkin orang yang masih hidup. Kami berpacu dengan waktu, itulah mengapa pengerahan kami 24/7,” ungkapnya.

Hingga saat ini, 12 pekerja yang ditemukan dalam keadaan hidup telah dirawat di rumah sakit. Sementara itu, kru penyelamat dari Cebu, Jo Reyes, menyebutkan bahwa operasi pencarian masih berlangsung, tetapi sempat terhenti karena pergerakan sampah berisiko menyebabkan longsoran susulan. “Tempat pembuangan ini terus bergerak, dan membuat operasi berhenti sementara,” ucapnya.

Keluarga Korban Harap-Harap Cemas

Di tengah pencarian yang penuh risiko, puluhan keluarga korban menanti kabar di sekitar lokasi kejadian. “Kami berharap sepenuh hati dan berdoa untuk keajaiban,” ujar anggota dewan kota lainnya, Joel Garganera. Ia menyebut kondisi tumpukan sampah di lokasi itu mengkhawatirkan. Menurutnya, ketinggian sampah bisa mencapai 20 lantai, dan ketika hujan turun, area tersebut semakin rawan longsor.

“Sesekali, ketika hujan, terjadi tanah longsor di sekitar Kota Cebu… Betapa lebih berbahayanya (itu) untuk tempat pembuangan sampah atau gunung yang terbuat dari sampah?” ujarnya. Garganera menambahkan, limbah padat yang menumpuk di sana menyerap air seperti spons, dan membuat struktur semakin tidak stabil. “Tidak perlu menjadi seorang ahli roket untuk mengatakan bahwa pada akhirnya, insiden itu akan terjadi,” katanya.

Ia juga menyebutkan, sejumlah pengemudi truk sampah sedari lama mengeluhkan jalan curam menuju puncak yang berbahaya. Foto-foto yang dirilis kepolisian memperlihatkan tumpukan sampah menjulang di atas perbukitan, tepat di belakang bangunan administrasi. Menurut Garganera, beberapa korban yang tertimbun tinggal di kompleks perumahan staf di area gunung sampah. “Ini pukulan ganda bagi Kota Cebu,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa TPA tersebut merupakan satu-satunya fasilitas yang memproses 1.000 ton sampah padat setiap hari untuk Cebu dan sekitarnya.

Hingga kini, operator TPA tersebut, Prime Integrated Waste Solutions, belum memberikan tanggapan atas insiden tersebut. Seorang operator mesin pemadat, Rita Cogay (49), menjadi salah satu saksi mata saat bencana terjadi. “Saya pikir ada helikopter yang datang,” kenangnya. “Terdengar suara benturan keras, tetapi ketika saya menoleh, yang terlihat adalah sampah dan bangunan ambruk,” ucapnya. Ia selamat karena saat itu sedang keluar untuk minum.

Proses pencarian dan penyelamatan diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, di tengah kondisi gunung sampah yang labil dan potensi bahaya longsor susulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *